KABAR MADURA | Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep mencanangkan program makanan tambahan (PMT) untuk ibu hamil atau bumil dan balita stunting.
Anggota Komisi IV DPRD Sumenep Sami’oeddin menekankan agar program tersebut segera direalisasikan dan fokus lokasinya diutamakan di daerah rawan stunting.
“Kami meminta kegiatan PMT segera dilaksanakan,” ujarnya, Senin (27/5/2024).
Namun, politikus asal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu tidak dapat merinci daerah mana saja yang rawan stunting di Sumenep. Dia hanya mencontohkan salah satu daerah yang rawan stunting, yakni Desa Tambak Sari, Kecamatan Rubaru.
“OPD terkait perlu memaksimalkan itu ya,” tegasnya.
Pihaknya berharap, realisasi program makanan tambahan itu nanti tepat sasaran. Artinya, tidak ada pengurangan atau penyelewengan anggaran dalam program tersebut. Sami’oeddin menyebut, jika sampai diketahui ada penyelewengan, maka dipastikan pada tahun berikutnya tidak akan mendapatkan anggaran.
“Jadi harus terus berhati-hati ya, agar ke depannya program itu dapat dipertahankan” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Dinkes P2KB Sumenep drg. Ellya Fardasah mengutarakan, program itu dianggarkan sekitar Rp7 miliar. Menurutnya, di setiap puskesmas akan ada alokasi khusus untuk PMT.
“Waktu pelaksanaannya sesuai jadwal di puskesmas masing-masing,” ungkapnya.
Dia menegaskan, PMT ini akan memprioritaskan daerah yang rawan stunting dan dipastikan akan segera direalisasikan.
“Semakin cepat, maka para penderita stunting semakin menurun,” tegas dia.
Anggaran khusus PMT tahun ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya, yakni berkurang sekitar Rp1 miliar. Namun, Ellya memastikan bahwa makanan yang akan diberikan adalah makanan bergizi.
Dia mencontohkan, makanan tahu kukus. Tahu itu sudah dicampur daging ikan dan ayam sesuai takaran kebutuhan protein balita, termasuk PMT pada ibu hamil.
“Angka stunting diharapkan menurun dengan adanya PMT ini,” tukasnya.
Pewarta: Imam Mahdi
Redaktur: Sule Sulaiman





