KABAR MADURA | Kanker paru-paru menjadi salah satu penyakit yang patut diwaspadai. Pasalnya, jenis kanker ini menempati urutan tiga besar kasus terbanyak dari seluruh jenis kanker.
Penyakit yang juga disebut tumor paru ini tergolong ganas, karena ditandai pembelahan sel yang tidak terkendali. Proses itu bisa terjadi langsung di organ paru atau akibat penyebaran kanker dari organ lain.
Dokter Spesialis Paru RSUD dr. H. Slamet Martodirdjo (SMart) Pamekasan, dr. Syaiful Hidayat, menjelaskan, mayoritas penderita kanker paru adalah laki-laki, terutama perokok. Kebiasaan merokok, kata dia, sangat memengaruhi risiko karena asap dan zat berbahaya yang terkandung di dalamnya. Namun, bukan berarti perempuan tidak mungkin akan terkena penyakit kanker paru.
“Kanker paru-paru ini bisa juga disebabkan oleh polusi. Makanya, meskipun dia bukan perokok atau perempuan, juga ada yang mengidap kanker paru-paru,” ungkapnya, Jumat (8/8/2025).
Selain paparan zat berbahaya, dr. Syaiful menambahkan, faktor genetik juga dapat memicu kanker paru. Seseorang dengan riwayat keluarga penderita kanker perlu meningkatkan kewaspadaan, salah satunya dengan melakukan deteksi dini atau skrining kesehatan secara rutin.
“Kasus kematian kanker paru, paling besar nomor satu,” tambahnya.
Penanganan kanker paru dapat dilakukan dengan berbagai metode, seperti pembedahan atau operasi pengangkatan kanker, terapi radiasi, kemoterapi, maupun kombinasi dari beberapa metode tersebut. Pemilihan pengobatan sangat bergantung pada stadium kanker.
Jika pasien berada pada stadium awal, penanganan difokuskan pada upaya penyembuhan, sedangkan stadium lanjut diarahkan untuk mengurangi rasa sakit dan meningkatkan kualitas hidup.
“Stadium awal biasanya dilakukan bedah dan radiasi lokal. Kalau stadium lanjut, biasanya kemoterapi. Pengobatannya bukan lagi untuk menyembuhkan, tapi agar tidak menimbulkan nyeri,” tutupnya. (nur/zul)





