KABAR MADURA | Di usia yang melebihi dari separuh abad, Chandra Kirana Nasso kini masih aktif menjadi relawan. Motivasinya tidak muluk-muluk, hanya ingin membantu orang yang sedang kesusahan atau terkena musibah. Dari motivasi itulah, ia rela menjadi relawan sejak 2012 hingga sekarang. Bahkan, dirinya bertekad akan pensiun menjadi relawan ketika sudah meninggal.
SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN
Bagi Candra, tidak ada yang lebih memuaskan hati selain melihat orang-orang tersenyum. Oleh karena itu, perempuan kelahiran 1967 itu mendedikasikan diri untuk selalu membantu sesama meski tanpa imbalan.
“Oleh keluarga, sejak kecil saya dididik untuk selalu membantu orang. Dari situ lah, keinginan menjadi relawan mulai tumbuh. Saya senang ketika melihat orang bahagia,” ungkapnya, Kamis (31/10/2024).
Selama 12 tahun perjalanannya menjadi relawan, ada satu hal yang sangat berkesan baginya, yakni saat menjadi tim Satgas Covid-19 pada 2020 lalu. Saat itu, perempuan yang kesehariannya menjadi guru di MAN 2 Pamekasan itu bertugas menjadi pemandi jenazah. Tidak dipungkiri, ada kegelisahan tersendiri dalam hatinya, karena virus itu menular. Namun, ia tetap melanjutkan kerelawanannya itu.
Kini, tidak terhitung berapa orang yang sudah ditolong olehnya. Mulai dari evakuasi korban bencana dan lain-lain. Baginya, aksi kemanusiaan itu adalah hal yang menyenangkan. Maka dari itu, perempuan peraih predikat guru berprestasi tingkat MA Kemenag RI 2023 itu berharap, di Pamekasan muncul relawan-relawan muda yang benar-benar tulus membantu sesama.
“Jadi relawan itu harus sehat dulu, baru bisa bantu atau menyelamatkan orang lain. Dan saya berpegang teguh pada sebaik-baiknya manusia adalah yang memberikan manfaat bagi orang lain,” tukas perempuan yang bermukim di Jalan KH. Agussalim Gg 5 Nomor 53 Pamekasan itu.





