Kecintaan

Falsafah Harian4,278 views

Oleh: Ahmad Sahidah*)

Beberapa hari yang lalu, saya menghadiri Haul ke-37 dan milad ke-6 majlis selawat al-Fadholi di Sumberrejo. Acara ini dihadiri oleh banyak pimpinan pondok pesantren dari daerah Tapal Kuda. Begitu banyak jemaah selawat, wali santri dan warga lokal turut memeriahkan acara tahunan ini. Kehadiran penceramah terkenal dari Sidoarjo, Kiai Asnawi Abu Nawas menyemarakkan acara rutin ini dengan gelak tawa dan maknayang dalam.

Lalu, apa arti aktivitas ini dalam kehidupan umat? Kecintaanterhadap kiai dan nabi. Hla ini mengingatkan pada pernyataan Erich Fromm dalam The Art of Loving (1957: ix), yang merujuk pada Paracelsus, seseorang yang tidak tahu apa-apa, tidak mencintai apa-apa. Dia yang tidak memahami apa-apa adalah tidak berharga. Oleh karena itu, kegiatan yang berkaitan dengan haul biasanya diisi dengan pembacaan kisah pendiri (muassis) dan majlis selawat yang membacakan barzanji, diba, dll adalah upaya untuk mendekatkan umat dengan Muhammad.

Kita tentu belum memenuhi kata kunci dari kutipan di atas, yakni seseorang yang hendak mencintai harus mengetahui. Salah satu kitab yang sering ditemukan di banyak masjid dan musala adalah terjemahan al-Syamail al-Muhammadiyyah, yang merupakan kumpulan dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. Di dalamnya, pembaca bisa mengenal kebiasaan nabi sehari-hari; mulai dari selera makan, pakaian, dan lain sebagainya.

Selain melalui kitab-kitab klasik untuk lebih dalam mengenal nabi, seperti Sirah al-Nabawiyaah dan Hayat Muhammad, sebagai dua sumber yang dipandang otoritatif, pendekatan lain dapat ditemui dalam karya-karya orientalis Barat. Misalnya, David S. Powers (2019) menulis Muhammad Is Not the Father of Any of Your Men: The Making of the Last Prophet dan Garth Fowden (2014) mengarang Before and After Muhammad: The First Millennium Refocused.

Mungkin, bagi orang awam, bacaan-bacaan di atas tidak sempat disimak. Kebanyakan mereka merealisasikan kecintaan itu dengan membaca selawat sebanyak mungkin, karena satu selawat diganjar dengan 10 pahala. Selain itu, mereka menggelar peringatan Maulid, baik di masjid, sekolah, maupun di rumah-rumah. Di masjid kami, setiap keluarga membawa empatbungkus nasi dan bertukar dengan hidangan warga yang lain. Betapa kelahiran Nabi dirayakan dengan bersahaja. Sementara,takmir menyiapkan pohon uang, yang rantingnya berupa Rp2000. Anak-anak begitu riang menerima uang tersebut.

Apa pun sumber bacaan dan bentuk tindakannya, pada akhirnya kita akan kembali pada teladan nabi sehari-hari. Bila berkunjung ke masjid Ali bin Abi Talib, Anda akan menemui panel elektronik berupa running text (teks berjalan) di atas mimbar yang mengumumkan jadual salat dan tujuh kebiasaan nabi, seperti bangun malam untuk salat tahajud, sembahyang duha, bersedekah, berjemaah, membaca  Al-Quran dan maknanya, berzikir serta senantiasa dalam keadaan berwudu. Seorang khatib di masjid kami menegaskan bahwa kecintaan pada nabi diwujudkan dengan menjalankan sunnahya.

Sebagai sebuah tradisi, ia tidak hanya memiliki makna (meaning) yang objektif, tetapi juga signifikansiarti subjektifdalam keseharian seseorang. Kami dulu sering bangun malam di pondok sebagai bagian dari penanaman nilai disiplin tubuh dan jiwa. Ketaatan pada kiai mendorong kami untuk patuh dan kini kami tidak lagi kesulitan untuk bangun pada sepertiga malam. Ternyata udara di dini hari itu bagus untuk direguk. Selain itu, suasana sunyi justru mendatangkan kedamaian tak tepermanai.

Baca Juga:  IHSAN Hadir di Sumenep, Jadi Wadah Besar Alumni Pesantren

Selama ini salat duha dipahami sebagai cara membuka pinturezeki. Ini tidak salah karena dalam doa yang dipanjatkan apa yang ada di bumi dan di langit diberikan pada pendoa. Tetapi pengertian rezeki tidak hanya uang, tetapi juga peluang untuk bercengkerama dengan keluarga dan warga. Rezeki juga bisa berupa rasa tenang yang hadir kala melihat semburat jingga di pagi hari dengan kicauan burung perkutut, baik peliharaan tetangga atau hewan liar.

Meskipun bacaan Alquran di acara Yasinan sebatas pelafalan huruf, belum makna, tetapi ini juga menjadi obat dalam kehidupan mereka. Di sini, mereka berharap mendapatkan anugerah kesehatan dan kesejahteraan. Selain berhenti sejenak dari rutinitas, mereka bisa bertemu dengan tetangga dan sekali-kali bertukar cerita di teras masjid. Sebagian ada yang membawa kopi dan gorengan, sebagian lain air putih.

Akhirnya, wujud dari semua kebiasaan itu adalah kepedulian pada sesama melalui sedekah. Selama ini zakat dikaitkan dengan waktu dan takaran tertentu. Namun, kenyataannya, ketetapan itu belum menyelesaikan banyak masalah umat. Dengan sedekah, kita bisa menutupi celah-celah kekurangan warga, sepertikebutuhan pokok, biaya pendidikan, dan ongkos kesehatan. Kecintaan pada kiai dan nabi itu diwujudkan dengan peduli pada manusia.

*) Pengajar Falsafah Ta’wil Universitas Nurul Jadid.

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *