Dari Madura untuk Sumatra (Seri 3): Catatan Perjalanan Penyaluran Bantuan Korban Banjir Bandang Aceh, Sumut, dan Sumbar

Harmoni1,336 views

Muhammad Khairul Umam

Tim Relawan Bawang Mas Grup | Jurnalis Kabar Madura

Rabu malam, 14 Januari 2026, setelah menuntaskan penyaluran bantuan di Desa Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, kami kembali ke Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang untuk beristirahat. Malam itu kami habiskan untuk beristirahat sejenak, mengumpulkan tenaga setelah hari panjang yang penuh lumpur, tenda pengungsian, dan cerita-cerita pilu warga.

Tubuh lelah, tetapi pikiran masih penuh dengan wajah-wajah anak-anak yang siang tadi kami temui, yang nampak masih menyimpan luka bencana tapi memiliki semangat hidup sangat kuat.

Pagi harinya, Kamis, 15 Januari 2026, perjalanan kembali dimulai. Kami bergerak menuju posko relawan Wahana Muda Indonesia (WMI) di Kecamatan Manyak Peyat, Kabupaten Aceh Tamiang. Di posko itulah, rencana hari ini disusun dengan lebih rinci.

JJS Kabar Madura

Setelah berdiskusi cukup panjang dengan relawan WMI, kami sampai pada satu keputusan penting: tim harus dibagi dua. Wilayah terdampak terlalu luas, dan kebutuhan terlalu banyak untuk ditangani oleh satu rombongan.

Tim pertama, yang berisi saya dan dua rekan lainnya, ditugaskan menuju Desa Lama dan Desa Lama Baru di Kecamatan Selapian, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Sementara tim kedua bergerak ke Dusun Pante Kera, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, wilayah yang hingga kini masih terisolasi akibat banjir bandang akhir November lalu. Jarak dari Manyak Payed ke lokasi tim kedua sekitar 81 kilometer.

Di Dusun Pante Kera, tim kedua bersama relawan WMI menyalurkan bantuan dalam jumlah besar: 146 tabung gas elpiji lengkap dengan regulator, beras, minyak goreng, telur, 13 set kompor, dua tandon air berkapasitas 500 liter, satu tandon 1.000 liter, dua unit pompa air, serta berbagai bantuan lainnya. Wilayah ini memang membutuhkan lebih dari sekadar logistik, akses dasar saja masih menjadi persoalan.

Baca Juga:  Majelis Sholawat Tangga Seribu Jadi Ruang Tumbuh Spiritual Anak Muda

Sementara itu, sekitar pukul 09.00 WIB, tim kami (tim pertama) mulai bertolak dari Manyak Peyat menuju Desa Lama dan Desa Lama Baru di Sumatra Utara. Jaraknya tidak main-main, sekitar 171 kilometer. Secara hitungan, perjalanan itu mestinya bisa ditempuh lebih cepat. Namun kenyataan di lapangan berkata lain.

Kami harus menempuh perjalanan hampir enam jam. Jalanan memang sebagian besar beraspal, tetapi banyak yang sudah mengelupas dan berubah menjadi debu tebal. Di beberapa titik lain, jalan berlumpur dan licin.

Tantangan datang silih berganti, seolah menguji kesabaran dan ketahanan kami. Di tengah perjalanan, ujian kembali datang: mobil yang kami tumpangi kehabisan solar. Kami mendatangi beberapa SPBU, namun hasilnya nihil. Solar habis, bahkan Dexlite pun kosong. Situasi mulai menekan. Waktu terus berjalan, sementara dua desa tujuan menunggu.

Setelah berjuang lebih jauh, kami menemukan sebuah bengkel. Awalnya ada secercah harapan, tetapi ternyata bengkel tersebut hanya menjual bensin, bukan solar. Hingga akhirnya, pemilik bengkel menawarkan solusi terakhir: stok solar yang biasa digunakan untuk genset alat cuci motor. Dalam kondisi seperti ini, kami tak punya banyak pilihan. Yang penting, bisa tiba di lokasi. Solar itu akhirnya kami beli.

Sepanjang Sepanjang perjalanan, pemandangan yang kami saksikan semakin menguatkan alasan mengapa kami harus sampai. Gelondongan kayu berserakan, rumah-rumah roboh, bahkan ada yang sudah rata dengan tanah. Di beberapa titik, sepeda motor tampak teronggok begitu saja, seolah ditinggalkan oleh pemiliknya dalam keadaan darurat.

Setibanya di lokasi, relawan yang siaga di lapangan langsung memberi arahan: kebutuhan paling mendesak bagi korban adalah seragam sekolah dasar. Anak-anak harus kembali belajar, meski rumah mereka belum sepenuhnya kembali.

Baca Juga:  Majelis Sholawat Tangga Seribu Jadi Ruang Tumbuh Spiritual Anak Muda

Masalahnya, seragam SD tidak tersedia di sekitar lokasi. Kami harus menuju Kota Binjai, Sumatra Utara, sekitar 32 kilometer dari Kecamatan Selepan.

Awalnya kami memperkirakan proses belanja akan selesai dalam satu jam. Kenyataannya, waktu berjalan lebih dari dua jam. Kami harus menyortir ukuran satu per satu agar sesuai dengan kebutuhan siswa di Desa Lama dan Desa Lama Baru. Total seragam yang dibeli lebih dari 200 setel.

Yang mengharukan, proses penyortiran tidak hanya dibantu karyawan toko. Pengunjung lain dan warga sekitar ikut turun tangan. Di saat yang sama, para wali murid tetap menunggu di sekolah, sabar menanti kami kembali.

Menjelang Magrib, kami tiba kembali di Desa Lama dan Desa Lama Baru. Kedatangan kami tetap disambut dengan hangat, oleh warga, guru, dan anak-anak yang sejak siang menunggu.

Total bantuan yang kami serahkan untuk dua sekolah dasar adalah:

  • 85 setel seragam merah putih lengkap untuk 85 siswa SDN 058244 Wonorejo, Desa Lama Baru.
  • 124 setel seragam merah putih lengkap untuk 124 siswa SDN 054936 Wonorejo, Desa Lama.

Karena sudah malam, sebagian bantuan harus kami antar dari rumah ke rumah. Selebihnya dibagikan di tenda pengungsian warga yang kehilangan tempat tinggalnya akibat diterjang banjir bandang.

Selepas Isya, seluruh paket bantuan berhasil tersalurkan. Malam semakin larut. Tubuh lelah, tetapi hati terasa lebih ringan. Untuk mengisi ulang tenaga dan menyiapkan agenda esok hari, kami memutuskan menginap di Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Jaraknya sekitar 30 kilometer dari tempat kami menyalurkan bantuan.

Perjalanan belum usai. Esok hari, tantangan lain sudah menunggu.

Bersambung ke Seri 4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *