Ahmad Sahidah: Dosen Filsafat Program S3 Studi Islam Universitas Nurul Jadid
Dalam lagu Seni, Rhoma Irama menyerukan bahwa seni itu indah dan mulia. Dari dua kata terakhir kita bisa memahami bahwa cita rasa estetik dari musik telah membuat banyak orang dapat memahami kehidupan dengan apik. Mulia terkait dengan peran nyanyian yang dapat menyadarkan pendengar. Seorang penikmat merasa sangat berdosa pada sang ibu setelah mendengar lagu Keramat Bang Haji.
Kala lagu Bayar Bayar Bayar karya band punk Sukatani menjadi viral karena liriknya dianggap menyerang institusi kepolisian, sejatinnya ia menggambarkan keresahan masyarakat terhadap praktik pungutan liar dalam pelbagai layanan publik, seperti tilang, pembuatan SIM, dan laporan kehilangan barang. Kesaksian terhadap prilaku buruk aparat ditunjukkan di banyak media sosial, seperti X dan berita di kabar koran arusutama.
Bagaimanapun, lagu ini telah menimbulkan kontroversi, hingga para personel band menyampaikan permintaan maaf dan menarik lagu dari platform berbayar, Spotify. Tanggapan ini jelas menunjukkan adanya ketegangan antara kebebasan berekspresi dan sensitivitas badan penegak hukum dan ketertiban terhadap kritik. Untungnya, begitu banyak orang dan lembaga yang menyatakan dukungan pada grup punk ini untuk tidak tunduk pada tekanan, seperti ditunjukkan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) secara terbuka.
Andaikata tidak ada permohonan maaf, mungkin karya Muhammad Syifa Al Ufti dan Novi Chitra Indriyaki tidak akan viral. Fenomena tersebut seringkali dikaitkan dengan Streisand Effect. Upaya untuk menyensor atau menekan suatu informasi justru membuatnya semakin populer dan tersebar luas. Berkat media sosial, orang pun tidak hanya menyebarkan, bahkan menghadirkan klip baru sebagai penguat dari isi lagu. Malah, parodi pun dibuat oleh banyak pembuat konten untuk mengkritik penegak hukum.
Dalam konteks kebebasan berekspresi, teori demokrasi deliberatif yang digagas oleh Jürgen Habermas menekankan pentingnya ruang publik sebagai arena diskusi terbuka. Kritik terhadap institusi harus diterima sebagai bagian dari proses perbaikan. Musik yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu memungkinkan suara itu seringkali terdengar seiring banyak orang sering mengakses dunia maya. Ia jauh lebih keras daripada sekadar kritik di ruang tertutup.
Tambahan lagi, dalam Teori Pasar Ide oleh John Milton & Oliver Wendell Holmes Jr, dalam masyarakat yang bebas, ide-ide yang berbeda harus bersaing satu sama lain. Kebenaran akan muncul dengan sendirinya jika tidak ada pembatasan terhadap kebebasan mengungkapkan gagasan. Namun demikian, hanya ide yang berbasis fakta dan masuk akal yang seharusnya menang, sementara ujaran kebencian atau misinformasi yang merugikan dapat dikontrol.
Di sisi lain, teori legitimasi institusional menunjukkan bahwa organisasi seperti kepolisian memiliki kewajiban untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat luas. Kritik keras dapat dianggap sebagai ancaman terhadap eksistensi institusi apabila tidak dikelola dengan saksama. Oleh karena itu, respons represif terhadap kritik menjadi bumerang dan berpotensi memperburuk persepsi publik. Bayangkan, mahasiswa pun menyanyikan lagu ini di depan polisi yang mengawal unjuk rasa.
Pernyataan kepolisian sebagaimana diinstruksikan oleh orang nomor satu, Listyo Sigit Prabowo, bahwa lembaga ini tidak antikritik tentu merupakan respons yang tepat. Lebih jauh, institusi coklat tersebut seharusnya membuka diri pada kritik dan juga membuka ruang dialog dengan pelbagai lapisan masyarakat dan pelaku seni. Pendekatan ini dapat meningkatkan keterbukaan dan memperbaiki kepercayaan orang banyak.
Protes dalam lagu “Bayar Bayar Bayar” semestinya menjadi bahan evaluasi bagi kepolisian untuk melakukan reformasi internal, khususnya dalam pemberantasan pungutan liar dan peningkatan layanan publik. Alih-alih menekan kritik, institusi dapat bekerja sama dengan seniman dalam kampanye kesadaran bersama mengenai tata kelola yang lebih baik dan pelayanan yang bebas rasuah.
Namun demikian, masyarakat dan aparat perlu menimbang batas-batas kebebasan berekspresi sesuai dengan prinsip-prinsip etik universal. Kritik berbasis fakta harus dilindungi, sedangkan ujaran yang menghasut kebencian harus dicegah. Kenyataanya, pada waktu yang hampir bersamaan dengan mencuatnya Sukatani, seorang polisi menipu rekannya bernilai ratusan juta untuk bisa mengikuti pendidikan lanjut.
Tanpa harus menyebelahi salah satu pihak, senimana atau aparat, secara gegabah, keputusan terbaik adalah hasil dari dialog yang inklusif, yang bukan sekadar pernyataan formal dan apalagi voting. Setelah lagu ini tidak dihalang, suara penyanyi akan menjadi menara panopticon, di mana polisi akan senantiasa selalu diawasi. Pendek kata, seni adalah watchdog lain, selain jurnalisme. Untuk itu, kita memerlukan karya seniman untuk menggugah kesadaran khalayak dan melahirkan perubahan.



