KABAR MADURA | Majelis Sholawat Tangga Seribu tidak hanya dikenal sebagai ruang ibadah, tapi juga mulai menjadi wadah anak muda untuk tumbuh dan berkontribusi secara sosial.
Lewat kegiatan dzikir, salawat, dan kajian, majelis ini pelan-pelan merangkul generasi muda agar tetap dekat dengan nilai-nilai spiritual tanpa kehilangan peran di tengah masyarakat.
Ketua Majelis Sholawat Tangga Seribu, Andi Ali Syahbana, menyampaiakan bahwa konsep “Tangga Seribu” sangat relevan dengan semangat anak muda hari ini.
“Ini soal proses. Anak muda itu nggak harus langsung sempurna, tapi bagaimana terus naik, selangkah demi selangkah, jadi lebih baik,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan yang santai namun bermakna membuat banyak pemuda merasa lebih dekat dan nyaman bergabung. Mereka tidak hanya diajak berdzikir, tapi juga dilibatkan dalam kegiatan sosial seperti santunan, berbagi dengan sesama, hingga aksi kemanusiaan.
“Di sini, anak muda kita dorong bukan cuma kuat secara spiritual, tapi juga punya kepedulian sosial,” tambahnya.
Majelis ini pun perlahan menjadi ruang alternatif bagi pemuda untuk menyalurkan energi positif. Di tengah derasnya arus modernisasi, Tangga Seribu hadir sebagai penyeimbang, tempat anak muda bisa tetap nyambung dengan agama sekaligus aktif di lingkungan sosial.
Ditegaskannya, antusiasme yang terus tumbuh menunjukkan pendekatan ini diterima luas. Banyak pemuda yang awalnya hanya ikut-ikutan, kini mulai aktif dan menemukan makna dalam setiap kegiatan.
“Harapannya, Tangga Seribu bisa terus jadi ruang tumbuh bagi pemuda. Bukan cuma soal ibadah, tapi juga bagaimana mereka jadi pribadi yang bermanfaat untuk orang lain,” tutupnya. (rul/waw)






