KABAR MADURA | Perjalanan Rofi’ati Nur Diana Islam di panggung Duta Generasi Berencana (Genre) Pamekasan 2025 tidak dimulai dengan kemudahan. Berbagai macam ajang kompetisi sudah banyak dia ikuti, mulai dari lomba karya tulis fiksi, nonfiksi, hingga ajang perdutaan. Namun, semua perlombaan itu berakhir tanpa gelar juara. Setiap kegagalan sempat membuatnya ragu, tapi tidak cukup untuk membuat dia berhenti mencoba. Justru, dari pengalaman gagal itu, dia belajar memperbaiki diri dan terus upgrade diri.
SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN
Proses panjang Diana akhirnya terjawab tahun ini, saat dia resmi dinobatkan sebagai Duta Genre Pamekasan 2025 pada Sabtu (29/11/2025) lalu. Gadis kelahiran 2005 ini mengaku sempat ragu dan takut untuk ikut pemilihan duta tersebut, meski pada dasarnya memang sudah diimpikan. Pasalnya, dia cukup aktif di berbagai kegiatan di luar akademik dan harus fokus belajar sebagai mahasiswa aktif Jurusan Bahasa Indonesia Universitas Madura (Unira). Namun, saat itu dirinya mendapat dorongan dari sang teman untuk mengikuti seleksi Duta Genre tersebut.
“Saya menyiapkan semua persyaratan itu satu minggu sebelum audisi wawancara awal. Waktu itu ada 81 peserta. Ternyata saya terpilih ke tahapan selanjutnya, hingga grand final kemarin,” cerita Diana, Senin (1/11/2025).
Anugerah yang dia dapat sebagai Duta Genre merupakan suatu hal yang tidak disangka sebelumnya. Sebab, pihaknya harus bersaing dengan puluhan peserta lain yang menurutnya jauh memiliki kompetensi lebih unggul darinya. Tapi dia berusaha untuk tetap tenang selama kompetisi, utamanya ketika mendapat tantangan dari dewan juri. Alhasil, Diana berhasil meyakinkan dewan juri dan dinobatkan sebagai Duta Genre tahun ini.
“Selama karantina saya sering nangis. Karena saya merasa tidak mampu. Bahkan, ketika penyematan selempang juara, saya masih tidak percaya kalau juara,” tambahnya.
Sebagian duta terpilih, kata Diana, dirinya akan fokus pada pencegahan stunting melalui program khusus Cegah Stunting Anak (Cinta). Dia menjelaskan, terdapat beberapa kegiatan yang nantinya akan dimaksimalkan, yakni berupa sahabat edukasi, pendampingan keluarga muda, dan aksi lingkungan.
Angka stunting di Pamekasan saat ini masih tergolong tinggi. Sehingga, Dia bertekad akan terus berupaya membantu menekan angka stunting melalui program yang sudah ditentukan tersebut.
Dia berharap, melalui langkah itu, pihaknya bisa memberikan dampak yang lebih positif terhadap kemajuan Pamekasan, utamanya dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM).
“SDM yang unggul itu harus diawali dengan anak-anak yang sehat. Jadi, melalui pencegahan stunting sejak dini, semoga generasi Indonesia emas bisa benar-benar terwujud. Dan tahun depan, semoga lolos di Duta Genre Jatim,” tukasnya. (zul)





