Oleh: Misbahol Munir
Ketua Gen Z Pamekasan
Melepas bukan selalu berarti kehilangan. Dalam konteks rencana konser penyambutan Valen DA7, gagasan untuk merelakannya menggelar konser di daerah lain justru layak dipertimbangkan secara dewasa. Terutama jika berbagai prasyarat yang ada berpotensi menggerus makna, kualitas, dan kegembiraan dari sebuah perayaan yang seharusnya utuh.
Sejak kabar kepulangan Valen mencuat, antusiasme penggemar membuncah. Pamekasan menjadi titik temu harapan ribuan orang yang ingin merayakan keberhasilan putra daerah. Namun realitas menunjukkan bahwa penyelenggaraan konser di Pamekasan tidaklah sederhana. Sejumlah pembatasan membuat format hiburan yang direncanakan jauh dari bayangan awal para penggemar.
Konser yang harus dibatasi dari sisi alat musik, pilihan lagu, hingga absennya penyanyi pendamping perempuan, berisiko menjadikan acara tersebut sekadar seremoni, bukan selebrasi. Padahal, esensi konser adalah ekspresi kegembiraan kolektif, ruang perjumpaan antara idola dan penggemarnya tanpa jarak yang kaku.
Dalam situasi seperti ini, memindahkan konser ke daerah lain bisa menjadi jalan tengah yang rasional. Bukan bentuk penolakan terhadap nilai lokal atau religius, melainkan upaya menjaga martabat karya dan apresiasi terhadap penggemar. Di daerah yang lebih longgar, Valen dapat tampil dengan format terbaiknya, menghadirkan pertunjukan yang pantas bagi perjuangannya di panggung nasional.
Pamekasan sendiri tidak akan kehilangan apa pun. Status Valen sebagai putra daerah tetap melekat, terlepas dari lokasi konser. Kebanggaan masyarakat Madura tidak diukur dari di mana panggung didirikan, melainkan dari prestasi yang telah dicapai. Bahkan, dukungan penuh untuk Valen tampil maksimal di luar daerah justru mencerminkan kedewasaan dalam memandang keberhasilan anak daerah.
Selain itu, memaksakan konser digelar dengan banyak pembatasan berisiko menimbulkan narasi negatif. Kekecewaan penggemar, perbandingan dengan daerah lain, hingga tudingan pembatasan berlebihan bisa mencederai citra Pamekasan sendiri. Dalam jangka panjang, ini tentu tidak menguntungkan siapa pun.
Merelakan Valen menggelar konser di daerah lain juga bukan berarti menutup ruang silaturahmi dengan masyarakat Pamekasan. Penyambutan secara sederhana, doa bersama, atau acara kebudayaan nonhiburan tetap bisa digelar tanpa menghilangkan makna kepulangan. Substansi penghormatan tetap terjaga, tanpa harus mengorbankan kualitas ekspresi seni.
Pada akhirnya, pilihan terbaik bukanlah soal siapa mengalah, melainkan bagaimana semua pihak sama-sama menang. Jika Pamekasan belum siap menjadi ruang selebrasi hiburan yang utuh, maka merelakan Valen tampil di daerah lain bisa menjadi keputusan paling bijak. Lebih baik konser yang sempurna di tempat lain, daripada perayaan yang setengah hati di rumah sendiri.






Siapa Misbahul Munir itu, kok bisa jadi ketua Gen Z?