KABAR MADURA | Memasuki puncak musim kemarau, wilayah terdampak kekeringan di Pamekasan tahun ini belum ditetapkan secara resmi. Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kemarau telah berlangsung sejak Juni lalu. Namun, anomali cuaca membuat hujan masih sesekali turun di rentang waktu tersebut.
Plt. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pamekasan Akhmad Dofir Rosidi menjelaskan, pihaknya kini sedang melakukan pendataan sekaligus pemetaan daerah-daerah yang masuk kategori kekeringan.
“Pendataannya belum selesai, sedang kami proses. Puncak musim kemarau itu bulan Agustus sampai September,” ujarnya, Selasa (12/8/2025).
Dofir menyebut, sejumlah warga sudah mengajukan bantuan air bersih, seperti di Larangan Badung, Kecamatan Palengaan, dan beberapa wilayah lainnya. Meski belum ada anggaran khusus, BPBD Pamekasan tetap memenuhi permintaan tersebut.
Dia juga menambahkan, pihaknya akan mengajukan dana darurat untuk menutup kebutuhan distribusi air bersih selama musim kemarau.
“Pengajuannya bermacam-macam, ada yang tiga tangki. Target selesai pendataan mungkin minggu depan,” imbuhnya.
Sementara itu, salah seorang warga Desa Sana Laok, Kecamatan Waru, Nur Khotimah, mengaku wilayahnya setiap tahun mengalami kekeringan saat musim kemarau, tetapi selalu luput dari bantuan air bersih dari pemerintah daerah.
Dia berharap, tahun ini bantuan bisa terealisasi. Sebab selama ini masyarakat harus membeli air bersih demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban warga.
“Kalau sekarang air masih aman. Tapi kalau sudah puncak kemarau hingga menjelang musim hujan, kita harus beli air secara mandiri,” ungkapnya. (nur/zul)





