KABAR MADURA | Dua tokoh Madura, Achsanul Qosasi dan H. Khairul Umam alias Haji Her, menggelar pertemuan yang membahas berbagai isu strategis terkait Madura. Dalam pertemuan itu, topik utama yang dibicarakan adalah persoalan tembakau dan garam, dua sektor yang selama ini menjadi penopang utama kehidupan masyarakat Madura.
Achsanul Qosasi mengatakan, diskusi mengenai tembakau dan garam hampir selalu menjadi agenda utama setiap kali dirinya bertemu dengan Haji Her. Namun, pada pertemuan terakhir, pembahasan berkembang dengan masuknya isu baru, yakni Valen, yang baru menyelesaikan kompetisi Dangdut Academy (DA) 7.
“Setiap kami bertemu; Topik diskusi adalah Tembakau dan Garam. Minggu lalu nambah lagi topik baru: Valen. (Dg Penyelenggara DA 7 yg terkesan ber-“kontroversi”),” tulis Achsanul dalam salah satu postingan di akun Instagram pribadinya, Selasa (30/12/2025).
Dalam pertemuan itu, keduanya juga menegaskan pandangan mereka tentang Madura yang kerap dinilai secara negatif. Menurut Achsanul Qosasi, Madura tidak seperti stigma yang selama ini berkembang di ruang publik.
“Madura bagi kami adalah segalanya..!! Madura tak seperti yg di-citraburuk-kan. Madura berteman dg siapapun,” ungkap presiden Madura United itu.
Dia juga menyoroti kondisi petani Madura yang masih berada pada posisi rentan. Achsanul Qosasi menilai kemiskinan petani bukan disebabkan oleh hama atau minimnya pengetahuan pertanian, melainkan akibat regulasi dan sistem tata niaga yang belum berpihak kepada petani.
“Petani (Madura) miskin bukan karena hama dan kurangnya ilmu pertanian, tapi mereka miskin karena peraturan dan tata-niaga yg tak berpihak kepada mereka,” tegasnya.
Kata pria kelahiran Sumenep itu, Haji Her memiliki peran sebagai pengusaha tembakau Madura yang tidak hanya berorientasi pada bisnis, tetapi juga pada keberlangsungan hidup masyarakat Madura yang menggantungkan hidup dari sektor tersebut.
“H. Her bersama seluruh pengusaha tembakau Madura, menjalankan peran sbg pengusaha tembakau yg menjadi sumber Kehidupan dan Penghidupan Rakyat Madura,” tukasnya. (nur/zul)





