Jejak Spiritual di Balik Sarabhiyân dan Polotanan; Tradisi Kuliner Madura Menyambut Malam-Malam Ganjil

Di banyak desa di Madura, menjelang malam ganjil Ramadhan—seperti malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29—(salekoran, saqemi’an), dapur-dapur rumah mulai hidup lebih lama dari biasanya. Perempuan-perempuan menyiapkan adonan sarabhi dari tepung beras dan santan, sementara ketan dimasak menjadi berbagai olahan yang dikenal sebagai polotanan. Makanan ini kemudian dibagikan kepada tetangga, kerabat, atau dibawa ke surau dan musholah setelah salat tarawih. Aktivitas sederhana ini membangun suasana kebersamaan sekaligus menjadi simbol harapan agar masyarakat mendapat keberkahan malam Lailatul Qadar.

Mengoptimalkan Potensi Sumber Daya Manusia Madura melalui Otonomi Baru di Pamekasan

Kini, wacana otonomi baru fragmentasi kewenangan dan fleksibilitas anggaran di tingkat kabupaten seharusnya dipahami bukan sebagai sekadar penambahan struktur pemerintahan. Jika dirancang dengan visi pengembangan SDM dan ekonomi lokal, otonomi baru bisa menjadi alat strategis untuk membuka transformasi ekonomi dan human capital di Pamekasan. Sebaliknya, jika hanya dilaksanakan dengan logika rebut kekuasaan lokal, ia akan berakhir sebagai ruang baru bagi klienelisme dan stagnasi struktural.

Tômang Kôdûh Ngôkôs: Konsep Food Security Modern

Ungkapan orang madura masa lampau ini, secara bebas dapat dimaknai sebagai“meski sedikit tetap disimpan; meski sempit tetap bekerja”, artinya menghemat hasil panen, memprioritaskan kebutuhan pokok, serta bekerja secara terukur dan taktis, tetap bekerja keras meski hasil sedikit, tetap menyimpan meski rezeki tipis.

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.