KABAR MADURA | Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang berencana membangun 12 ruang kelas Sekolah Rakyat (SR) di atas lahan seluas 6,3 hektar. Pembangunan gedung SR tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu.
Kepala Bidang (Kabid) Pemerintahan dan Pengembangan Manusia pada Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Sampang Anas Muslim mengatakan, pembangunan SR ini akan dilakukan di Desa Taddan, Kecamatan Camplong.
Sekolah Rakyat yang berkonsep asrama itu diharapkan mampu menampung ratusan siswa dari keluarga prasejahtera yang selama ini mengalami kesulitan mendapatkan akses pendidikan yang layak di Sampang. “Bangunan yang akan di bangun di antaranya 12 ruang kelas, dan asrama,” ujarnya.
Anas menyebutkan, 12 ruang kelas itu terbagi ke untuk enam ruang untuk Sekolah Dasar (SD), tiga ruang untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan tiga ruang untuk Sekolah Menengah Atas (SMA). “Pembangunan ini juga akan mencakup fasilitas pendukung, seperti ruang guru, asrama, dan ruang siswa,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial, Perlindungan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Sampang Edi Subinto menjelaskan bahwa SR merupakan program dari pemerintah pusat yang ditujukan bagi siswa dari keluarga kurang mampu yang tercantum dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
Program itu, difokuskan pada anak-anak yang putus sekolah atau tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, terutama akibat keterbatasan ekonomi keluarga.
“Seluruh kebutuhan siswa nantinya akan ditanggung oleh pemerintah pusat, mencakup biaya sekolah, seragam, tempat tinggal, hingga makanannya. Nantinya, dalam satu kelas, masing-masing berisi kurang lebih 25 siswa,” ujarnya.
Sementara Mantan Presiden Mahasiswa Poltera periode 2024-2025 Zainuddin berharap, Pemkab Sampang agar lebih fokus dalam menjalankan program SR dengan benar-benar menyasar pada masyarakat yang paling membutuhkan.
Menurutnya, SR harus memprioritaskan anak-anak dari keluarga miskin ekstrem, guna memastikan mereka mendapat akses pendidikan berkualitas dan memiliki peluang yang sama dalam meraih masa depan. Jika tidak tepat sasaran, seperti anak dari keluarga berkecukupan masuk SR, dikhawatirkan akan menghambat tujuan utama program tersebut.
“Upaya pengawasan ketat dan pendataan yang akurat menjadi kunci keberhasilan program SR ini,” harapnya. (km90/sub/din)





