Oleh: Linda Tri Antika
Mahasiswa S3 Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang
Pengetahuan leluhur yang tumbuh dari pengalaman panjang masyarakat sesungguhnya dapat menjadi pijakan penting bagi bioprospeksi, pendidikan, dan pengembangan ilmu pengetahuan yang lebih membumi.
—
Laju modernisasi tidak selalu menuntut pengetahuan lama untuk ditinggalkan. Sebagian warisan justru perlu didengar kembali, terutama ketika lahir dari pengalaman panjang masyarakat dalam merawat kesehatan dan membaca alam sekitarnya. Kamandin Saebo merupakan salah satu contoh penting. Bagi masyarakat Madura, tumbuhan ini bukan sekadar herbal tradisional, melainkan bagian dari warisan pengetahuan leluhur yang hidup dalam praktik pengobatan sehari-hari. Kini, ketika sains modern mulai menelusuri identitas, kandungan, dan potensinya, Kamandin Saebo seolah mengetuk pintu dunia ilmiah untuk menegaskan bahwa kearifan lokal tidak pernah benar-benar usang; pengetahuan itu hanya menunggu dipahami dengan cara yang lebih mendalam (Purwanti et al., 2023; Hariri et al., 2021).

Bioprospeksi menjadi istilah penting untuk membaca ulang posisi Kamandin Saebo pada masa kini. Konsep ini merujuk pada upaya menelusuri, mendokumentasikan, dan mengembangkan potensi sumber daya hayati agar memiliki nilai ilmiah, kesehatan, dan manfaat yang lebih luas, dengan tetap bertumpu pada kearifan lokal. Arah semacam ini sangat relevan bagi Madura, sebab penelitian etnobotani di Sumenep menunjukkan bahwa masyarakat memanfaatkan sedikitnya 36 jenis tumbuhan sebagai obat tradisional untuk berbagai gangguan kesehatan. Kekayaan tersebut memperlihatkan bahwa praktik pengobatan berbasis tumbuhan di Madura bukan sekadar kebiasaan lama, melainkan sistem pengetahuan yang hidup dan diwariskan antargenerasi (Purwanti et al., 2020; Purwanti et al., 2023).
Posisi Kamandin Saebo menjadi sangat istimewa di antara kekayaan hayati tersebut. Kajian Purwanti et al. (2023) menunjukkan bahwa masyarakat Sumenep memandang tanaman ini sangat bernilai dan mengaitkannya dengan 14 fungsi pengobatan. Sakit perut, sakit kepala, diare, asma, nyeri badan, wasir, penyakit kulit, sakit mata, sakit gigi, asam urat, cedera atau keseleo, nyeri lutut, nyeri punggung, hingga gangguan lambung termasuk dalam ragam keluhan yang secara tradisional dihubungkan dengan pemanfaatan Kamandin Saebo. Ragam penggunaan itu penting dalam bioprospeksi, karena pengalaman empiris masyarakat sering menjadi titik awal bagi ilmuwan untuk menentukan tumbuhan mana yang layak diteliti lebih lanjut (Purwanti et al., 2023).
Cara pengolahan Kamandin Saebo juga memperlihatkan kedalaman pengetahuan lokal yang tidak sederhana. Masyarakat meraciknya dengan berbagai metode, seperti direbus, ditumbuk, dicampur jahe, dicampur kunyit, atau direndam dalam minyak untuk penggunaan luar. Praktik semacam ini menunjukkan bahwa masyarakat bukan sekadar memanfaatkan tumbuhan secara spontan, melainkan memiliki logika peracikan yang lahir dari pengalaman panjang, observasi, dan pewarisan antargenerasi. Nilai semacam inilah yang membuat bioprospeksi tidak boleh berhenti pada pencarian senyawa aktif di laboratorium, tetapi juga harus membaca konteks budaya tempat pengetahuan itu tumbuh (Purwanti et al., 2023).
Kejelasan identitas ilmiah Kamandin Saebo semakin memperkuat arah bioprospeksinya. Hariri et al. (2021) menunjukkan melalui identifikasi molekuler dan karakterisasi morfologi bahwa Kamandin Saebo merupakan Glossocardia leschenaultii (Cass.) Veldkamp, anggota suku Asteraceae. Kajian tersebut juga menegaskan bahwa spesies ini merupakan tumbuhan endemik Pulau Madura. Kepastian nama jenis, status taksonomi, dan ciri morfologi sangat penting karena penelitian lanjutan mengenai kandungan, khasiat, dan konservasi tidak akan kokoh tanpa fondasi botani yang jelas. Sains modern, dalam hal ini, berfungsi bukan untuk menggantikan pengetahuan masyarakat, melainkan untuk memverifikasi dan memperkuatnya (Hariri et al., 2021).
Persoalan lain yang tak kalah penting adalah kelangkaan. Purwanti et al. (2023) melaporkan bahwa Kamandin Saebo ditemukan di beberapa wilayah Sumenep, seperti Guluk-Guluk, Payudan Daleman, Lengkong Daya, dan wilayah sekitarnya. Keterangan dari tetua desa dalam penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa tanaman ini semakin langka dan sulit ditemukan. Situasi ini memberi peringatan yang tegas: bioprospeksi tidak boleh dipahami semata-mata sebagai pencarian manfaat ekonomi atau medis, melainkan harus berjalan beriringan dengan konservasi. Hilangnya satu spesies berarti hilangnya sumber daya hayati sekaligus pengetahuan lokal yang telah lama melekat padanya (Purwanti et al., 2023).
Minat dunia ilmiah terhadap Kamandin Saebo kini mulai bergerak dari dokumentasi etnobotani menuju kajian botani farmaka. Hasanah et al. (2026) melaporkan bahwa ekstrak Kamandin Saebo mengandung flavonoid, steroid, alkaloid, dan tanin. Uji sitotoksisitas terhadap sel kanker payudara T47D memperlihatkan bahwa ekstrak n-heksana menunjukkan aktivitas paling baik dibandingkan ekstrak etil asetat dan metanol, dengan nilai IC50 sekitar 107 µg/mL, sedangkan etil asetat sekitar 272 µg/mL dan metanol sekitar 340 µg/mL. Temuan ini belum dapat dibaca sebagai bukti klinis pada manusia, tetapi cukup kuat untuk menempatkan Kamandin Saebo sebagai kandidat penting dalam jalur bioprospeksi farmakologis bahan alam Indonesia (Hasanah et al., 2026). Dengan kata lain, temuan awal menunjukkan bahwa Kamandin Saebo layak dipertimbangkan sebagai kandidat bahan alam dalam riset antikanker, karena ekstraknya—khususnya fraksi n-heksana—telah menunjukkan aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker payudara T47D, meskipun bukti yang tersedia masih terbatas pada level laboratorium.
Kehati-hatian ilmiah tetap harus dijaga saat membaca hasil-hasil awal tersebut. Potensi bioaktivitas tidak otomatis berarti tanaman itu siap digunakan sebagai obat modern. Tahap identifikasi senyawa aktif, uji toksisitas, uji praklinis, hingga uji klinis masih menjadi pekerjaan panjang yang harus ditempuh secara ketat. Sikap ilmiah yang paling sehat bukanlah membesar-besarkan temuan awal, melainkan menghargai potensinya sambil tetap menjaga akurasi dan tanggung jawab akademik. Jalan bioprospeksi yang baik selalu berjalan di antara harapan dan kehati-hatian (Hasanah et al., 2026; Purwanti et al., 2023).
Konteks pendidikan membuat Kamandin Saebo semakin relevan. Tanaman ini dapat dijadikan contoh nyata pembelajaran yang menghubungkan biologi, budaya, kesehatan, dan lingkungan secara bersamaan. Siswa dapat mempelajari klasifikasi tumbuhan, metabolit sekunder, konservasi biodiversitas, serta cara pengetahuan tradisional didokumentasikan dan diuji secara ilmiah. Arah pembelajaran seperti ini akan membuat sains terasa lebih dekat dengan kehidupan, sekaligus menumbuhkan penghargaan terhadap kekayaan hayati lokal. Bioprospeksi, dengan demikian, bukan hanya agenda riset, tetapi juga strategi pendidikan untuk membangun literasi saintifik yang kontekstual dan membumi (Purwanti et al., 2020; Purwanti et al., 2023).
Kamandin Saebo pada akhirnya bukan hanya kisah tentang satu tanaman obat dari Madura. Tanaman ini merupakan cermin tentang bagaimana bangsa ini seharusnya memperlakukan pengetahuan lokal: didengar, didokumentasikan, diteliti, lalu dijaga keberlanjutannya. Penelitian telah membantu memastikan identitas botanisnya, memperlihatkan nilai budaya dan potensinya dalam kerangka bioprospeksi, dan mulai membuka jalan bagi pengujian farmakologisnya. Tugas berikutnya adalah memastikan bahwa seluruh pengetahuan itu tidak berhenti di jurnal, melainkan bergerak menjadi agenda nyata dalam konservasi, pendidikan, dan pengembangan obat bahan alam Indonesia yang berakar kuat pada kearifan lokal.




