KABAR MADURA| Isu lingkungan di Madura kian mendesak, terutama di wilayah pesisir yang rentan terhadap abrasi dan kerusakan ekosistem. Dalam konteks itu, peran jurnalis dinilai tidak cukup hanya berhenti pada pemberitaan, melainkan perlu diikuti langkah konkret di lapangan.
Komitmen tersebut mulai ditegaskan Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP) dengan menjadikan isu lingkungan sebagai salah satu fokus utama kepengurusan periode 2025–2027. Organisasi kewartawanan itu mendorong anggotanya tidak hanya mengedukasi publik melalui tulisan, tetapi juga terlibat langsung dalam upaya pelestarian.
Ketua AJP M. Khairul Umam menyatakan, jurnalis memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran masyarakat sekaligus mengawal kebijakan lingkungan. Namun, menurutnya, tantangan yang semakin kompleks menuntut peran yang lebih aktif.
“Isu lingkungan hari ini tidak bisa hanya disuarakan lewat tulisan. Harus ada langkah konkret. Kami ingin memulai dari hal sederhana dengan aksi nyata,” ujarnya.
Ia menegaskan, keterlibatan langsung jurnalis merupakan bagian dari tanggung jawab moral, sekaligus upaya memperkuat pesan yang disampaikan kepada publik.
Pandangan serupa disampaikan aktivis lingkungan Nur Faisal. Ia menilai, ketika jurnalis turun langsung ke lapangan, dampaknya terhadap pembentukan opini publik akan lebih kuat.
“Jurnalis punya kekuatan membentuk opini. Ketika mereka ikut terlibat dalam aksi nyata, pesan yang disampaikan akan lebih mengena,” katanya.
Menurut Faisal, kawasan pesisir seperti di Kecamatan Pademawu dan Tlanakan membutuhkan perhatian serius. Penanaman mangrove menjadi salah satu solusi penting untuk menahan abrasi sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem.
Komitmen tersebut diwujudkan AJP melalui aksi penanaman mangrove dan pelepasan burung di kawasan Ekowisata Mangrove, Desa Lembung, Kecamatan Galis, Senin (13/4). Kegiatan itu menjadi penanda pembukaan rapat kerja (raker) pengurus periode 2025–2027 yang dirangkai dengan halalbihalal.
Acara tersebut dihadiri sejumlah pihak, mulai dari perwakilan Perum Perhutani KPH Madura, aktivis lingkungan, hingga mahasiswa pecinta alam.
Ketua LMDH Sabuk Hijau Desa Lembung, Slaman, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia berharap aksi serupa terus berlanjut dan melibatkan lebih banyak elemen masyarakat.
“Kami sangat berterima kasih. Semoga ini tidak berhenti di sini, tapi menjadi gerakan bersama untuk menjaga mangrove di Lembung,” tandasnya. (km96/waw)





