Dari Krisis Makna ke Puncak Ilmu: Reinkarnasi Akademik Achmad Muhlis

Opini172 views

Oleh: Achmad Muhlis

(Direktur Utama IBS PKMKK)

Perjalanan intelektual Achmad Muhlis bukan sekadar kisah akademik, tapi sebuah rekonstruksi batin seorang manusia yang sempat kehilangan arah di persimpangan rutinitas, lalu menemukan kembali cahaya makna yang lama meredup oleh kesibukan struktural, tuntutan institusi, dan gelombang kejenuhan yang datang tanpa permisi. Ini bukan perjalanan yang dirancang untuk mengejar gelar, melainkan metamorfosis sunyi yang lahir dari tempaan waktu, pergulatan nilai, dan renungan panjang tentang apa arti “mengabdi” dalam dunia ilmu.

Seperti seorang pengelana yang tersesat di hutan makna, Muhlis berjalan dalam kabut birokrasi yang tebal ketika menjabat Wakil Dekan II Fakultas Tarbiyah pada 2019, masa ketika gelar doktor baru saja ia raih, namun jiwanya justru merasakan kehampaan. Rutinitas administratif yang berulang, rapat-rapat tanpa ruh, dan beban struktural yang tak lagi memberikan energi intelektual, membuatnya berada di ambang titik balik, di dalam dirinya bergema bisikan sunyi:“Apakah ini jalan yang harus kutempuh selamanya?”.

Ia pun merencanakan sesuatu yang jarang dilakukan akademisi, yakni mengundurkan diri dari PNS, meninggalkan struktur yang selama ini menaunginya. Ia ingin memusatkan hidup pada lembaga yang ia lahirkan sendiri, IBS Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning, tempat di mana udara terasa lebih jujur dan langkah manusia tidak dibatasi prosedur.

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

Namun, tiga kali ia mengutarakan maksud itu kepada ibunda tercinta dan tiga kali pula ia ditolak. Penolakan itu bukan sekadar “tidak setuju”, melainkan peneguh takdir yang belum ia mengerti. Ada hikmah yang saat ini baru ia sadari, yakni jalan hidupnya belum selesai di ranah akademik, masih ada ilmu yang menunggu untuk dilahirkan kembali melalui dirinya.

Baca Juga:  Digitalisasi Amanah Pendidikan, Kolaborasi Guru, Orang Tua, Masyarakat: Temu Wali Santri IBS PKMKK dan Integrasi School Talk

Dari kejenuhan itu, lahirlah gelombang karya yang mengubah lintasan hidupnya, pertama, ia menulis artikel “The Demise of Sufi Values in Islamic Educational Institution: Bullying in Madurese Pesantrens”, sebuah refleksi kritis tentang pudarnya nilai-nilai sufistik dalam kultur pesantren. Tulisan ini bukan sekadar analisis fenomena perundungan, tetapi jeritan halus seorang pencari makna yang merindukan spiritualitas yang tulus dan mendalam dalam lembaga pendidikan Islam. Artikel ini terbit di Ulumuna Journal of Islamic Studies, jurnal bereputasi Scopus Q1.

Kedua, ia menerbitkan artikel “Transformation beyond Transgression: Resistance-based System Improvement in Kitab Kuning Reading Acceleration Program” di Nazhruna (Scopus Q1). Di sini, ia menafsirkan perilaku santri yang sering dianggap “melampaui batas” justru sebagai mekanisme resistensi internal yang memperbaiki tata kelola dan sistem pembelajaran kitab kuning. Perspektif sosiologis yang ia hadirkan seolah memadukan nalar ilmiah dengan intuisi spiritualitas pesantren. Kedua karya ini menjadi bukti bahwa krisis makna tidak selalu menghancurkan, tapi terkadang justru akan melahirkan dunia baru dalam diri manusia.

Puncak dari transformasi ini adalah diterimanya proposal penelitian jangka panjang yang didanai oleh LPDP Kementerian Agama RI, berjudul “Model Integrasi Pendidikan Ekoteologi Pesantren Berbasis Konservasi Sumber Daya Lokal dan Ekonomi Sirkular” (2025–2027). Proyek ini bukan sekadar penelitian, tapi merupakan manifestasi dari perjalanan rohani seorang akademisi yang mulai memahami bahwa ilmu, bumi, dan kemanusiaan bukanlah entitas yang terpisah. Di sinilah terjadi “kelahiran kedua” dalam dunia akademik, sebuah reinkarnasi intelektual yang menautkan pesantren dengan ekologi, maqāṣid keberlanjutan, spiritualitas dengan konservasi lingkungan.

Baca Juga:  Membaca Bertambahnya Doktor di IBS PKMKK sebagai Transformasi Sosial-Intelektual

Muhlis seakan memasuki fase baru, di mana krisis yang dulu hendak menenggelamkannya justru menjadi jembatan menuju puncak akademik Guru Besar dalam bidang Sosiologi Pendidikan Islam, gelar yang tidak pernah ia bayangkan, bahkan tidak pernah ia kejar.

Perjalanan akademik ini pada hakikatnya adalah kisah tentang kelahiran Kembali, seorang manusia yang hampir menyerah pada kejenuhan, namun diselamatkan oleh nilai-nilai yang ia yakini, oleh doa seorang ibu, dan oleh daya hidup ilmu yang selalu memanggil. Kadang, seseorang harus kehilangan makna untuk menemukannya kembali pada tingkat yang lebih tinggi. Kadang, seseorang harus tersesat untuk menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri.

Dan kadang, puncak ilmu justru ditemukan setelah seseorang berani menapaki lembah-lembah keraguan. Inilah reinkarnasi akademik Achmad Muhlis, sebuah perjalanan dari krisis menuju kejelasan, dari jenuh menuju kejernihan, dari rutinitas menuju kelahiran gagasan, dan dari kebisuan batin menuju puncak ilmu yang tak pernah ia duga.

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *