KABAR MADURA | Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Pamekasan menggelar kegiatan Penguatan Aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Hamil (Elsimil) bagi calon pengantin (catin), Rabu (17/9/2025), di ruang Wahana Bina Praja Sekretariat Daerah (Setda) Pamekasan.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya DP3AP2KB Pamekasan untuk menegaskan pentingnya kesiapan calon pengantin dalam mewujudkan pernikahan sehat dan melahirkan generasi bebas stunting. Hal itu sebagaimana disampaikan Sekretaris DP3AP2KB Pamekasan Hendarto.
Menurutnya, pencegahan stunting harus dimulai sejak dini, yaitu dari remaja hingga calon pengantin. Mereka perlu diberi pemahaman menyeluruh mengenai kesehatan reproduksi dan kesiapan pernikahan.
“Calon orang tua yang sehat akan melahirkan anak-anak yang sehat pula. Karena itu, penguatan Elsimil menjadi langkah penting dalam memastikan kesiapan pernikahan dan kehamilan yang sehat,” paparnya.
Hendarto menjelaskan, aplikasi Elsimil membantu mendeteksi faktor risiko kesehatan calon pengantin melalui data seperti berat badan, tinggi badan, dan kadar hemoglobin. Catin yang lolos skrining akan mendapatkan sertifikat Elsimil sebagai bentuk apresiasi sekaligus komitmen terhadap lahirnya generasi berkualitas.
Selain itu, dia menekankan peran penting Tim Pendamping Keluarga (TPK) dalam memberikan penyuluhan, pendampingan, serta memfasilitasi layanan bagi keluarga yang berisiko stunting.
“Melalui penguatan ini, kami berharap pengetahuan dan keterampilan TPK meningkat, sekaligus mendorong catin untuk mengisi Elsimil secara mandiri,” tambahnya.
Sementara itu, perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Sofia Hanik, menuturkan, Elsimil merupakan bagian dari strategi nasional percepatan penurunan stunting sesuai Perpres Nomor 72 Tahun 2021. Aplikasi ini diharapkan menjadi instrumen awal dalam menyiapkan pendampingan sesuai kondisi calon pengantin.
“Upaya pendampingan catin dalam penurunan stunting sangat penting agar kasus stunting dapat dicegah semaksimal mungkin,” ungkapnya.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Jawa Timur terus menurun, dari 17,7 persen pada 2023 menjadi 14,7 persen pada 2024. Namun, angka di Pamekasan masih cukup tinggi, yakni 22,3 persen pada 2024, turun dari 25,1 persen pada 2023.
Melalui kegiatan ini, pihaknya berharap penguatan Elsimil di Pamekasan bisa dilaksanakan secara berkelanjutan, disertai pembinaan terhadap TPK serta evaluasi berkala, demi mewujudkan generasi muda yang lebih sehat dan berkualitas.
“Melalui Elsimil dapat dilakukan penapisan awal bagi calon pengantin sehingga dapat menyiapkan pendampingan sesuai kondisi masing-masing catin,” terangnya. (rul/ong)





