Oleh: Achmad Muhlis
(Direktur Utama IBS PKMKK)
Perubahan zaman selalu menghadirkan ketegangan epistemik antara tradisi dan modernitas. Dalam konteks pendidikan Islam, ketegangan ini tampak jelas pada Islamic Boarding School Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (IBS PKMKK). Pesantren, yang secara historis berakar kuat pada tradisi kitab dan transmisi keilmuan klasik, kini dihadapkan pada tuntutan era digital yang meniscayakan adaptasi, inovasi, dan keterbukaan terhadap teknologi.
Dari Kitab ke Laptop menggambarkan bahwa transformasi kurikulum di IBS PKMKK bukan sekadar persoalan teknis pembelajaran, melainkan proses sosial dan psikologis yang kompleks. Peralihan dari kitab ke laptop adalah simbol perubahan cara berpikir, cara belajar, dan cara memaknai ilmu dalam kehidupan santri dan lembaga pendidikan Islam.
Pesantren adalah institusi sosial yang memiliki daya lenting (resilience) tinggi. Ia tidak hanya berfungsi sebagai tempat transmisi ilmu agama, tetapi juga sebagai ruang pembentukan nilai, identitas, dan struktur sosial santri. Dokumen menegaskan bahwa IBS PKMKK memiliki peran vital dalam membentuk insan intelek sekaligus berakhlak mulia, sebuah fungsi sosial yang tidak tergantikan.
Namun, tekanan globalisasi dan digitalisasi memaksa pesantren untuk melakukan negosiasi sosial dengan realitas baru. Minimnya sumber daya, resistensi terhadap perubahan, serta keterbatasan infrastruktur teknologi mencerminkan adanya cultural lag, ketertinggalan budaya, antara nilai tradisional dan tuntutan modernitas. Inovasi kurikulum berbasis teknologi di IBS PKMKK Pamekasan Madura, menunjukkan bahwa pesantren tidak bersifat statis, melainkan entitas sosial dinamis yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitas dasarnya.
Dalam perspektif sosiologi, kurikulum bukanlah teks netral, melainkan produk sosial yang lahir dari nilai, kepentingan, dan visi tertentu. Model Kurikulum Al-Muwahhid yang dikembangkan di IBS PKMKK Pamekasan Madura, mencerminkan upaya sadar untuk mengintegrasikan ilmu agama, sains, dan teknologi dalam satu kesatuan tauhidi.
Integrasi ini menandai pergeseran paradigma sosial, ilmu tidak lagi dipisahkan secara dikotomis antara “agama” dan “dunia”, melainkan dipahami sebagai kesatuan makna. Secara sosiologis, kurikulum ini berfungsi sebagai alat rekonstruksi kesadaran kolektif santri, bahwa menjadi religius tidak berarti terasing dari kemajuan teknologi dan kompetisi global.
Dari sudut pandang psikologi pendidikan, perubahan kurikulum membawa implikasi besar terhadap struktur kejiwaan santri. Model pembelajaran berbasis teknologi, project-based learning, e-portofolio, dan prinsip One Student One Laptop menggeser posisi santri dari penerima pasif menjadi subjek aktif dalam proses belajar.
Perubahan ini berpengaruh langsung pada motivasi intrinsik, rasa percaya diri, dan sense of agency santri. Narasi ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang memanfaatkan teknologi membuat proses belajar lebih dinamis dan efisien. Secara psikologis, dinamika ini memperkuat keterlibatan emosional santri, mengurangi kejenuhan, dan meningkatkan rasa memiliki terhadap proses belajar.
Transformasi dari kitab ke laptop bukan hanya perubahan alat, tetapi juga perubahan identitas belajar. Bagi santri, kitab kuning selama ini menjadi simbol otoritas keilmuan dan spiritualitas. Integrasi teknologi berpotensi memunculkan kegelisahan psikologis, apakah teknologi akan menggerus kesakralan tradisi?
