Oleh: Fadali Rahman
Dosen Magister Manajemen, Universitas Madura
Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan sebuah momentum sakral yang mengingatkan kita pada perjuangan tanpa pamrih para pejuang kemerdekaan yang rela mengorbankan jiwa dan raga demi tegaknya kedaulatan bangsa. Namun, setelah 80 tahun merdeka, bentuk perjuangan bangsa ini tentu telah berubah. Senjata dan peluru kini digantikan dengan ide, inovasi, dan kerja keras di bidang ekonomi. Dalam konteks inilah muncul istilah baru yang layak disematkan: “Pahlawan Ekonomi” mereka yang berjuang bukan di medan perang, tetapi di pasar, ladang, dan ruang usaha demi menjaga ketahanan ekonomi nasional.
Pahlawan sejati bukan hanya mereka yang gugur di medan perang, tetapi juga mereka yang berjuang melawan kebodohan, kemiskinan, dan ketimpangan sosial. Jika para pejuang 1945 mengangkat bambu runcing melawan penjajahan fisik, maka pahlawan masa kini mengangkat semangat inovasi, keberanian berwirausaha, dan komitmen terhadap kemajuan bangsa di tengah gempuran ekonomi global. Perjuangan di masa kini lebih halus, namun tak kalah sengit melawan kemalasan, ketergantungan impor, dan ketimpangan digital yang semakin melebar.
Semangat heroik itu kini tampak dalam berbagai sektor. Dari petani yang tetap menanam meski harga pupuk melonjak, hingga pelaku usaha mikro yang bertahan di tengah badai inflasi dan perubahan pasar digital. Mereka mungkin tidak mengenakan seragam perang, namun peluh dan jerih payah mereka adalah wujud nyata patriotisme ekonomi.
Jika pada masa revolusi fisik rakyat menjadi benteng pertahanan bangsa, maka kini pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) adalah benteng pertahanan ekonomi Indonesia. Data Kementerian Koperasi dan UKM mencatat bahwa lebih dari 97 persen tenaga kerja di Indonesia terserap di sektor ini. Ketika krisis moneter 1998 melanda dan banyak perusahaan besar tumbang, justru sektor UMKM yang tetap berdiri kokoh, menjaga denyut ekonomi nasional. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa di bidang ekonomi.
Di masa pandemi Covid-19 pun, jutaan pelaku UMKM membuktikan daya juang luar biasa. Mereka beradaptasi dengan teknologi, memasarkan produknya secara daring, dan bertahan dengan kreativitas lokal. Dari penjual jamu tradisional yang beralih ke marketplace hingga pengrajin batik yang mengubah desainnya agar sesuai selera generasi muda, semua ini adalah wujud nyata keberanian melawan ketidakpastian ekonomi global.
Selain UMKM, para petani, nelayan, dan buruh juga tak kalah berjasa dalam mempertahankan kedaulatan bangsa di bidang ekonomi. Petani adalah tulang punggung kedaulatan pangan. Mereka tidak hanya menanam padi, tetapi menanam harapan bagi 280 juta jiwa. Di tengah ancaman impor pangan dan ketergantungan terhadap bahan luar negeri, para petani Indonesia adalah pahlawan yang menjaga agar bangsa ini tetap berdiri di atas kaki sendiri.
Demikian pula nelayan yang menantang ombak demi membawa hasil laut bagi bangsa. Dalam kondisi cuaca ekstrem dan harga bahan bakar yang naik-turun, mereka tetap berlayar, menjaga agar anak-anak bangsa tak kekurangan protein. Buruh dan pekerja pabrik, dengan keringatnya, menjaga roda industri agar terus berputar. Mereka semua adalah simbol keteguhan, ketekunan, dan keberanian nilai-nilai yang sama dimiliki para pahlawan kemerdekaan.
Perjuangan modern juga melahirkan generasi baru pahlawan ekonomi para inovator dan wirausahawan muda digital. Mereka menciptakan lapangan kerja baru, mengubah wajah ekonomi Indonesia melalui teknologi dan kreativitas. Platform digital lokal seperti Tokopedia, Gojek, atau Ruangguru adalah contoh nyata bagaimana anak bangsa bisa menjadi pelopor transformasi ekonomi nasional.
Mereka bukan hanya mencari keuntungan, tetapi juga memberikan solusi terhadap masalah sosial. Dengan teknologi, mereka menghubungkan petani dengan pasar, mempermudah akses pendidikan, dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat kecil. Dalam konteks inilah, pahlawan ekonomi bukan sekadar pebisnis, tetapi penggerak perubahan sosial yang berorientasi pada kesejahteraan bersama.
Kunci dari semua perjuangan ini adalah semangat gotong royong, yang diwariskan para pahlawan bangsa. Dulu, gotong royong menjadi strategi melawan penjajahan; kini, semangat itu menjadi fondasi membangun ekonomi inklusif. Ketika masyarakat saling mendukung produk lokal, membeli hasil karya UMKM, dan berkolaborasi untuk menciptakan nilai ekonomi baru, di sanalah jiwa kepahlawanan itu hidup kembali.
Pemerintah dan masyarakat perlu terus memperkuat ekosistem ini. Dukungan terhadap koperasi, pelatihan digitalisasi UMKM, dan kebijakan prorakyat adalah bentuk penghormatan kepada pahlawan ekonomi masa kini. Karena sejatinya, pahlawan tidak menunggu diakui; mereka terus bekerja meski tanpa sorotan kamera atau penghargaan negara.
Hari Pahlawan bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga momentum menyalakan semangat juang baru. Jika dahulu perjuangan dilakukan dengan darah dan air mata, maka kini perjuangan dilakukan dengan ilmu, inovasi, dan keberanian berusaha. Pahlawan ekonomi hadir di pasar-pasar tradisional, di warung kecil di pelosok desa, hingga di layar laptop para startup founder yang bermimpi membangun Indonesia yang mandiri.
Mereka adalah wajah baru kepahlawanan bangsa, pejuang yang menolak menyerah pada keadaan, yang percaya bahwa kemerdekaan sejati adalah ketika rakyat sejahtera dan ekonomi berdikari. Maka, ketika kita mengheningkan cipta di Hari Pahlawan, ingatlah: perjuangan belum selesai. Hanya medan tempurnya yang berbeda. Dan di medan ekonomi inilah, kita semua dipanggil untuk menjadi pahlawan bagi bangsa sendiri. (*)




