Oleh: Ahmad Sahidah
Dosen Filsafat Ilmu Program Doktor Universitas Nurul Jadid
Di malam ambang pergantian tahun, saya bersama santri mahasiswa duduk di musala pondok untuk menggelar refleksi bersama. Kala sebagian remaja memenuhi jalanan, mereka tepekur untuk menimbang kembali apa yang mesti dilakukan di tahun 2026. Kegiatan yang diinisiasi oleh Mohammad Jasri Ahyak, kepala Lembaga Pembinaan Pondok Mahasiswa Universitas Nurul Jadid, hendak membelajarkan semua yang hadir dengan kesahajaan dalam menjalani keseharian.
Sepulang dari kegiatan, saya menuju ke tempat parkir yang melewati banyak titik di mana beberapa orang melingkari perapian, membakar ikan dan aneka kudapan lain. Warga sekitar pun juga melakukan hal serupa. Akhirnya, saya bergabung dengan warga gang Mekar tempat kami tinggal, yang sedang merayakan malam itu dengan membakar jagung dan menonton film “Agak Laen”. Gelak-tawa betul-betul membuat kami riang alang-kepalang.
Lalu, apa sebenarnya yang hendak dirayakan? Kebaruan. Ada kecenderungan manusia senang dengan sesuatu yang baru. Betapa orang ramai rela antri untuk mendapatkan telepon pintar keluaran teranyar selama berjam-jam. Bahkan, ada sebagian yang menggelar tenda karena telah menunggu semalaman. Dengan mempunyai barang baru, seseorang merasakan dunia yang berbeda dengan sebelumnya. Masalahnya, setelah beberapa detik kemudian, bukan barang itu tidak baru dan nilainya turun?
Mungkin, pandangan Heidegger dalam Being and Time (2001) layak diketengahkan. Ada konflik antara waktu duniawi (clock time) dan waktuk eksistensial (temporality). Pertama, seperti perayaan tahun baru terjadwal dengan tepat pada pergantian almanak, kita hanya menjalaninya dengan suka-suka. Ini adalah waktu objektif, publik, dan diukur. Sementara, kedua yang terkait dengan perasaan bab baru, resolusi, harapan, penyesalan atau keheningan yang kita alami adalah waktu subjektif. Kita seringkali berada dalam ketegangan di antara dua waktu tersebut.
Bahkan, waktu duniawi itu pun bisa bertabrakan. Semisal, sebagai anggota gang perumahan, saya harus mengikuti kegiatan pondok dengan bebakaran dan nonton bareng dan pada jam yang sama, saya mengisi kegiatan malam refleksi Pondok Mahasiswa. Namun demikian, kita biasanya menentukan prioritas dan batas. Setelah menghadiri kegiatan di musala, saya segera bergegas ke rumah tetangga untuk menikmati jagung bakar dan tertawa lepas dengan kelucuan para komika papan atas.
Kita sering berusaha menyelaraskan ritme internal kita (temporalitas) dengan ritme kosmik/sosial (almanak). Namun, setelah pesta usai, kita merasa “tidak ada yang benar-benar berubah”, karena perubahan eksistensial tidak terjadi hanya karena tarikh berganti. Zumi memang menghitung mundur untuk memastikan bahwa kami benar-benar telah memasuki angka 12.00 di tahun 2026. Setelah itu, apa yang tersisa adalah kenangan bersama dengan jiran dan kami pun pergi ke peraduan, tidur, seperti yang dilakukannya sebelumnya.
Keesokan harinya, setiap individu akan menjalani hidup seperti biasanya. Di hari libur, mereka mungkin menekuni hobi, berkunjung ke rumah tetangga, menghabiskan waktu di tempat pelesiran, dan mengunjungi tempat perbelanjaan lalu mampir ke warung kopi seraya mengunggah pengalaman di banyak tempat itu ke media sosial, seperti Instagram, Facebook, Twitter, dan Whatsapp Story. Jadi, apa yang sebenarnya baru kecuali pengulangan abadi?
Itulah kita bisa timbang nasehat Nietzsche bahwa bahwa apa yang kamu lakukan sekarang adalah apa yang akan kamu ulangi selamanya. Ide besar tentang pengulangan abadi akan meneguhkan kita bahwa keseharian seeloknya dinikmati dengan seluruh jiwa dan raga. Jika selama ini kita mencuci piring sekadar membersihkan kotoran yang menempel di pinggan, kini kita membayangkan bahwa kita sedang menyucikan hati dari pamer, hasad, dan dengki. Pendek kata, seperti dalam film Coyote Ugly, menghilangkan noda dengan sabun sekaligus menghapuskan sifat-sifat buruk tentu menjadi kegiatan rutin yang bisa mendorong pelaku pada kesadaran (mindfulness) dan kehadiran penuh.
Akhirnya, kepekaan pada masa juga menjadi penting bagi kita karena dalam surat al-Ashr, Tuhan bersumpah demi waktu asar. Lalu, ayat selanjutnya ditegaskan bahwa kita berada dalam kerugian kecuali kita beriman dan beramal baik dan saling menasehati dengan kebenaran dan kesabaran. Menurut al-Thabari dalam kitabnya Jami’ al-Bayan fi Tafsir Ayi al-Qur’an, kebenaran di sini adalah Islam dan syariat agama. Dari kitab suci, hakikatnya dengan tahun baru kita kembali meneguhkan untuk menjadi diri yang baik dan mewujudkan kehendak ini dengan kebajikan yang ditujukan pada diri, liyan, dan lingkungan.


