Oleh: Dr. H. Saiful Hadi, M.Pd. (Rektor UIN Madura)
Kabar wafatnya Moh. Masyhur Abadi bukan sekadar berita kehilangan seorang akademisi, melainkan kehilangan satu mata air intelektual yang selama ini diam-diam menghidupi arah pemikiran dan falsafah keilmuan di lingkungan UIN Madura. Ada orang yang hadir hanya sebagai pengajar, ada pula yang hadir sebagai administrator pendidikan, tetapi Masyhur Abadi hadir sebagai penggagas kesadaran intelektual yang melampaui ruang-ruang formal akademik, ia bukan hanya menyampaikan ilmu, melainkan menanamkan cara berpikir, membangun horizon gagasan, dan merumuskan ruh peradaban keilmuan yang membentuk identitas UIN Madura hari ini.
Dalam dunia pendidikan tinggi, tidak semua gagasan lahir dari ruang rapat resmi yang terang benderang dan penuh protokoler. Sebagian gagasan besar justru lahir dari ruang sunyi, dari diskusi panjang yang sederhana, dari percakapan malam yang jauh dari publikasi, tetapi penuh kegelisahan intelektual. Begitulah falsafah keilmuan “Taneyan Lanjhang” UIN Madura mulai dirumuskan, ia tidak lahir sebagai proyek administratif semata, tetapi lahir dari perenungan kolektif tentang bagaimana UIN Madura harus menemukan identitas epistemologisnya sendiri sebagai perguruan tinggi Islam yang berakar pada budaya Madura namun tetap terbuka terhadap modernitas.
Lahirnya falsafah “Taneyan Lanjhang” menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan sesungguhnya tidak pernah lahir dalam ruang hampa budaya. Pengetahuan selalu dibentuk oleh pengalaman sosial, simbol budaya, dan memori kolektif masyarakatnya. Karena itu, penggunaan simbol “Taneyan Lanjhang” sebagai falsafah keilmuan bukan sekadar romantisme lokalitas, tetapi upaya membangun paradigma pendidikan yang berpijak pada kearifan budaya Madura. Taneyan Lanjhang dalam tradisi Madura bukan hanya struktur arsitektur pemukiman keluarga, tetapi simbol solidaritas, kebersamaan, genealogis keilmuan, penghormatan terhadap leluhur, dan keberlanjutan nilai antar generasi.
Di balik gagasan itu, Masyhur Abadi memainkan peran penting sebagai salah satu penggagas utama. Bersama Rektor UIN Madura yang memaknai dirinya sebagai simbol “Jeregen Dere’” dan Ketua Senat UIN Madura sebagai simbol “Jeregen Tase’”, serta tokoh-tokoh lainnya, mereka membangun diskursus intelektual tentang bagaimana UIN Madura tidak hanya menjadi institusi pendidikan formal, tetapi menjadi rumah peradaban ilmu yang memiliki akar budaya dan identitas spiritual yang kuat.
Simbol “Jeregen Dere’” dan “Jeregen Tase’” memiliki makna yang sangat mendalam. Dalam budaya Madura, keduanya merepresentasikan dua orientasi kehidupan yang berbeda namun saling melengkapi yakni daratan dan lautan, stabilitas dan dinamika, tradisi dan keterbukaan, keteguhan dan keberanian menjelajah. Ketika simbol-simbol ini digunakan dalam konstruksi falsafah keilmuan, sesungguhnya para penggagas sedang membangun paradigma pendidikan yang memadukan akar lokal dengan cakrawala global. Bahwa UIN Madura harus tetap berpijak pada identitas budaya dan spiritualnya, tetapi juga harus berani hadir dalam percakapan intelektual dunia modern.
Yang paling menarik, diskusi awal falsafah besar itu justru berlangsung di tempat yang sederhana, lobi lantai satu IBS PKMKK. Tidak di hotel mewah, tidak di ruang konferensi resmi, tetapi di ruang pendidikan yang hidup dengan semangat literasi, diskusi, dan kegelisahan intelektual. Pada tanggal 9 Juni 2025 yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha tahun lalu, diskusi dimulai sekitar pukul 24.00 hingga pukul 02.00 dini hari. Di waktu ketika sebagian besar manusia tertidur, mereka justru terjaga memikirkan masa depan keilmuan dan identitas UIN Madura.
Suasana seperti itu menunjukkan adanya collective intellectual passion, yaitu gairah berpikir kolektif yang lahir bukan karena tuntutan administratif, tetapi karena panggilan idealisme. Orang-orang yang terlibat dalam diskusi itu tidak sekadar bekerja menyusun dokumen, tetapi sedang membangun makna. Karena itu, hanya dalam satu malam lahirlah draf awal lima halaman yang berisi poin-poin penting tentang falsafah keilmuan Taneyan Lanjhang. Lima halaman itu mungkin tampak sederhana secara administratif, tetapi sesungguhnya memuat energi pemikiran yang akan memengaruhi arah epistemologi kelembagaan dalam jangka panjang.
Gagasan besar sering lahir melalui apa yang disebut Peter L. Berger sebagai social construction of reality, yaitu realitas yang dibentuk melalui interaksi sosial dan kesadaran kolektif. Falsafah Taneyan Lanjhang lahir dari proses dialogis antara pengalaman budaya Madura, kegelisahan akademik, dan cita-cita membangun perguruan tinggi Islam yang memiliki karakter khas. Karena itu, gagasan ini tidak dapat dipahami sekadar sebagai slogan institusional, tetapi sebagai hasil pergulatan pemikiran dan refleksi sosial yang mendalam.
Pertemuan berikutnya kembali dilakukan di tempat yang sama, pada jam yang sama, dengan semangat yang sama. Ada sesuatu yang simbolik dari pemilihan waktu tengah malam hingga dini hari itu. Dalam tradisi intelektual Islam, malam sering menjadi ruang kontemplasi, ruang lahirnya gagasan besar, dan ruang perenungan spiritual. Banyak karya besar peradaban Islam lahir dari kesunyian malam, ketika manusia lebih jujur terhadap pikirannya sendiri dan lebih dekat dengan kedalaman nuraninya.
Namun malam itu juga menghadirkan peristiwa yang tidak terlupakan yakni gempa bumi yang sempat mengguncang tempat diskusi sehingga pertemuan harus segera diakhiri. Secara simbolik, peristiwa itu seakan menjadi metafora bahwa setiap gagasan besar selalu lahir di tengah guncangan. Tidak ada perubahan peradaban tanpa kegelisahan dan ketidakstabilan. Gempa itu mungkin hanya fenomena alam, tetapi dalam perspektif filosofis, ia seperti mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan selalu lahir di tengah ketegangan antara ketidakpastian dan harapan.
Kini, ketika Masyhur Abadi telah wafat, kenangan tentang malam-malam diskusi itu menjadi sangat bermakna. Sebab ternyata manusia boleh pergi, tetapi gagasannya tetap hidup. Sosok seperti Masyhur Abadi menunjukkan bahwa warisan terbesar seorang intelektual bukan jabatan atau popularitas, melainkan jejak pemikiran yang terus menghidupi generasi setelahnya, ia mungkin telah tiada secara fisik, tetapi energi intelektualnya tetap berdenyut dalam falsafah Taneyan Lanjhang, dalam tradisi diskusi, dalam keberanian mengintegrasikan budaya dan ilmu, serta dalam semangat membangun pendidikan Islam yang berakar pada nilai lokal namun berwawasan global.
Kehilangan tokoh seperti Masyhur Abadi bukan hanya menghadirkan kesedihan personal, tetapi juga kekosongan simbolik dalam komunitas akademik, ia adalah figur yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menghadirkan rasa arah bagi orang-orang di sekitarnya. Banyak gagasan yang lahir bukan hanya karena kecerdasannya, tetapi karena kemampuannya mendengarkan, memantik refleksi, dan membangun keberanian berpikir pada orang lain.
Karena itu, wafatnya Masyhur Abadi sesungguhnya bukan akhir dari perjalanan intelektualnya. Justru di titik inilah gagasan-gagasannya mulai diuji oleh waktu. Apakah falsafah Taneyan Lanjhang akan tetap hidup sebagai ruh keilmuan, atau hanya berhenti sebagai dokumen administratif belaka. Sebab penghormatan terbesar kepada seorang pemikir bukan hanya mengenangnya dengan air mata, tetapi melanjutkan gagasannya dengan kerja intelektual dan pengabdian nyata.
Sebagian orang meninggalkan dunia hanya dengan nama, tetapi sebagian yang lain meninggalkan dunia dengan peradaban berpikir. Masyhur Abadi tampaknya termasuk golongan kedua, seorang penggagas sunyi yang memilih bekerja dalam kedalaman gagasan, dan dari kesunyian itu lahirlah jejak pemikiran yang akan terus hidup dalam denyut keilmuan UIN Madura.





