KABAR MADURA | Perjalanan seorang pesepak bola kerap bermula dari hal-hal sederhana. Kisah itu pula yang dialami Rendy Razzaqu, kiper muda Madura United yang kini berlabel tim nasional Indonesia. Langkah awal Rendy di dunia sepak bola dimulai dari halaman rumah, melalui tendangan-tendangan kecil yang tidak jarang justru berujung masalah, seperti kaca jendela rumah yang pecah.
SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN
Sejak usia belia, Rendy sudah menunjukkan ketertarikan besar terhadap sepak bola. Bersama teman-temannya, pria kelahiran 2008 itu kerap menghabiskan waktu bermain bola di sekitar rumah. Dari permainan sederhana itulah, kecintaannya terhadap sepak bola tumbuh dan perlahan berubah menjadi mimpi yang terus ia jaga hingga saat ini.
Peran ibu menjadi sosok paling berpengaruh dalam perjalanan Rendy menekuni olahraga ini secara serius. Dukungan itu membuatnya berani melangkah lebih jauh, meski perjalanan di bawah mistar gawang tidak selalu berjalan mulus. Berbagai level kompetisi dia lalui, mulai dari bergabung dengan salah satu akademi sepak bola di Indonesia hingga akhirnya mendapat panggilan memperkuat Timnas Indonesia U-17.
“Hari pertama TC di timnas, latihan fisik, seperti lari dan lain-lain. Di hari kedua, saya langsung patah hidung waktu finishing dan akhirnya dioperasi. Jadi satu minggu istirahat, syukur masih bisa ikut,” ceritanya, Rabu (28/1/2026).
Alih-alih membuatnya mundur, cedera hidung itu justru menempa mental Rendy menjadi lebih kuat. Pengalaman itu membuatnya semakin memahami bahwa posisi penjaga gawang menuntut keberanian, ketenangan, serta karakter yang kokoh di lapangan.
“Memilih jadi kiper karena sebenarnya saya malas lari. Bagi saya, menjadi kiper harus memiliki kemampuan dan mentalitas di atas rata-rata pemain,” tambahnya.
Langkah penting dalam perjalanan karier Rendy juga tercatat saat dia memperkuat akademi Madura United U-20. Di tim tersebut, dia memperoleh menit bermain yang cukup untuk mengasah kemampuannya sekaligus mematangkan pengalaman bertanding.
Menurut Rendy, bertambahnya jam terbang memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya konsistensi. Dia meyakini bahwa semakin sering bermain, semakin tajam pula insting dan kemampuannya dalam membaca permainan lawan.
Keputusan Rendy bergabung dengan Madura United bukan tanpa pertimbangan. Dia melihat jalur pengembangan karier yang lebih jelas di klub berjuluk Laskar Sape Kerrab tersebut. Tidak hanya soal sepak bola, pria berusia 18 tahun itu juga merasakan kuatnya atmosfer kekeluargaan ketika menjadi bagian dari tim.
“Harapannya, bisa kembali dipanggil timnas dan mendapatkan menit bermain di tim senior,” tutup penggemar Cristiano Ronaldo tersebut. (zul)






