Muasal Hiburan Kebudayaan Lokal Tari Ronding; Bentuk Perlawanan kepada Penjajahan Kolonial Belanda

News259 views

KABAR MADURA | Penjajahan yang dilakukan oleh Belanda terhadap Indonesia menyisakan bekas sejarah yang tidak terlupakan bagi pribumi. Utamanya bagi wilayah yang terjajah secara langsung, Pamekasan salah satunya. Masyarakat lokal memiliki cara tersendiri untuk memprotes ketidaksewenangan yang terjadi di tanah kelahirannya. Mereka menjadikan seni hiburan sebagai wadah mengkritik penjajahan kolonial Belanda, yakni dengan sebuah tarian yang disebut Tari Ronding.

SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN

Tari Ronding adalah salah satu media protes penduduk lokal terhadap Belanda kala itu. Tidak dipungkiri, tarian itu memang diilhami oleh tentara Belanda yang belajar baris berbaris dan bela diri. Tapi, tujuan utamanya Tari Ronding adalah untuk menyampaikan bentuk protes dan perlawanan kepada penjajah melalui simbol gerakan-gerakan yang ada di dalamnya.

Beberapa di antaranya adalah gerakan ‘adungkang’ atau membelakangi. Artinya, gerakan itu menyimbolkan bahwa masyarakat lokal tidak terima dengan keberadaan kolonial di Pamekasan.

“Gerakan itu menyiratkan Belanda epongkoren (dibeakangi) sebagai tanda bahwa masyarakat tidak mau dengan Belanda,” ungkap pelaku Tari Ronding Pamekasan, Herdiyanto Wijaya kepada Kabar Madura, Minggu (4/2/2024).

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

Selain dari segi gerakan, kostum yang melekat pada tari khas Pamekasan itu juga sarat akan makna dan perlawanan kepada kolonial Belanda. Salah satunya, odheng atau ikat kepala berwarna merah yang bermotif batik. Warna merah pada batik itu menyiarkan sebuah perlawanan penduduk lokal atas ketidakadilan yang terjadi.

Kemudian ada sattangan atau sapu tangan yang menyimbolkan senjata tajam atau tombak. Kala itu, ada peraturan bahwa hanya di keraton yang boleh menggunakan senjata tajam. Sehingga, simbol itu diganti dengan properti sapu tangan.

“Ada juga bay-rambay di bahu yang merupakan tanda pangkat kompeni yang melambangkan kedudukan pangkat anggota Belanda,” jelasnya.

Seiring berjalannya waktu, Tari Ronding kini mengalami perubahan, baik dari segi gerakan hingga fungsinya. Mulanya, tarian itu merupakan wujud kritikan yang disampaikan melalui seni hiburan. Namun kini, tarian itu murni bertransisi menjadi seni hiburan kebudayaan lokal yang patut dilestarikan.

Meski mengalami rekonstruksi gerak dalam tarian tersebut, menurut Herdi, esensi dari Tari Ronding tetap melekat. Sehingga perubahan itu bukan sebuah persoalan. Meski karakter yang dimainkan adalah seorang laki-laki, Tari Ronding tidak berbatas gender. Perempuan pun bisa memainkannya, tentu dengan gerakan dan perawakan yang dibutuhkan.

“Tidak ada catatan sejarah yang pasti terkait siapa penciptanya, tapi yang jelas tarian ini ada sejak Belanda masuk ke Madura. Tari Ronding ini merupakan Tari kreasi asli masyarakat Pamekasan, makanya kami ajukan sebagai warisan budaya tak benda tahun ini,” papar Herdi.

Redaktur: Sule Sulaiman

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *