Survei Seismik Picu Amarah Warga Kangean, Fasilitas Dibakar dan Nelayan Ditangkap

Berita, Headline148 views

KABAR MADURA | Suasana di Kepulauan Kangean, Sumenep, memanas pada Rabu (5/11/2025). Ratusan warga dilaporkan mengamuk setelah mendengar kabar bahwa tujuh nelayan ditangkap aparat kepolisian. Nelayan itu sedang melakukan aksi penolakan terhadap aktivitas survei seismik 3D oleh PT KEI di perairan sekitar pulau tersebut.

Informasi yang beredar menyebutkan, penangkapan terjadi karena nelayan diduga membawa senjata tajam saat berlayar mendekati kapal seismik. Namun versi lain dari warga menuturkan, para nelayan sejatinya hanya ingin memprotes aktivitas survei yang dianggap mengganggu wilayah tangkapan ikan tradisional mereka.

“Warga marah karena merasa laut mereka diganggu. Mereka hanya ingin kapal seismik itu menghormati ruang hidup nelayan,” ujar salah satu tokoh masyarakat Kangean yang enggan disebut namanya.

Kemarahan warga memuncak hingga massa mendatangi kantor Kepolisian Sektor (Polsek) Kangean, menuntut pembebasan para nelayan yang diamankan. Aksi itu kemudian meluas, menyebabkan salah satu waterpark milik warga setempat terbakar akibat amukan massa. Total kerugian diperkirakan mencapai Rp1 miliar.

Baca Juga:  UNIBA Madura Sulap Pasar Anom Jadi Laboratorium Bisnis Mahasiswa, Prof. Achsanul Qosasi: Harus Berani Menjual dan Mencipta

Kasi Humas Polres Sumenep, AKP Widiarti Sutiyoningtyas, membenarkan bahwa insiden tersebut dipicu oleh pengamanan terhadap tujuh nelayan. Dia memastikan bahwa situasi kini sudah terkendali.

“Tujuh orang nelayan yang diamankan sudah dilepas setelah dibuatkan surat perjanjian. Situasi saat ini sudah kondusif, massa telah membubarkan diri. Tidak ada korban jiwa, kerugian materiil sekitar Rp1 miliar,” jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, Kapolres Sumenep AKBP Rivanda memimpin apel pergeseran pasukan Brimob Batalyon D Pelopor Satbrimob Polda Jatim di Mapolres Sumenep pada Rabu malam (5/11/2025). Sebanyak 67 personel Brimob dikerahkan ke Kangean guna memperkuat pengamanan pascainsiden.

Baca Juga:  Dukung Ketahanan Pangan, Polres Sumenep Tinjau Panen Melon Berbasis Smart Farming di Desa Kasengan

Kapolres Rivanda menegaskan agar seluruh pasukan bertindak profesional dan humanis.

“Laksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab, hindari tindakan arogan, dan jaga komunikasi baik dengan masyarakat,” tegasnya.

Meski situasi mulai tenang, kekecewaan warga belum sepenuhnya reda. Banyak nelayan menilai aktivitas seismik itu mengancam kelestarian laut dan hasil tangkapan mereka.

“Kami hidup dari laut. Kalau laut terganggu, kami mau makan apa?” ujar seorang nelayan di Pelabuhan Batu Guluk dengan nada geram.

Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten Sumenep, Dadang Dedy Iskandar, yang membawahi urusan kelautan dan investasi daerah, belum memberikan keterangan resmi terkait kisruh tersebut. (ara/waw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *