Oleh : Ahmad Sahidah
Dosen Filsafat Ilmu Program Doktor Universitas Nurul Jadid
Di minggu April 2024, saya mendampingi murid-murid Sekolah Dasar Namira Kraksaan berkunjung ke Kuala Lumpur. Sekolah tempat anak saya belajar ini melakukan kegiatan belajar di luar negeri (Studi abroad) selama empat hari. Lembaga yang dilawati adalah Sekolah Rendah Setia Budi yang berada di bawah naungan Universitas Islam Internasional Malaysia.
Institusi yang berada di Gombak ini juga memperkenalkan kami pada sekolah serupa yang menggunakan sistem Cambridge, Islamic International School Malaysia. Berbeda dengan yang pertama, sekolah ini sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris, tempat murid-murid Namira merasakan pengalaman belajar dalam suasana yang berbeda. Ketika mengantar mereka ke kelas, saya mendengar anak-anak di sini menggunakan bahasa Inggris dengan fasih. Alah bisa karena biasa.
Sementara Setia Budi sepenuhnya menggunakan kurikulum nasional dengan pengantar bahasa kebangsaan, Malaysia. Di sini, murid-murid Namira mengikuti kegiatan, seperti salat berjemaah dan melihat dari dekat bagaimana mencermati pembelajaran yang di lakukan di luar kelas dan melihat rak buku yang diletakkan di depan kelas tempat mereka bisa membaca karya fiksi dan nonfiksi.
Pada acara pembukaan, kegiatan dilaksanakan dengan menggunakan bahasa Inggris. Pada waktu yang sama, ada kunjungan SMP Sabilillah Malang, yang siswi perwakilan bisa berbahasa Anglo-Saxon dengan logat yang sempurna. Ini artinya, penguasaan bahasa Inggris kini bisa dicapai oleh siapa saja. Bahkan teman putri saya juga bisa melakukan hal serupa berkat ketekunannya belajar bicara melalui kanal Youtube. Apalagi, kini ada aplikasi, seperti Duolinggo, yang bisa membantu siapa saja belajar dengan mudah dan menyenangkan. Jadi, penguasaan bahasa asing kini tidak lagi didominasi oleh sekolah elite.
Dengan demikian, generasi baru yang sangat akrab dengan media sosial kini memiliki peluang yang luas untuk menggunakan bahasa tersebut dengan baik. Namun, kemampuan ini juga tergantung pada penggunaan sebagai bahasa pengantar pengajaran dan pembiasaan komunikasi di sekolah dan di lingkungan masing-masing. Tentu, pada akhirnya, bahasa apa pun adalah alat untuk menyampaikan pesan, baik lisan dan tulisan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga terkait dengan identitas dan relasi kuasa, sebagaimana pernah dibahas Michel Foucault. Filsuf ekistensialis ini pernah berujar bahwa bahasa Inggris secara lisan tidak terlalu baik sehingga penulis Folie et Déraison: Histoire de la folie à l’âge classique (Kegilaan dan Peradaban: Sejarah Kegilaan di Zaman Rasio (Abad Klasik/Pencerahan Kegilaan dan Peradaban) ini lebih memilih menggunakan bahasa ibunya, Perancis, ketika berdebat dengan Noam Chomsky tentang hakikat manusia.
Sayangnya, bahasa Inggris kadang dipakai untuk mengaburkan, yakni hendak menunjukkan diri sebagai sosok terpelajar. Tak dapat dielakkan, seorang sarjana menulis taken for granted baik lisan dan tulisan, untuk menunjukkan padanan menganggap sesuatu sebagai hal biasa tanpa kritik. Alih-alih hendak mewujudkan komunikasi yang setara sebagai syarat efektivitas percakapan, justru komunikator hendak mendatangkan kesan sebagai individu yang terdidik. Padahal, kesarjanaan itu adalah identitas yang terkait dengan kepiawaian menyampaikan pesan dengan menimbang keadaan dan komunikan.
Di tengah kecelaruan (absurditas) ini, kita perlu mengembalikan fungsi bahasa pada kedudukan semula, yakni alat berkomunikasi, di mana seseorang hendak menyampaikan pesan dan makna pada mitra agar dapat mencapai kesepakatan minimal. Bagaimanapun, perbedaan latar belakang pendidikan dan cara berpikir akan selalu mendudukkan orang pada posisi berlawanan, sehingga masing-masing harus menunda idealisme. Kematangan seseorang ditunjukkan pada keberterimaan pada mufakat dengan meletakkan tujuan bersama sebagai pencapaian tertinggi.
Itulah mengapa Henry Giroux, pedagog kritis, mengusulkan kemungkinan daya ucap (bahasa) baru agar manusia belajar kembali untuk memeriksa apa tujuan pendidikan. Bila ia disepakati sebagai penanaman budi pekerti dan keterampilan, dengan sendirinya ia mengandaikan kebutuhan lokal dan khusus seraya tidak mengabaikan kebutuhan global dan umum. Di sinilah, kita seharusnya tidak lagi terperangkap pada polarisasi yang selama ini selalu menghalangi banyak orang untuk membuka diri.
Betapapun Giroux sendiri menegaskan sebagai pedagog kritis, dengan menolak mazhab tradisional dan liberal, kita tentu tidak ingin terperangkap pada penyederhanaan dan pengkotakan. Apabila bahasa memang diyakini sebagai alat, maka kita betul-betul berusaha untuk mencari kata yang sama tentang apa itu baik dan terampil. Sejauh pengalaman saya, apa yang dianggap bertentangan itu hakikatnya saling mengisi. Bukankah pengakuan kita pada Tuhan wujud karena ada penafian? Tetapi, apa yang sebenarnya diakui dan dinafikan? Seeloknya, bahasa yang matang bukanlah bahasa yang paling asing terdengar, melainkan bahasa yang paling mampu dipahami dan memanusiakan lawan bicara.


