KABAR MADURA | Pada awal tahun 2024 terdapat 20 Pekerja Migran Indonesia (PMI) legal yang telah mengadu nasib di luar negeri. Hal tersebut dikarenakan faktor ekonomi dan minimnya lapangan pekerjaan, sehingga masayarakat memilih merantau ke tempat-tempat yang memilki prospek ekonomi lebih tinggi.
Kepala Bidang (Kabid) Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dinas Koperasi Usaha kecil Menengah dan Ketenagakerjaan (Diskop UKM dan Naker) Pamekasan Ali Syahbana mengatakan, terdapat 20 orang yang telah berangkat ke beberapa negara.
Rinciannya, ke Malaysia 14 orang, Singapura satu orang, Arab Saudi dua orang, Taiwan dua orang, dan Kuwait satu orang. Seluruh PMI itu dipastikan berangkat menjadi TKI secara legal.
“Kesadaran masyarakat sepertinya sudah meningkat dari sebelum-sebelumnya untuk berangkat secara legal, karena cerita PMI yang dideportasi menjadi pembelajaran tersendiri bagi mereka,” jelasnya kepada Kabar Madura, Selasa (20/2.2024).
Dikatakan Ali, PMI yang berangkat sebelumnya telah dibekali pelatihan teknis dari perusahaan masing-masing dan orientasi. Ia menyebut, instansinya memang tidak memfasilitasi itu sebab tidak ada anggarannya.
Kendati demikian, pihaknya hanya memfasilitasi pelatihan bagi PMI yang telah putus kontrak. Hal itu bertujuan untuk memberikan pembekalan bagi PMI dalam mencari peluang membuka usaha secara mandiri.
Namun dalam realisisnya terbatas. Sebab hanya bisa menyesuaikan dengan anggaran yang tersedia. Tahun ini, dinasnya hanya mendapatkan Rp50 juta untuk merealisasikan dua kali pelatihan.
“Sekarang masih proses pendataan PMI yang sudah pulang di tahun lalu. Jenis pelatihannya, disesuiakan dengan yang sekiranya paling banyak diminati,” jelasnya.
Sementara itu, warga asal Waru, Nursofiyah mengatakan, pihaknya belum pernah mendapat pelatihan khusus mantan PMI tersebut. Menrut dia, jika memang ada, dalam realisasinya harus merata dan menyeluruh ke semua mantan PMI. Sebab hal itu bisa membantu PMI dalam menghasilkan pendapatan tanpa merantau kembali.
“Saya tidak dapat informasi apa-apa soal pelatihan khusus mantan PMI. Setelah pulang dari Malaysia, ya udah tidak ada konfirmasi apa-apa dari dinas. Jika memang program itu memang ada, saya rasa cukup bagus, tapi realisasinya harus merata,” terangnya.
Pewarta: Safira Nur Laily
Redaktur: Miftahul Arifin





