Memiliki ketangguhan menjadi kunci dalam setiap perjalanan hidup seseorang. Sebab dengan kunci tersebut, seseorang bisa survive dalam menjalani keadaan apapun hidupnya. Gambaran itu melekat pada Muslihen, pria kelahiran 9 Januari 1987 yang baru saja dilantik menjadi kepala SDN Blaban III, Kecamatan Batumarmar, Minggu (9/2/2025).
SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN
Perjalanan Muslihen hingga menjadi kepala sekolah cukup panjang. Mulai dari menjadi guru honorer yang hanya dibayar Rp50.000 per bulan hingga mengikuti seleksi CPNS. Tidak berhenti di situ, journey-nya untuk menjadi kepala sekolah harus melewati beberapa tahapan. Seperti harus memiliki sertifikat guru penggerak, lulus sertifikasi pendidik, mengikuti serangkaian pembekalan, dan lain sebagainya.
“Lulus CPNS tahun 2019. Tahun 2022 ikut program Pendidikan Guru Penggerak. Kalau yang jadi guru honorer dari tahun 2007 hingga 2019. Honornya, mulai dari Rp50.000 per bulan, perlahan naik sedikit demi sedikit, hingga dapat honor Rp375.000,” jelas pria yang beralamat di Jalan Sersan Mesrul, Gang V, Pamekasan itu, Minggu (9/2/2025).
Ketangguhan Muslihen dalam menjalani hidup rupanya dipupuk sejak kecil. Dia harus lebih berusaha keras ketimbang teman-teman seusianya dalam segala hal, utamanya dalam membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Baginya, selama apa yang dilakukan halal, maka dia lakukan. Mulai dari menjadi cleaning service, kuli bangunan, pengamen, pramusaji, linting rokok, hingga pekerjaan lainnya, dia kerjakan dengan sepenuh hati. Prinsip kerja keras itu didapatkan dari kedua orang tuanya.
Sekilas, Muslihen bercerita tentang perjuangan orang tuanya dalam menghidupi keluarga hingga memberikan pendidikan yang layak untuk anak-anaknya.
“Bapak (almarhum) bertani, kadang nguli juga. Ibu, bertani juga kadang ambil jasa cuci pakaian. Tapi kami, anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan hingga lulus. Keteguhan seperti itu yang saya pegang,” ungkap pria anak kedua dari tiga bersaudara tersebut.
Bagi Muslihen, keterlibatan orang tua dalam segala hal menjadi amunisi paling mujarab dalam menghadapi situasi apapun.
“Ikut seleksi CPNS, ujian guru penggerak, sertifikasi, dan keperluan lain, saya selalu libatkan orang tua. Kita tidak boleh menghitung apa yang sudah dikerjakan, karena itu bisa menggugurkan keikhlasan,” pesan bapak dari dua anak tersebut. (zul)





