Tradisi Jamasan Keris Sumenep Akan Masuk Kalender Budaya Internasional

Berita, Ragam38 views

KABAR MADURA | Tradisi jamasan keris yang digelar setiap tahun di Desa Aeng Tong-Tong, Sumenep, bakal naik kelas. Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo menegaskan komitmennya agar ritual sakral ini tidak sekadar jadi tontonan lokal, tapi bisa menembus kalender budaya internasional. 

Hal itu disampaikan langsung Bupati Fauzi saat menghadiri prosesi jamasan keris pada Rabu (2/7/2025). Dia menyebut, pelestarian tradisi yang dilakukan secara konsisten selama tiga tahun terakhir menjadi landasan kuat untuk mendorong pengakuan dari dunia internasional.

“Jamasan bukan hanya ritual cuci keris, tapi punya nilai sejarah panjang, bahkan pernah mengalami pelarangan di masa tertentu. Ini yang ingin kami angkat agar dunia tahu bahwa keris adalah warisan budaya penuh makna,” kata dia.

Bupati juga menyoroti pentingnya regenerasi empu keris sebagai bagian dari pelestarian budaya. Secara simbolis, dia membeli sebuah keris buatan pemuda 20 tahun sebagai bentuk dukungan terhadap keterlibatan generasi muda dalam dunia perkerisan.

“Bukan pamornya yang saya beli, tapi semangat anak mudanya. Kita perlu dorong regenerasi empu, agar keris tidak hanya dikenang, tapi terus hidup,” imbuhnya.

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

Langkah nyata lainnya adalah mewajibkan partisipasi pelajar SD hingga SMA dalam setiap kegiatan budaya di Sumenep, termasuk jamasan keris. Bupati Fauzi menyebut, edukasi sejak dini menjadi kunci dalam menjaga eksistensi budaya di tengah arus modernisasi.

“Anak-anak tidak bisa mencintai sesuatu yang tidak mereka kenal. Maka, melibatkan mereka langsung adalah bagian dari strategi edukasi budaya,” ujarnya. 

Tidak hanya mengandalkan pelestarian tradisional, Fauzi juga menyadari pentingnya masuk ke ranah digitalisasi. Sejak tiga tahun terakhir, pemasaran keris mulai merambah ke platform online. Meski begitu, dirinya mengakui ada tantangan besar karena sebagian besar pembeli keris pusaka masih menginginkan interaksi fisik dengan barang yang dibeli. 

“Keris bukan sekadar benda, tapi ada filosofi dan rasa. Pembeli pusaka biasanya ingin lihat langsung pakem, pamor, dapur, dan bentuknya. Ini tantangan kita di dunia digital,” jelasnya. 

Namun, Fauzi optimistis bahwa kombinasi antara pelestarian langsung dan inovasi digital akan membawa tradisi keris makin dikenal di kancah global. 

“Yang terpenting, budaya kita tidak hanya bertahan, tapi berkembang, dikenal dunia, dan diwariskan kepada generasi mendatang,” pungkasnya. (ara/waw)

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *