KABAR MADURA | Kematian seorang prajurit muda berpangkat Kelasi Dua TNI Angkatan Laut asal Bangkalan, Ghofirul Kasyfi (22), menimbulkan tanda tanya besar. Pihak keluarga menduga korban mengalami kekerasan sebelum akhirnya ditemukan meninggal dunia di kabin kapal tempatnya bertugas di Jakarta.
Ayah korban, Mahbub Madani, mengungkapkan bahwa anaknya baru saja dilantik pada Desember 2025 di Surabaya, lalu ditempatkan di Jakarta pada awal Februari 2026, tepatnya di KRI Rajiman Wedyodiningrat.
“Awalnya dia sangat bangga. Berangkat dengan semangat, tidak pernah mengeluh sejak kecil,” ujarnya, Senin (4/5/2026).
Namun, sekitar satu bulan setelah bertugas, korban mulai menghubungi keluarganya dan mengaku tidak kuat menjalani tugas.
“Dia bilang, ‘Pak, saya tidak kuat di sini. Saya disiksa’. Itu pertama kalinya dia mengeluh,” ungkapnya.
Menurut Mahbub, anaknya pernah mengaku mendapat perlakuan keras dari sejumlah senior, bahkan jumlahnya disebut mencapai puluhan orang.
“Dia bilang bukan satu dua orang, tapi sampai 60 orang,” ungkapnya.
Awalnya, keluarga menganggap hal itu sebagai bagian dari masa orientasi. Namun, karena keluhan korban terus berulang, kekhawatiran pun mulai muncul. Korban bahkan sempat meminta agar dipindahkan ke Surabaya.
Beberapa waktu kemudian, keluarga mendapat informasi bahwa korban diduga meninggalkan kapal. Seseorang yang mengaku sebagai atasan korban disebut sempat mendatangi rumah keluarga di Bangkalan untuk mencari keberadaan korban.
Namun, sehari setelah kabar tersebut, keluarga justru menerima kabar duka. Korban ditemukan meninggal dunia di kamar, dengan dugaan awal bunuh diri berdasarkan informasi yang diterima keluarga dari pihak TNI Angkatan Laut.
“Kami kaget. Kemarin katanya dicari karena tidak ada, tapi besoknya ditemukan meninggal di kamar,” ujarnya.
Kecurigaan keluarga semakin kuat setelah melihat kondisi jenazah. Mahbub menyebut menemukan sejumlah luka lebam pada tubuh anaknya.
“Banyak lebam di tubuhnya, bahkan ada darah keluar dari hidung. Kalau dibilang gantung diri, bekas lukanya tidak sesuai,” katanya.
Mahbub juga menjelaskan, bekas jeratan yang ditemukan berada di bagian leher yang dinilai tidak lazim untuk kasus gantung diri.
“Harusnya bekasnya di atas, tapi ini di bagian depan. Saya mulai curiga,” tegasnya.
Pihak keluarga sempat meminta dilakukan autopsi untuk memastikan penyebab kematian. Namun, proses tersebut tidak dilakukan sebelum pemakaman.
“Saya ingin autopsi, karena saya tidak percaya anak saya bunuh diri,” ujarnya.
Mahbub mengaku sangat tidak terima dengan kejadian tersebut. Anak yang berangkat dengan rasa bangga untuk mengabdi kepada negara, justru pulang dalam kondisi meninggal dunia dengan dugaan penganiayaan.
“Saya sangat tidak terima, anak saya mengalami hal-hal yang sangat tidak wajar karena dia berangkatnya merasa bangga diterima di angkatan laut, tahunya pulang tinggal mayatnya,” rintih Mahbub saat memberikan keterangan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak TNI Angkatan Laut terkait penyebab pasti kematian korban. Kasus ini menjadi perhatian keluarga yang berharap adanya penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap fakta di balik kematian prajurit muda tersebut. (fik/zul)





