Taneyan Lanjheng: Kearifan Lokal Madura dalam Bingkai Ekoteologi dan Ekonomi Berkelanjutan

Opini114 views

Oleh: Dr. Ahmad Fakhruruji, S.E., M.Ak, Perencana Ahli Muda UIN Madura.

Taneyan Lanjheng merupakan filosofi tata ruang dan kehidupan sosial masyarakat Madura yang tidak sekadarberfungsi sebagai pola permukiman, melainkan sebagai sistemnilai yang memadukan dimensi kosmologis, ekologis, ekonomi, dan spiritual. Dalam struktur Taneyan Lanjheng, rumah-rumahkeluarga besar disusun memanjang dengan orientasi tertentu, berbagi halaman, sumber daya, serta aktivitas ekonomi dan sosial secara kolektif. Pola ini mencerminkan relasi manusiadengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia denganTuhan dalam satu kesatuan etis yang harmonis.

Namun, di tengah arus modernisasi, urbanisasi, dan penetrasi ekonomi linear yang eksploitatif, filosofi TaneyanLanjheng mengalami erosi makna. Tanah yang dahulu dipahamisebagai ruang hidup bersama kini direduksi menjadi komoditasekonomi, relasi ekologis yang bersifat timbal balik bergesermenjadi relasi instrumental. Akibatnya, krisis ekologis, disintegrasi sosial, dan melemahnya solidaritas komunalmenjadi gejala nyata, tidak hanya di Madura tetapi juga dalamkonteks global.

Dalam perspektif ekoteologi, Taneyan Lanjhengmerepresentasikan praktik teologis yang membumi. Nasr menegaskan bahwa krisis lingkungan pada hakikatnya adalahkrisis spiritual, manusia modern kehilangan kesadaran sakralterhadap alam. Taneyan Lanjheng, dengan prinsip kebersamaan, kesederhanaan, dan penghormatan terhadap ruang hidup, sejatinya mempraktikkan pandangan alam sebagai ayat-ayatTuhan yang harus dijaga, bukan dieksploitasi. Hal ini sejalandengan gagasan ekoteologi Islam yang menempatkan manusiasebagai khalifah fil ardh dengan mandat etis, bukan dominatif.

Sementara itu, dari sudut pandang ekonomi sirkular, Taneyan Lanjheng memperlihatkan model ekonomi lokal yang berbasis keberlanjutan jauh sebelum istilah tersebut populer. Aktivitas ekonomi keluarga dalam satu taneyan, seperti berbagihasil pertanian, pemanfaatan limbah organik, sirkulasi sumberdaya lokal, dan minimasi konsumsi berlebih, mencerminkanprinsip reduce, reuse, recycle secara kultural. Karl menegaskanbahwa ekonomi tradisional bersifat embedded dalam relasisosial dan moral. Taneyan Lanjheng menjadi contoh konkretekonomi yang tertanam dalam etika komunitas, bukan pasar bebas yang terlepas dari nilai.

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

Lebih jauh, pemikiran Amartya Sen tentang capability approach dapat dibaca dalam konteks Taneyan Lanjheng, di mana kesejahteraan tidak diukur semata oleh akumulasi materi, tetapi oleh kemampuan kolektif untuk hidup bermartabat, berelasi, dan menjaga keberlanjutan generasi. Demikian pula, pandangan Capra tentang sistem kehidupan menegaskan bahwakeberlanjutan hanya mungkin tercapai jika sistem sosial dan ekologis dipahami sebagai jaringan yang saling terkait, sebuahprinsip yang telah lama hidup dalam struktur Taneyan Lanjheng.

Taneyan Lanjheng dalam hal ini, bukan sekadar bentukfisik permukiman tradisional Madura, melainkan institusi sosialyang merepresentasikan cara masyarakat mengorganisasi relasikuasa, solidaritas, produksi, dan distribusi sumber daya. Durkheim menyebut struktur sosial semacam ini sebagaiekspresi solidaritas mekanik, di mana ikatan komunal, kesadaran kolektif, dan nilai moral bersama menjadi fondasiketeraturan sosial. Taneyan Lanjheng berfungsi sebagai ruangreproduksi nilai, tempat etika hidup, norma ekologis, dan tanggung jawab antar generasi diwariskan secara praksis, bukansekadar diskursif.