Namun, kurikulum Al-Muwahhid justru memfasilitasi integrasi identitas tersebut. Dengan fondasi filosofis tauhid, teknologi tidak diposisikan sebagai ancaman, melainkan sebagai wasilah. Secara psikologis, hal ini membantu santri membangun identitas diri yang utuh: religius, intelektual, dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Tujuh pilar pendidikan yang diterapkan, seperti One Day One Ayat, One Hadith One Presentation, hingga One Activity One Paragraph, menunjukkan pendekatan holistik terhadap perkembangan santri. Dalam psikologi perkembangan, pendekatan ini menyentuh dimensi kognitif, afektif, spiritual, dan sosial secara simultan.
Kegiatan presentasi, penulisan reflektif, dan penguasaan multi-bahasa memperkuat keterampilan komunikasi dan kepercayaan diri. Sementara integrasi teknologi membangun kesiapan mental santri menghadapi dunia luar. Dengan demikian, kurikulum ini tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi membentuk struktur kepribadian yang seimbang.
Secara sosiologis, penerapan teknologi dalam pendidikan pesantren juga berfungsi sebagai alat inklusi sosial. Santri tidak lagi terisolasi dalam ruang tradisional yang tertutup, tetapi terhubung dengan dunia luas melalui media digital, website, dan platform sosial.
Keterlibatan santri dalam produksi konten digital menempatkan mereka sebagai aktor sosial, bukan sekadar konsumen informasi. Ini menandai pergeseran posisi pesantren dari lembaga marginal ke pusat produksi pengetahuan dan kreativitas berbasis nilai Islam.
Narasi ini, juga menyinggung pentingnya peran pemerintah dalam mendukung kurikulum IBS PKMKK Pamekasan Madura berbasis teknologi. Dukungan negara mencerminkan pengakuan terhadap pesantren sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional.
Harapan ini menunjukkan bahwa inovasi kurikulum bukan hanya agenda internal lembaga, tetapi juga proyek sosial yang lebih luas: mencetak generasi religius yang kompeten secara digital dan mampu bersaing di era global. Secara psikologis, dukungan struktural ini penting untuk membangun optimisme institusional dan rasa percaya diri kolektif.
Jika ditarik ke tingkat filosofis, transformasi kurikulum dari kitab ke laptop mencerminkan perjalanan kesadaran pendidikan Islam. Pendidikan tidak lagi dipahami sebagai pengawetan masa lalu, tetapi sebagai dialog berkelanjutan antara nilai abadi dan realitas kontemporer.
Pendekatan sosiologis menunjukkan bahwa perubahan ini adalah respons terhadap dinamika sosial global, sementara pendekatan psikologis menegaskan bahwa inovasi kurikulum berpengaruh langsung pada pembentukan jiwa santri. Keduanya bertemu dalam satu titik: pendidikan sebagai proses pemanusiaan.
Berdasarkan data tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa inovasi kurikulum IBS PKMKK berbasis teknologi bukanlah bentuk pengingkaran terhadap tradisi, melainkan upaya memaknai tradisi secara kontekstual. Pesantren tetap menjadi ruang pembinaan iman dan akhlak, namun dengan wajah baru yang adaptif dan visioner.
Secara sosiologis, model ini memperkuat posisi pesantren dalam struktur masyarakat modern. Ia membentuk santri yang percaya diri, kreatif, dan siap menghadapi masa depan. Dengan demikian, transformasi kurikulum ini bukan hanya inovasi pendidikan, tetapi ikhtiar peradaban, menjembatani kitab dan laptop dalam satu kesatuan makna tauhid dan kemanusiaan.
Catatan:
Opini ini disarikan dari Ujian Terbuka Promosi Doktor UMM Malang (Dr. Arbain Nurdin, M.Pd.), dengan Judul Disertasi “Model Kurikulum Islamic Boarding School berbasis Teknologi di Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning Pamekasan”





