Tiga dari 10 Penyakit Mendominasi Penyebab Kematian di Pamekasan

Kesehatan, Berita126 views

KABAR MADURA | Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan mencatat tiga penyakit mendominasi angka kematian pada 2024. Dari sepuluh penyakit penyebab kematian terbanyak, heart failure (gagal jantung), diabetes mellitus (Kencing Manis), dan intracerebral haemorrhage (stroke pendarahan) menempati urutan tertinggi.

Kepala Dinkes Pamekasan, dr. Saifuddin memaparkan, pada tahun 2024, berdasarkan data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) Online, gagal jantung menjadi penyebab kematian terbanyak dengan 200 kasus. Disusul diabetes mellitus dengan 167 kematian, serta stroke perdarahan otak dengan 121 kematian.

Adapun untuk jumlah kematian di 2025 sejauh ini masih dilakukan olah data oleh pihaknya. Namun sejauh ini,  terdapat 10 penyakit masih cukup dominan dengan menjadi penyebab angka kematian.

10 penyakit penyebab kematian tertinggi yang, diantaranya heart failure, diabetes mellitus, intracerebral haemorrhage-unspecified, STEMI dan NSTEMI miocard infarct, secondary hypertension, acidosis, other preterm infants, cerebral infarction, unspecified, chronic kidney disease, dan  septicaemia-unspecified. 

Baca Juga:  Kasus Penolakan Ambulans Antar Jenazah, Keluarga Korban Bongkar Fakta Berbeda dari Pernyataan Kadinkes Pamekasan

“Data ini menjadi peringatan serius bagi kita semua. Untuk menjadi perhatian, karena penyakit tersebut bisa dicegah, asal komitmen dan peduli terhadap diri sendiri, dalam rangka untuk berperilaku hidup bersih dan sehat,” paparnya, Rabu (21/8/2025). 

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

Selain tiga penyakit tersebut, data juga menunjukkan penyakit jantung serangan akut (STEMI dan NSTEMI) dengan 99 kematian, hipertensi sekunder 75 kasus, hingga asidosis sebanyak 74 kasus. Bahkan, tingkat kematian pada kasus asidosis tercatat paling tinggi dengan case fatality rate (CFR) mencapai 75,51 persen.

Baca Juga:  Viral Dugaan Berulat, Hasil Uji Lab Nyatakan Susu MBG SPPG Kemala Bhayangkari Aman Dikonsumsi 

Diakuinya, tingginya angka kematian tersebut sangat dipengaruhi pola hidup masyarakat. Mulai gaya hidup, pola makan, serta rendahnya kesadaran untuk melakukan pemeriksaan dini dinilai sangat berpengaruh. Padahal deteksi dan penanganan dini dapat mencegah risiko kematian.

Pihaknya berkomitmen memperkuat program promotif dan preventif, daripada kuratif, di antaranya dengan mengintensifkan skrining kesehatan, kampanye pola makan sehat, dan pengendalian faktor risiko. 

“Jadi kami perbanyak edukasi, bahwa ada perilaku yang perlu diubah, misalnya penyakit gagal jantung kan disebabkan darah tinggi, makanya darah tingginya ini dikelola, caranya gaya hidupnya yang bagus,” pungkasnya. (rul/ong)

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *