Oleh: Achmad Muhlis, Direktur Utama IBS PKMKK dan Ketua Senat UIN Madura.
Peristiwa Isra’ Mi‘raj menempati posisi sentral dalamkonstruksi teologis dan spiritual Islam. Ia bukan sekadarperistiwa yang bersifat supranatural, melainkan peristiwatransformatif yang sarat makna sosial dan psikologis. Dalam khazanah keilmuan Islam klasik, peristiwa ini dibahas secaraserius oleh para ulama, salah satunya melalui penjelasan yang dinisbatkan kepada Syekh Ahmad al-Dardīr dalam karya-karyanya, terutama dalam tradisi syarah tauhid dan akidah Ahl al-Sunnah. Kitab al-Dardīr menegaskan bahwa Isra’ Mi‘rajadalah peristiwa nyata (haqīqī), terjadi dengan jasad dan ruhNabi Muhammad ﷺ, serta memiliki implikasi teologis, etis, dan sosial yang mendalam.
Dalam perspektif al-Dardīr, Isra’ Mi‘raj tidak dapatdireduksi sebagai pengalaman batin semata atau mimpi spiritual. Penegasan akan realitas peristiwa ini memiliki fungsiepistemologis dan pedagogis, menanamkan keyakinan bahwakekuasaan Allah melampaui hukum kebiasaan (khāriq lil ‘ādah). Dengan demikian, akidah umat dilatih untuk tidak membatasiAllah dengan logika empiris semata. Secara filosofis, hal inimembentuk kerangka berpikir transenden, yakni kesadaranbahwa realitas tidak hanya diukur oleh apa yang tampak, tetapijuga oleh apa yang diyakini melalui wahyu.
Dari sudut pandang sosiologi, Isra’ Mi‘raj terjadi pada fasekrisis sosial Nabi Muhammad ﷺ, pasca ‘Ām al-Ḥuzn, tahunduka akibat wafatnya Syaidah Khadijah dan Syayid Abu Thalib. Dalam konteks ini, Isra’ Mi‘raj berfungsi sebagai mekanismedivine legitimization. Ia mengukuhkan otoritas kenabian di tengah tekanan sosial, penolakan struktural, dan keterasingankolektif.
Lebih jauh, puncak Isra’ Mi‘raj melahirkan perintah shalatlima waktu, yang dalam perspektif sosiologis dapat dipahamisebagai institusionalisasi spiritualitas. Shalat tidak hanya ibadah individual, tetapi praktik sosial yang menata ritme kehidupanumat, menciptakan disiplin kolektif, dan membangun solidaritassosial. Dengan demikian, Isra’ Mi‘raj berkontribusi langsungpada pembentukan struktur sosial Islam yang berlandaskankesadaran vertikal (hubungan dengan Allah) dan horizontal (hubungan antarmanusia).
Dalam perspektif berbeda, Isra’ Mi‘raj dapat dibaca sebagaiperistiwa spiritual reinforcement. Nabi Muhammad ﷺ, sebagaimanusia dengan beban dakwah yang berat, mengalami tekananemosional dan psikologis yang sangat intens. Perjalanan Isra’ Mi‘raj menjadi pengalaman puncak (peak experience) yang menguatkan resiliensi psikologis beliau. Dialog langsungdengan Allah, penyaksian tanda-tanda kebesaran-Nya, sertapeneguhan misi kerasulan, berfungsi sebagai terapi ilahiah yang memulihkan energi psikis dan spiritual.
Bagi umat Islam, internalisasi makna Isra’ Mi‘raj berfungsiserupa. Ia menanamkan mekanisme koping religious, bahwadalam kondisi terendah sekalipun, selalu ada kemungkinan“kenaikan” spiritual. Shalat, sebagai buah Isra’ Mi‘raj, menjadisarana regulasi emosi, pengendalian stres, dan pembentukanketenangan jiwa. Dalam hal ini shalat di pandang sebagaiaktivitas yang menyatukan dimensi kognitif, afektif, dan spiritual dalam satu ritme yang menyehatkan jiwa.
Secara filosofis, Isra’ Mi‘raj sebagaimana dijelaskan dalamtradisi al-Dardīr mengajarkan dialektika antara penderitaan dan pencerahan. Kenaikan spiritual Nabi tidak terjadi dalam ruanghampa, melainkan lahir dari kedalaman luka sosial dan psikologis. Inilah pesan eksistensial Isra’ Mi‘raj, bahwapenderitaan bukan akhir, melainkan prasyarat transformasi.
Dalam konteks masyarakat modern, makna ini menjadisangat relevan. Isra’ Mi‘raj mengajarkan bahwa spiritualitassejati tidak menjauhkan manusia dari realitas sosial, tetapi justrumembekalinya dengan kekuatan batin untuk menghadapinya. Shalat sebagai warisan Mi‘raj bukan sekadar ritual formal, melainkan teknologi spiritual untuk membentuk manusia yang tangguh secara psikologis dan bertanggung jawab secara sosial.
Isra’ Mi‘raj dapat dipahami sebagai peristiwamultidimensional, teologis, sosiologis, dan psikologis sekaligus. Ia bukan hanya kisah perjalanan Nabi Muhammad ﷺ, tetapijuga peta jalan spiritual umat Islam dalam menghadapi krisis, membangun struktur sosial yang bermakna, serta menumbuhkanketahanan jiwa. Dalam kerangka inilah Isra’ Mi‘raj tetap hidup, bukan sebagai cerita masa lalu, tetapi sebagai energitransformatif yang terus relevan sepanjang zaman.




