Keberaksaraan

Oleh: Ahmad Sahidah

Dosen Filsafat Ilmu Program Doktor Universitas Nurul Jadid

Kunjungan ke Institut Terjemahan dan Buku Malaysia (ITBM) pada 11 Februari 2026 meneguhkan bahwa buta aksara kini bukan lagi soal seseorang bisa membaca saja, tetapi lebih jauh meraih makna. Ikthiar ITBM untuk setia dengan buku bercetak hakikatnya hendak meneguhkan tradisi mendaras lebih autentik. Untuk menyuburkan literasi, lembaga ini juga menghadirkan karya nonfiksi dalam bentuk komik.

Di tengah menelusuri kawasan Bukit Bintang, tempat mal besar menjual barang-barang berjenama, saya dan keluarga hanya berdiri dari kejauhan sambil melihat Pavilion yang menunjukkan tulisan Dior dan Luis Vuitton sebagai destinasi warga untuk membeli barang-barang eksklusif. Langkah saya sempat terhenti kala mendengar lagu Arab dari restoran Al-Amar, yang menyediakan masakan Lebanon.

Kami pun sempat berfoto di pintu keluar stasiun monorail Bukit Bintang, yang mengingatkan dulu kala menjadi asisten peneliti Prof Sohaimi Abdul Aziz, di mana untuk pertama kalinya saya menikmati suasana malam di kawasan favorit pelancong dari seantero dunia. Setiap orang akan memilih tempat untuk menghabiskan waktu, apakah warung makan, kafe, atau hiburan. Lagi-lagi, selera terkait dengan kebiasaan dan pengetahuan, yang bisa berupa kenangan atau ingatan.

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

Alih-alih menikmati makan siang di warung dengan menu Jepang dan Korea, kami mengasup nasi dan lauk-pauk di warung makan Hamza. Lidah kami sudah terbiasa dengan selera kari selama tinggal di Semenanjung. Gulai yang saya nikmati sejak kecil berempah seperti kari, tetapi tidak pekat. Kita pun tahu pengaruh India membentuk banyak selera kita, tidak hanya makanan, tetapi juga sastra dan musik.

Dengan mengenal asal-usul, siapa pun sebenarnya hendak menghadirkan aksara dalam menata cara kita menjalani kehidupan. Pengalaman melihat sesuatu secara genealogis hendak mengganggit diri eksistensial dalam sebuah pandangan dunia, yang ternyata tidak bisa dibaca dalam konsep tunggal. Ada banyak cara berpikir turut mempengaruhi cara kita menghayati ekspresi manusia.

Kala mengunjungi toko buku Book Excess di mal Fahreinheit, kami ditawarkan banyak kisah-kisah dunia, baik fiksi maupun nonfiksi. Biografi tokoh-tokoh dunia yang dipajang menjadikan hidup ini tidak lagi dibatasi oleh asal, negara, dan ideologi. Di sini, setiap orang tidak bisa dikerangkeng untuk patuh hanya pada satu sumber otoritas atau diringkus pada kalimat pendek tentang apa yang harus dilakukan dan tidak.

Di sini, anak perempuan saya membeli The Champion of Fate yang bercerita tentang tokoh utama Reed. Peminat novel ini tampak menikmati cerita fantasi, yang kita bisa turut nimbrung untuk berbagi pesan. Setiap orang ingin hadir untuk melakukan hal berarti dalam hidup. Melalui karya, kita bisa menyerap arti perjalanan seseorang dalam menemukan dirinya. Jadi, dalam satu keluarga, setiap anggotanya bisa memilih cara berbeda dalam menekuri keseharian, meskipun ada banyak kesamaan karena didasari oleh literasi kritis yang sama.

Kala memilih berjalan kaki dari stasiun Hang Tuah mengingat area Bukit Bintang berjarak sepelemparan batu, kami dapat memberikan makna pada apa yang dilihat di sepanjang jalan tanpa tergesa-gesa. Justru dengan melangkah, kami bisa menyelami setiap meter dari hentakan tungkai. Saya masih melihat warga membaca koran, penjual kaki lima, dan begitu banyak orang yang berbeda menuju tempat yang sama, perempatan mal Pavilion. Masing-masing berfoto, lalu beranjak.

Dari sini, literasi itu memang bermula dari kemampuan membaca aksara. Lalu setelah mengungkapkannya melalui tulisan, siapa pun akan mewujudkan gagasan melalui tindakan. Jadi, huruf itu adalah perantara agar seseorang bisa mengubah dirinya, sebelum menjadi teladan bagi pencarian orang lain. Di tengah ledakan informasi melalui teknologi apakah orang ramai dengan mudah mendapatkan pesan?

Tentu, karena setiap individu akan mencari keseimbangan kala menghadapi kebimbangan. Setidaknya, ia akan berpegang teguh pada pengetahuan dan pengalaman yang telah dilalui. Pada satu titik, setiap insan bertarung dengan dirinya sendiri apakah ia hidup dengan pikirannya atau apa yang diharapkan dari pandangan liyan. Bila tidak, ia akan diombang-ombingkan oleh ilusi bahwa hidupnya disesuaikan dengan mata orang lain.

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *