M. Khairul Umam: Tim Relawan Bawang Mas Grup, Jurnalis Kabar Madura
Pagi ini, 12 Januari 2026, subuh belum benar-benar usai ketika saya terbangun. Jam di ponsel menunjukkan 05.00 WIB. Ada rasa kantuk yang masih menggantung, tetapi pikiran sudah lebih dulu berjalan jauh, menuju Aceh. Siang nanti, sekitar pukul 14.00 WIB, kami dijadwalkan berangkat. Perjalanan panjang menunggu, dimulai dari Pamekasan menuju Bandara Juanda Surabaya, kurang lebih empat jam di jalan.
Bangun lebih pagi dari biasanya bukan tanpa alasan. Ada banyak hal yang harus dipastikan: perlengkapan, dokumen, dan yang terpenting, kesiapan mental. Hari ini bukan perjalanan liputan biasa. Kami membawa niat lain, menyalurkan bantuan untuk korban banjir di Aceh.
Meski terasa berat meninggalkan keluarga tercinta, namun inilah sebuah pengabdian menjadi relawan kemanusiaan.
Kami berangkat berempat dari Pamekasan. Empat orang bersama saya adalah satu tim, orang-orang yang sejak awal sepakat bahwa perjalanan ini bukan sekadar datang dan melihat, melainkan hadir dan membantu. Tepat pukul 07.00, mobil meninggalkan Pamekasan. Jalanan masih relatif lengang, seolah memberi ruang bagi pikiran untuk menata ulang tujuan perjalanan ini.
Kami tiba di bandara sekitar 12.00. Di ruang tunggu, sebelum suara pengumuman boarding memanggil, kami sempatkan solat duhur dan asar yang dijamak. Sebelum menaiki tangga pesawat kami diskusi singkat terkait titik lokasi pertemuan dengan relawan asal Nusa Tenggara Timur yang sudah berada di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) Jakarta.
Jadwal penerbangan pesawat dari Bandara Juanda Surabaya ke Soetta delay sekitar satu jam. Dari pihak maskapai menyampaikan bahwa kondisi cuaca buruk. Sehingga banyak jadwal penerbangan yang tertunda.
Meski sempat ada rasa ragu dan bimbang ketika kondisi cuaca buruk, namun niat dan tekad tetap harus melangkah maju untuk menjadi relawan.
Di sela-sela menunggu kepastian penerbangan, kami sempatkan membahas jadwal selama di Aceh, membagi peran, dan menyamakan langkah. Tidak ada pembicaraan yang terlalu teknis, tapi cukup untuk memastikan kami bergerak sebagai satu tim.
Di dalam pesawat, suasana cenderung hening. Tidak banyak yang dibicarakan. Mungkin masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri, tentang seperti apa kondisi di sana, tentang air yang merendam rumah, tentang orang-orang yang menunggu uluran tangan. Pesawat sempat transit di Jakarta sekitar satu jam, lalu kembali melanjutkan perjalanan.

Di Bandara Soetta kami sempat menjemput satu orang rekan relawan. Melepas tawa dan rindu, karena sebelumnya sama-sama menjadi satu tim relawan pada penyaluran donasi atas nama Madura untuk Aceh.
Tim kami ada enam orang, terdiri dari Solihin Pure, Azif Mawardi Zein, M. Khairul Umam, Bahrul Rozi, Khairul Rozi. Sementara satunya, Dedi HS, sudah berangkat lebih awal ke Aceh.
Sekitar pukul 20.00 WIB, kami mendarat di Bandara Internasional Kualanamu (KNO), Medan. Rasa lelah perlahan berganti dengan kesiapan. Kami langsung disambut rekan di lokasi. Tanpa banyak jeda, kami diantar menuju hotel untuk beristirahat.
Malam itu, kami menutup hari dengan makan malam sederhana. Obrolannya ringan, tapi arah pembicaraan jelas: agenda esok hari.
Paginya, sekitar pukul 09:00, dengan mobil yang sudah kami sewa, tim memulai perjalanan meninggalkan Medan menuju Kabupaten Aceh Tamiang, perbatasan antara Provinsi Aceh dan Sumatra Utara (Sumut). Kabupaten tersebut memang target awal yang kami kunjungi karena jadi salah satu wilayah yang terdampak banjir bandang.
Perjalanan darat selama lima jam yang kami lalui ditempuh dengan berat. Mobil sempat terperosok ke dalam lumpur saat kami tiba di Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang. Beruntung bisa cepat teratasi lalu kami lanjutkan perjalanan.
Kecamatan Karang Baru memang lokasi yang kami tuju untuk menyalurkan bantuan, yakni di Pesantren Darul Mukhlisin. Tim tiba sekitar pukul 14:00. Efisiensi waktu membuat tim harus bergerak cepat. Pendataan kebutuhan pesantren langsung dilakukan. Kemudian dilanjutkan belanja bantuan tersebut.
Sayangnya, belanja bantuan tidak bisa dipenuhi di Aceh Tamiang. Kami harus berangkat ke Kota Langsa, durasi perjalanan sekitar satu jam. Dua ustaz Pesantren Darul Mukhlisin, Mahmuri dan Syaiful Bahri, kami bawa serta.
Di Langsa, bantuan yang berhasil dibelanjakan di antaranya laptop, komputer, printer, kursi, meja, dan sound aktif. Masing-masing dua unit. Tim kemudian kembali ke Aceh Tamiang.

Setibanya di Aceh Tamiang, ada kejadian unik yang membuat tim terkejut. Tiba-tiba terjadi kepanikan dari warga pesantren karena mengira dua ustaznya diculik. Belakangan diketahui ponsel kedua ustaz mati saat di perjalanan. Lantaran tidak bisa dihubungi, lalu menimbulkan kepanikan serentak. Setelah diketahui musababnya, peristiwa itu justru akhirnya berujung jadi gelak tawa.
Rampung menyalurkan bantuan, tim berencana melanjutkan perjalanan ke Langsa kemudian berlanjut ke Sumatra Barat. Sayang, hari sudah malam. Sehabis Isya kami putuskan cari penginapan di Aceh Tamiang. Namun kendala kembali terjadi. Setelah menyisir beberapa lokasi, tidak ada satu pun penginapan memiliki stok air bersih yang memadai. Bahkan, saat dicoba hunting via aplikasi, kondisi serupa juga terjadi. Hingga pukul 23:00, belum ada penginapan yang berhasil didapat, sehingga kami putuskan membangun tenda.
Sampai di sini dulu catatan hari ini. Besok, perjalanan sebenarnya dimulai lagi, ketika rencana akan kembali menghadapi berbagai ujian lapangan.
Bersambung ke Seri 2





