Oleh: Misbahol Munir
Ketua Gen Z Kabupaten Pamekasan
Jangan biarkan penggemar Valen menjemput kecewa. Kalimat ini tampaknya sederhana, namun justru menjadi pokok persoalan dalam rencana konser penyambutan Valen DA7 di Pamekasan. Isu ini terasa lebih relevan, penting untuk didiskusikan ketimbang hiruk-pikuk spekulasi lain yang tidak substansial.
Kepulangan Valen ke tanah kelahirannya disambut antusias oleh para pendukung. Euforia itu bahkan melampaui batas geografis Madura. Banyak penggemar dari luar daerah yang secara terbuka menyatakan kesiapannya datang ke Pamekasan demi menyaksikan langsung. Ini bukan hal kecil, sebab kehadiran mereka membawa harapan, biaya, dan waktu yang dikorbankan.
Namun, euforia itu kini berhadapan dengan sejumlah ganjalan. Salah satunya adalah persyaratan gelaran hiburan yang ditetapkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pamekasan. Tidak hanya soal teknis perizinan, tetapi juga menyentuh substansi acara, mulai dari jenis alat musik yang digunakan hingga lagu yang akan dibawakan.
Alasan mengapa kekhawatiran kekecewaan penggemar patut diperhitungkan adalah fakta bahwa daya tarik konser ini tidak semata persoalan Valen seorang diri. Isu kehadiran Mila DA 7, yang selama ini dikenal sebagai pasangan duet romantis Valen, menjadi magnet kuat bagi para penggemar. Bahkan, hubungan keduanya kerap ditafsirkan lebih dari sekadar partner panggung.
Dengan adanya ketentuan yang melarang penyanyi perempuan berusia di atas 12 tahun tampil di hadapan umum, hampir dapat dipastikan Mila DA7 tidak akan ikut hadir. Konsekuensinya jelas: ekspektasi penggemar akan turun drastis. Bagi sebagian penggemar, ini bukan sekadar soal hiburan, melainkan pengalaman emosional yang ingin mereka rayakan bersama idolanya.
Belum lagi soal pembatasan penggunaan alat musik. Konser yang hanya diiringi elekton, tanpa orkes lengkap, tentu akan mengurangi kemegahan dan euforia konser. Bagi penggemar yang telah menempuh perjalanan jauh, format pertunjukan yang terlalu dibatasi bisa terasa sebagai antiklimaks.
Padahal, kehadiran Valen sejatinya membawa banyak nilai positif. Konser penyambutan ini bukan hanya perayaan pribadi, tetapi juga ruang representasi kultural. Valen bisa menjadi medium untuk menunjukkan bahwa masyarakat Madura tidak seperti stigma negatif yang kerap dinarasikan. Sambutan hangat warga Pamekasan, bahkan kesediaan mereka menyiapkan penginapan gratis bagi penggemar dari luar daerah, adalah bukti nyata keramahan dan kemurahan hati orang Madura.
Sebab itu, dialog yang bijak menjadi kunci. Nilai-nilai lokal dan religius tentu perlu dijaga, namun ekspektasi publik juga layak diperhatikan. Jangan sampai konser yang sedianya menjadi momen kebanggaan bersama justru meninggalkan rasa kecewa.
Pamekasan memiliki kesempatan emas untuk menghadirkan peristiwa budaya yang berkesan. Jangan biarkan kesempatan itu sirna hanya karena kegagalan menemukan titik temu antara imbauan dan realitas antusiasme publik. Penggemar Valen sudah bersiap datang dengan harapan, dan harapan itu seharusnya tidak dipulangkan dengan kekecewaan.





