Oleh: Achmad Muhlis (Ketua Senat UIN Madura)
Ditengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan sosial global, Universitas Islam Negeri (UIN) Madura terus berupaya menjaga keseimbangan antara modernitas dan nilai-nilai lokal. Kampus Taneyan Lanjeng yang menjadi simbol kebersamaan, keterbukaan, dan kekeluargaan khas masyarakat Madura, kini menjadi fondasi moral dalam membangun transformasi digital kampus. Konsep ini akan jauh lebih menarik, untuk memperkaya cara pandang kita memahami relasi antara tradisi, teknologi, dan kehidupan sosial modern.
Saat ini, Masyarakat modern menghadapi pergeseran nilai, dari solidaritas mekanis menuju solidaritas organis, dari ikatan tradisional menuju keterhubungan peran dan fungsi sosial. Namun demikian, Durkheim menekankan bahwa nilai moral bersama tetap menjadi perekat utama agar masyarakat tidak kehilangan arah.
Nilai-nilai Taneyan Lanjheng, seperti semangat gotong royong dan persaudaraan, adalah contoh nyata solidaritas moral yang tetap relevan di tengah modernisasi digital, tanpa harus meninggalkan pentingnya rasionalitas dan etika kerja dalam masyarakat modern. Kemajuan teknologi tidak boleh menghapus “makna nilai”.
Dalam konteks UIN Madura, transformasi digital bukan sekadar soal sistem daring atau layanan cepat, tetapi tentang bagaimana teknologi digunakan untuk memperkuat nilai keikhlasan, disiplin, dan tanggung jawab sosial, yakni prinsip-prinsip yang sejalan dengan etos kerja pesantren. Walaupun Masyarakat kampus dituntut untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan identitas, Giddens menyebutnya sebagai “modernitas reflektif”.
Langkah UIN Madura yang berani bertransformasi secara digital tanpa melepaskan akarnya pada nilai-nilai Taneyan Lanjeng, menegaskan bahwa peradaban (ʿumrān) hanya akan bertahan jika memiliki ʿasabiyyah, yakni semangat kebersamaan yang menjaga moral dan solidaritas sosial.
Nilai Taneyan Lanjeng dapat dipandang sebagai bentukʿasabiyyah kultural, kekuatan sosial yang menjaga keseimbangan antara kemajuan ilmu pengetahuan dan kohesi sosial masyarakat Madura.
Walaupun di satu sisi, transformasi digital, tidak boleh menjauhkan manusianya dari tujuan moral, melainkan memperkuat tatanan sosial yang adil dan beradab.
Nilai kebersamaan dan keterbukaan dalam Taneyan Lanjheng mencerminkan prinsip madinah fadilah dalam konteks lokal, yakni masyarakat yang berteknologi tanpa kehilangan kemanusiaan dan kesadaran sosial – spiritual dalam menghadapi modernitas. Teknologi harus menjadi sarana pembebasan, bukan penyeragaman budaya.
UIN Madura harus menegaskan dirinya, bahwa digitalisasi kampus bukan sekadar adaptasi teknis, tetapi bagian dari bentuk ijtihad sosial, dalam upaya menghidupkan nilai-nilai keislaman di tengah zaman yang serba cepat.
Taneyan Lanjheng menjadi landasan etika birokrasi dan pelayanan public, yakni bekerja dengan hati, melayani dengan keikhlasan, serta membangun jejaring sosial yang saling menghargai. Teknologi hanya akan bermakna jika digunakan untuk memperkuat kemanusiaan dan nilai spiritual. Itulah ruh Taneyan Lanjheng.




