KABARMADURA.ID | Menilik tentang pemikiran para tokoh menjadi agenda rutin yang dilakukan oleh komunitas Simposium. Tujuannya, tentu tidak hanya sebatas untuk berbicara panjang lebar secara bergiliran di setiap anggota. Melainkan di dalamnya ada upaya untuk membentuk pola pikir yang kritis melalui kajian-kajian pemikiran para tokoh.
PAMEKASAN, SAFIRA NUR LAILY
Simposium berdiri sejak tahun 2020 silam. Selama kurun waktu tiga tahun terakhir, komunitas yang berpusat di Blumbungan ini konsisten merangkul kaula muda untuk melakukan hal positif. Seperti mengkaji pemikiran tentang RA. Kartini mengenai kesetaraan gender, nasionalisme Soekarno, hingga pemikiran tokoh barat terus menjadi fokus utama dalam setiap pertemuannya. Tidak hanya itu, isu fenomenal lain pun turut serta menjadi pelengkap dalam perbincangan komunitas Simposium.
“Secara kompleks, Simposium merupakan tempat untuk belajar. Secara ontologis, wadah untuk memberikan ruang para anggota untuk saling bertukar pendapat tentang suatu isu,” ucap salah satu penggerak Simposium, Winda.
Dia menambahkan, tidak ada batas kelas sosial untuk mengikuti kajian yang diadakan, semua kalangan berhak mengikutinya, tanpa melihat latar belakang sosial dan organisasi.
Pihaknya juga menyediakan Simposium Books, yakni toko buku mini untuk menunjang minat baca masyarakat. Selain itu, ada kegiatan tulis menulis yang kemudian dipublikasikan melalui website resmi Simposium dengan berbagai macam genre, seperti opini, artikel, sastra, ataupun lainnya. Serta ada giat pemberdayaan masyarakat guna membantu pemberdayaan sosial.
“Kami ada penunjang keilmuan juga, seperti seminar, talkshow, dan lain-lain. Itu juga menjadi konsen kami,” terangnya.
Redaktur: Sule Sulaiman





