KABAR MADURA | Kasus penyebaran kusta 2025 di Pamekasan masih berada di angka ratusan. Kendati demikian, tren kasus penyakit menular ini mengalami penurunan dari tahun 2024. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan, sepanjang tahun 2024 tercatat 159 kasus, sementara di tahun 2025 turun menjadi 141 kasus.
Dari total kasus yang ditemukan, sebaran berada di beberapa puskesmas. Sebaran terbanyak berada di Puskesmas Batumarmar mencatat 25 kasus, kemudian Pegantenan 16 kasus, dan Panaguan 14 kasus, serta Waru yang mencapai 12 kasus. Sementara 17 puskesmas lainnya tercatat di bawah 10 kasus.
Plt. Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Pamekasan Avira Sulistyowati mengatakan, upaya pencegahan terus dimassifkan. Salah satunya melalui penemuan kasus secara aktif agar penderita bisa segera mendapatkan pengobatan.
“Kusta ini bukan kutukan dan bukan penyakit turunan. Ini bisa disembuhkan dengan cara pengobatan yang secepatnya,” jelasnya, Selasa (27/1/2026).
Menurutnya, langkah itu dinilai penting karena stigma negatif terhadap kusta masih cukup kuat di masyarakat, sehingga sebagian penderita merasa takut atau malu untuk melakukan pengobatan.
Selain itu, pengobatan juga tidak hanya dilakukan pada penderita, namun juga dilakukan pada anggota keluarga yang terkontak dengan pasien atau penderita secara langsung. Avira menyebut, koordinasi lintas sektor juga terus diperkuat guna meningkatkan sosialisasi dan edukasi tentang penyakit kusta.
“Kami menggandeng dokter spesialis juga, dan target kami kedepan tidak ada lagi temuan kasus baru,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Pamekasan Halili mengatakan, dalam upaya menekan penyebaran kusta, diperlukan sosialisasi dan edukasi yang lebih masif dari semua sektor. Sebab, menurutnya, saat ini masih banyak penderita kusta yang enggan melakukan pengobatan karena merasa malu akibat stigma negatif di masyarakat.
“Kita perlu jemput bola juga. Artinya, harus ada petugas yang turun langsung ke lapangan apabila ada penderita yang positif. Karena kadang, mereka memilih tidak berobat sebab merasa malu,” jelas politisi senior Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu.
Dia juga menekankan, edukasi mengenai kusta juga sangat perlu dikampanyekan oleh pemerintah daerah di tengah masyarakat, mulai dari gejala hingga pengobatan. Upaya itu guna menghapus stigma negatif tentang penyakit menular tersebut.
“Penderita cenderung merasa terisolasi karena stigma negatif yang beredar mengenai kusta masih ada. Padahal, ini penyakit yang bisa disembuhkan dan tidak serta-merta langsung menular begitu saja,” tegasnya. (nur/zul)
SEBARAN KASUS KUSTA 2025 DI PAMEKASAN
- Puskesmas Batumarmar – 25 kasus
- Puskesmas Pegantenan – 16 kasus
- Puskesmas Panaguan – 14 kasus
- Puskesmas Waru – 12 kasus
- Puskesmas Bulangan Haji – 9 kasus
- Puskesmas Pasean – 9 kasus
- Puskesmas Tlanakan – 7 kasus
- Puskesmas Bandaran – 7 kasus
- Puskesmas Pademawu – 5 kasus
- Puskesmas Palengaan – 5 kasus
- Puskesmas Pakong – 5 kasus
- Puskesmas Kowel – 4 kasus
- Puskesmas Kadur – 4 kasus
- Puskesmas Tampojung Pregi – 4 kasus
- Puskesmas Larangan Badung – 4 kasus
- Puskesmas Larangan – 3 kasus
- Puskesmas Proppo – 3 kasus
- Puskesmas Galis – 2 kasus
- Puskesmas Sopa’ah – 1 kasus
- Puskesmas Talango – 1 kasus
- Puskesmas Teja – 1 kasus
Sumber data: Dinkes Pamekasan.