Namun, transformasi masyarakat menuju modernitas lanjut(late modernity) sebagaimana dikemukakan Giddens telahmendorong terjadinya disembedding, terlepasnya relasi sosialdari konteks lokal dan ekologisnya. Taneyan Lanjheng yang semula menjadi ruang integratif kini terfragmentasi oleh logikaindividualisme, kapitalisme ekstraktif, dan perumahan modern yang memisahkan manusia dari komunitas serta alam. Ulrich menyebut situasi ini sebagai risk society, di mana masyarakatjustru memproduksi risiko ekologis dan sosial melaluirasionalitas pembangunan itu sendiri.

Sementara pendekatan maqāṣid al-syarī‘ah memberikankerangka normatif yang relevan untuk membaca kembaliTaneyan Lanjheng sebagai sistem kehidupan berkelanjutan. Prinsip penjagaan agama (ḥifẓ al-dīn), jiwa (ḥifẓ al-nafs), akal(ḥifẓ al-‘aql), keturunan (ḥifẓ al-nasl), dan harta (ḥifẓ al-māl) tidak berdiri secara parsial, melainkan saling terkait dalam satuekosistem kehidupan. Taneyan Lanjheng, dengan sistemkebersamaan, perlindungan ruang hidup, dan ekonomi berbasiskebutuhan, secara praksis telah menjalankan maqāṣid tersebutdalam bentuk yang kontekstual dan kultural.

Lebih jauh, perkembangan pemikiran maqāṣidkontemporer, seperti yang dikemukakan Jasser Auda, menekankan dimensi systems thinking, keterhubungan, dan keberlanjutan. Dalam kerangka ini, Taneyan Lanjheng dapatdibaca sebagai model maqāṣid ekologis, di mana penjagaankehidupan tidak hanya dimaknai secara antropo-sentris, tetapijuga bio-sentris dan kosmo-sentris. Kerusakan lingkungan, bukan sekadar persoalan teknis, melainkan kegagalan dalammerealisasikan tujuan syariat itu sendiri.

Konsep khalīfah fil arḍ memperkuat landasan teologis-sosiologis ini, dimana manusia dalam Islam, bukan pemilikabsolut bumi, melainkan pengelola yang bertanggung jawabsecara moral dan spiritual. Ibn Khaldun dalam Muqaddimahnya, menegaskan bahwa kehancuran peradaban (umrān) selaludiawali oleh kerusakan moral dan ketidakadilan dalam relasimanusia dengan sumber daya alam. Taneyan Lanjheng, sebagaisistem sosial berbasis kontrol moral kolektif, berfungsimencegah akumulasi berlebihan, eksploitasi sepihak, dan ketimpangan ekologis.

Taneyan Lanjheng, juga mencerminkan ekonomi yang embedded, di mana aktivitas produksi dan konsumsi terikat oleh nilai agama, kekerabatan, dan etika ekologis. Pola berbagisumber daya, pemanfaatan ulang material, serta siklus produksilokal menunjukkan kesesuaian kuat dengan prinsip ekonomisirkular, yang kini dipromosikan sebagai solusi global atas krisisiklim dan limbah. Dengan demikian, Taneyan Lanjheng bukanwarisan masa lalu, melainkan pengetahuan alternatif bagi masa depan.

Dengan demikian, kajian tentang filosofi Taneyan Lanjhengmenjadi sangat relevan dan mendesak, bukan sekadar sebagaiupaya pelestarian budaya lokal, tetapi sebagai tawaran epistemikdan praksis alternatif terhadap krisis ekologis dan ekonomiglobal. Mengkaji Taneyan Lanjheng dalam bingkai ekoteologidan ekonomi sirkular membuka ruang rekonstruksi pengetahuanyang mengintegrasikan kearifan lokal, etika spiritual, dan inovasi keberlanjutan. Hal ini diharapkan mampu menjembatanitradisi dan modernitas, lokalitas dan globalitas, serta iman dan praksis ekologis dalam satu horizon keilmuan yang transformatif.

Oleh karena itu, mengkaji Taneyan Lanjheng sebagaimodel integratif antara struktur sosial, maqāṣid al-syarī‘ah, dan mandat kekhalifahan manusia menjadi tantangan terdiri pada era saat ini. Sehingga mampu menghadirkan kontribusi teoretis bagistudi keberlanjutan, dan sekaligus menawarkan basis kebijakandan pendidikan berbasis kearifan lokal yang berorientasi pada keadilan sosial dan keberlanjutan ekologis.

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *