Sang Visioner dari Madura: Mashur Abadi dan Integrasi Bahasa, Budaya, serta Keislaman

Opini80 views

Oleh Dr. Mulyadi, M.Pd (Ketua Lembaga Penjaminan Mutu UIN Madura)

Kabar wafatnya Moh. Mashur Abadi menjadi duka mendalam bagi keluarga besar UIN Madura, termasuk bagi saya Mulyadi Kepala Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Madura, yang saat ini sedang menunaikan ibadah haji di Tanah Suci Makkah. Di tengah kesibukan mempersiapkan ibadah haji, saya mengaku sangat kehilangan sosok sahabat, sejawat, sekaligus intelektual visioner yang selama ini dikenal sebagai penggerak integrasi bahasa, budaya, dan keislaman di lingkungan UIN Madura. Bagi saya, almarhum bukan hanya seorang akademisi, tetapi juga figur pemikir yang memiliki komitmen kuat dalam membangun tradisi pendidikan Islam yang berakar pada kearifan lokal dan berwawasan global.

Moh. Mashur Abadi, dosen senior UIN Madura yang telah mengabdi sejak tahun 1991, meninggal dunia pada 22 Mei 2026. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, mahasiswa, alumni, serta seluruh civitas akademika UIN Madura. Selama lebih dari tiga dekade pengabdiannya, beliau bukan hanya dikenal sebagai seorang pendidik, melainkan juga pemikir visioner yang berhasil menyatukan pengajaran bahasa asing dengan akar kearifan lokal Madura serta nilai-nilai keislaman yang mendalam. Sosoknya hadir bukan sekadar sebagai pengajar di ruang kuliah, tetapi juga sebagai intelektual yang meletakkan fondasi penting bagi pembangunan paradigma pendidikan bahasa yang beridentitas, berbudaya, dan bernafaskan Islam.

Dalam konteks ini, Mashur Abadi dapat dipandang sebagai figur akademik yang berusaha menjembatani ketegangan antara globalisasi dan lokalitas. Pada saat banyak lembaga pendidikan berlomba-lomba mengadopsi sistem pendidikan modern yang cenderung meniru pola Barat secara penuh, beliau justru menghadirkan pendekatan yang lebih arif dan berakar. Bagi beliau, penguasaan bahasa asing tidak boleh melahirkan keterasingan budaya. Bahasa Inggris dan bahasa Arab harus menjadi instrumen transformasi sosial yang tetap berpijak pada identitas masyarakat lokal. Pemikiran semacam ini lahir dari kesadaran bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya proses transfer ilmu pengetahuan, melainkan juga proses pembentukan identitas sosial, karakter budaya, dan orientasi peradaban.

Mashur Abadi dikenal sebagai sosok yang gigih memperjuangkan integrasi antara ilmu bahasa modern dengan identitas kebangsaan dan keagamaan. Beliau pernah menjabat sebagai Kepala Unit Pengembangan Bahasa STAIN Pamekasan, Editor in Chief Jurnal Karsa UIN Madura, serta Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Madura. Dalam setiap jabatan tersebut, beliau selalu mendorong terwujudnya pendidikan bahasa yang berkeindonesiaan dan berkeislaman. Baginya, perguruan tinggi Islam tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang cakap secara akademik, tetapi juga harus mampu melahirkan generasi intelektual muslim yang memiliki kesadaran budaya dan tanggung jawab moral terhadap masyarakatnya.

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

Di tengah perkembangan pendidikan modern yang sering kali menempatkan bahasa asing sebagai simbol prestise sosial, Mashur Abadi justru mengembalikan bahasa pada fungsi sosial dan kemanusiaannya. Beliau memahami bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan alat pembentuk cara berpikir dan pola relasi sosial. Karena itu, pendidikan bahasa menurut beliau tidak boleh tercerabut dari realitas sosial masyarakat. Bahasa asing harus digunakan untuk memperkuat kapasitas intelektual umat, memperluas dakwah Islam, serta memperkenalkan budaya lokal kepada dunia global.

Salah satu legacy terbesar beliau adalah sebagai pelopor lahirnya English Day dan Yaumul Arab di lingkungan kampus. English Day dirancang sebagai program rutin untuk membiasakan mahasiswa berbicara bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari kampus. Sementara Yaumul Arab menjadi wadah serupa untuk penguatan bahasa Arab. Kedua program ini bukan sekadar kegiatan rutinitas, melainkan gerakan strategis untuk menciptakan lingkungan bilingual dan trilingual yang hidup.

Baca Juga:  Hadirkan Puspenma Kemenag, UIN Madura Bidik Hibah Riset MoRA The Air Funds 2026

Program tersebut menunjukkan cara berpikir Mashur Abadi yang progresif namun tetap membumi. Beliau tidak menghendaki pembelajaran bahasa hanya berhenti pada hafalan tata bahasa dan teori linguistik di ruang kelas. Menurut beliau, bahasa hanya akan hidup apabila digunakan dalam praktik sosial sehari-hari. Karena itu, mahasiswa diajak mempraktikkan bahasa asing secara kontekstual, bukan hanya di ruang kuliah, tetapi juga di kantin, masjid, organisasi mahasiswa, perpustakaan, dan forum-forum ilmiah. Kampus, dalam pandangan beliau, harus menjadi ruang kebudayaan yang hidup, tempat bahasa dipraktikkan secara alami sebagai bagian dari budaya akademik.

Pendekatan tersebut memiliki dampak sosiologis yang sangat kuat. Mahasiswa tidak hanya belajar berbicara dalam bahasa asing, tetapi juga belajar membangun rasa percaya diri, keterbukaan berpikir, kemampuan berdialog lintas budaya, serta keberanian tampil di ruang publik. Di sinilah pendidikan bahasa menjadi sarana pembentukan modal sosial dan modal budaya bagi generasi muda muslim Madura untuk berinteraksi dengan dunia yang lebih luas tanpa kehilangan identitas dirinya.

Selain itu, Mashur Abadi dikenal sebagai penggagas penggunaan istilah-istilah dan nama-nama lokal serta Islami dalam pengajaran bahasa Inggris. Beliau menolak pendekatan pengajaran bahasa Inggris yang bersifat westernisasi total. Bagi beliau, bahasa Inggris harus menjadi alat untuk mengangkat kearifan lokal, bukan menghapusnya. Pandangan ini memperlihatkan kesadaran kritis beliau terhadap dominasi budaya global yang sering kali menjadikan bahasa sebagai instrumen hegemoni budaya.

Dalam materi perkuliahan, beliau mendorong mahasiswa untuk menerjemahkan dan mendiskusikan konsep-konsep seperti “ngaji”, “santri”, “pesantren”, “buppa’ babbu’ guru rato” yang mencerminkan budaya penghormatan kepada orang tua dan guru, hingga nilai-nilai Islam seperti ukhuwah islamiyah, ta’awun, dan ihsan ke dalam bahasa Inggris. Mahasiswa diajak membuat nama-nama proyek, judul makalah, dan bahkan nama organisasi kemahasiswaan menggunakan paduan istilah lokal dan Islami yang elegan dalam bahasa Inggris.

Pendekatan ini memiliki makna filosofis yang mendalam. Mashur Abadi ingin menunjukkan bahwa modernitas tidak harus identik dengan penyeragaman budaya. Menurut beliau, masyarakat lokal memiliki hak untuk tampil di panggung global dengan identitasnya sendiri. Bahasa Inggris tidak boleh menjadi alat penyeragaman budaya yang meminggirkan nilai-nilai lokal dan agama. Sebaliknya, bahasa Inggris harus dijadikan media untuk memperkenalkan kekayaan budaya Madura dan tradisi Islam kepada dunia internasional.

Langkah tersebut merupakan bentuk resistensi intelektual terhadap dominasi epistemologi Barat dalam dunia pendidikan. Beliau ingin membangun kesadaran bahwa masyarakat muslim Indonesia tidak harus menjadi konsumen budaya global semata, tetapi juga dapat menjadi produsen gagasan, budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan melalui bahasa internasional. Karena itu, penggunaan istilah lokal dan Islami dalam pengajaran bahasa Inggris bukan hanya persoalan teknis linguistik, tetapi juga bagian dari perjuangan identitas budaya dan peradaban.

Kontribusi yang tak kalah penting adalah peran beliau sebagai pencetus penggunaan dalil Al-Qur’an dan Hadis sebagai referensi utama dalam penulisan skripsi mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Inggris. Sebelumnya, banyak skripsi bahasa Inggris di perguruan tinggi Islam masih sangat sekuler dalam kerangka teori dan referensinya. Mashur Abadi mengubah paradigma itu. Beliau menegaskan bahwa sebagai mahasiswa Tadris Bahasa Inggris di universitas Islam, sudah seharusnya landasan keilmuan mereka berakar pada sumber primer Islam.

Mahasiswa diajak menggali ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis yang relevan dengan linguistik, komunikasi, pengajaran bahasa, serta sosiolinguistik. Pendekatan ini melahirkan skripsi-skripsi yang unik, seperti analisis semantik ayat-ayat Al-Qur’an dalam perspektif linguistik modern, atau studi tentang strategi dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perspektif English for Specific Purposes (ESP).

Baca Juga:  Ahli Falak UIN Madura Prediksi Iduladha 1447 H Indonesia dan Makkah Berpotensi Bersamaan

Langkah ini merupakan bentuk integrasi ilmu yang sangat penting dalam dunia pendidikan Islam. Mashur Abadi ingin menghapus dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum yang selama bertahun-tahun membentuk cara berpikir akademik di banyak perguruan tinggi. Menurut beliau, Al-Qur’an bukan hanya kitab spiritual, tetapi juga sumber inspirasi intelektual yang dapat dikaji melalui berbagai pendekatan ilmiah modern. Dengan demikian, mahasiswa diajak memahami bahwa ilmu pengetahuan dan agama bukan dua entitas yang saling bertentangan, melainkan dua kekuatan yang dapat saling memperkaya.

Beliau juga dikenang sebagai perumus dalil ilmiah tentang karakter bahasa Madura. Menurut Mashur Abadi, pada dasarnya bahasa Madura bersifat egaliter, tidak bersekat, dan tidak berstrata sosial yang kaku sebelum Madura dijajah Kerajaan Mataram. Beliau menguraikan bahwa bahasa Madura asli tidak mengenal tingkatan bahasa seperti krama inggil dan ngoko yang ketat sebagaimana dalam bahasa Jawa. Bahasa Madura lebih bersifat demokratis dan egaliter, mencerminkan karakter masyarakat Madura yang tegas, terbuka, dan setara.

Penjajahan Mataram, menurut beliau, membawa pengaruh feodalisme Jawa yang kemudian memengaruhi dinamika bahasa dan budaya Madura. Dalil ini menjadi penting karena memberikan fondasi intelektual bagi upaya pelestarian dan pengembangan bahasa daerah tanpa harus terjebak dalam narasi inferioritas. Gagasan tersebut menunjukkan keberanian intelektual beliau dalam membaca sejarah budaya Madura secara kritis. Beliau berusaha mengembalikan kepercayaan diri masyarakat Madura terhadap identitas budayanya sendiri.

Pemikiran tersebut juga merupakan bentuk kritik terhadap struktur sosial feodal yang dapat melahirkan relasi tidak setara dalam masyarakat. Mashur Abadi melihat bahasa bukan sekadar sistem komunikasi, tetapi juga cermin struktur kekuasaan sosial. Karena itu, mempertahankan karakter egaliter bahasa Madura berarti juga mempertahankan nilai kesetaraan sosial dalam kehidupan masyarakat.

Dengan pendekatan holistik ini, Mashur Abadi berhasil membuktikan bahwa penguatan bahasa asing, pelestarian kearifan lokal, dan penguatan keislaman bukanlah tiga hal yang bertentangan, melainkan dapat saling menguatkan. Visi beliau adalah melahirkan generasi muslim yang menguasai bahasa asing, namun tetap berakar kuat pada nilai-nilai lokal dan ajaran Islam. Beliau ingin menghadirkan generasi intelektual muslim yang mampu berdialog dengan dunia global tanpa kehilangan akar budaya dan identitas spiritualnya.

Kini, meski beliau telah berpulang, gagasan-gagasannya terus hidup melalui mahasiswa dan rekan-rekan sejawat yang terus mengembangkan English Day, Yaumul Arab, pendekatan integrasi dalam pengajaran, serta penelitian berbasis Al-Qur’an dan Hadis. Jurnal Karsa yang pernah dipimpinnya tetap menjadi corong bagi pemikiran integratif semacam ini. Warisan terbesar beliau sesungguhnya bukan hanya jabatan atau program akademik, tetapi cara berpikir yang berhasil beliau tanamkan kepada generasi muda: bahwa pendidikan harus menjadi ruang pembebasan intelektual sekaligus penguatan identitas budaya dan spiritual.

Moh. Mashur Abadi bukan hanya seorang dosen. Beliau adalah arsitek pendidikan yang visioner, yang mengajarkan bahwa ilmu bahasa harus menjadi wasilah dakwah, pelestari budaya, dan penguat akidah. Di tengah dunia yang semakin global dan seragam, beliau hadir membawa pesan bahwa identitas lokal dan nilai-nilai Islam tidak boleh hilang dari dunia pendidikan. Pemikiran dan perjuangannya akan terus menjadi inspirasi bagi pengembangan pendidikan Islam yang lebih berakar, berkarakter, dan berorientasi pada pembangunan peradaban.

Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik di sisi-Nya, menerima seluruh amal pengabdiannya sebagai amal saleh, melapangkan kuburnya, serta menjadikan seluruh ilmu dan perjuangan beliau sebagai amal jariyah yang terus mengalir sepanjang masa. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *