Legislator Alumni UMM Sebut Penolakan Mendikdasmen sebagai Sejarah Terburuk Sampang

Berita488 views

KABAR MADURA | Penolakan kunjungan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti ke Sampang menuai kecaman dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari Wakil Ketua DPRD Sampang sekaligus alumni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Moh. Ikbal Fathoni.

Pria yang karib disapa Bung Fafan itu menilai peristiwa itu sebagai catatan kelam dalam sejarah pemerintahan Kabupaten Sampang, khususnya dalam hubungan dengan pemerintah pusat dan dunia pendidikan.

“Ini merupakan sejarah terburuk Kabupaten Sampang. Bagaimana mungkin kedatangan seorang menteri justru ditolak berkegiatan di daerah. Seharusnya kita senang dan bangga jika ada menteri datang ke Sampang, bukan malah menolak,” tegasnya, Jumat (19/12/2025).

Menurutnya, alasan protokoler maupun dalih administratif yang disampaikan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang tidak dapat dibenarkan secara etis maupun politis. Terlebih, agenda itu berkaitan langsung dengan dunia pendidikan dan peringatan milad organisasi kemasyarakatan besar seperti Muhammadiyah.

Baca Juga:  UNIBA Madura Perkuat UKM Musik dengan Studio Modern, Mahasiswa Makin Bebas Berkarya

“Kalau alasannya hanya soal listrik rusak, itu bisa disiasati dengan genset. Tidak masuk akal jika itu dijadikan alasan pembatalan,” tambahnya.

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu juga menyayangkan sikap Pemkab Sampang yang terkesan diskriminatif terhadap organisasi kemasyarakatan. Dia menilai, sikap itu mencerminkan ketidakdewasaan dalam mengambil keputusan dan berpotensi berdampak negatif terhadap dunia pendidikan.

“Seharusnya ini menjadi momentum bagi Sampang, khususnya Dinas Pendidikan, untuk menyampaikan langsung kondisi riil pendidikan kita kepada menteri. IPM Sampang masih terendah se-Jawa Timur dan fasilitas pendidikan kita banyak yang membutuhkan perhatian pemerintah pusat,” katanya.

Lebih lanjut, Bung Fafan mengingatkan bahwa sikap Pemkab Sampang itu berpotensi memicu ketegangan antarorganisasi kemasyarakatan yang sebelumnya tidak pernah bermasalah.

Baca Juga:  Pemkab Sampang Perkuat Posyandu untuk Percepat Penurunan Stunting Tahun 2026

“Saya curiga dengan adanya seperti ini akan muncul percikan konflik antarormas, hanya karena kebijakan yang tidak bijak. Muhammadiyah adalah organisasi besar yang menjadi salah satu tonggak sejarah pendidikan di Indonesia,” ungkapnya.

Sebagai alumni UMM, Bung Fafan mengaku sangat memahami keseriusan Muhammadiyah dalam mengembangkan pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.

“Saya tahu betul bagaimana komitmen Muhammadiyah dalam dunia pendidikan. Dari bawah sampai universitas, kontribusinya sangat luar biasa,” pungkasnya.

Dia menyebut, pihaknya berencana dalam waktu dekat akan mempertanyakan alasan penolakan secara resmi kepada pihak Pemkab Sampang. 

“Dalam waktu dekat ini kita ada forum dengan eksekutif, dan akan kami tanyakan langsung alasan sebenarnya dari penolakan itu,” pungkasnya. (yan/zul) 

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *