KABAR MADURA | Program anak tidak sekolah (ATS) ditarget Juli dapat dilaksanakan. Tetapi hingga saat ini masih sedikit kesulitan untuk memulai. Alasannya, rata-rata ATS itu karena bekerja ke luar daerah.
Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Sumenep Agus Dwi Saputra melalui Kasi Peserta Didik dan Pembangunan Karakter PAUD dan PNF Akh. Supiyanto mengatakan, setelah proses pendataan, ATS itu banyak yang tidak ada di Sumenep.
“Mereka bekerja ke menjaga toko di Jakarta, ada pula yang ATS karena sudah bersuami dan ikut suaminya kerja ke luar daerah,”katanya, Selasa, (7/5/2024).
Data sementara yang dihasilkan, terdapat sekitar 60 ATS di Sumenep, rata-rata di Kecamatan Batang-batang, Talango, Pasongsongan, dan Saronggi.
ATS yang sudah ada di luar daerah akan dihubungi pihak desa agar mereka pulang karena ada program ATS berupa pembinaan dan ujian peket.
Dalam program ini, Supiyanto berharap seluruh kepala sekolah juga diminta untuk peduli dan ikut mengatasi masalah ATS, termasuk tokoh masyarakat, tokoh agama, kader PKK, dan pemerintah desa (pemdes).
Sementara itu, anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DPRD Sumenep Sami’oeddin menegaskan, program ATS ini perlu dimaksimalkan, tujuannya agar lebih sedikit ATS di Sumenep. Solusinya saat ini perlu melakukan penyadaran utamanya pada orang tua.
“Program ATS ini juga penting. Namun pendataannya harus benar-benar valid, lebih penting lagi perlu ada program sebelum terjadi ATS misalnya, ada pembinaan atau sosialisasi akan pentingnya pendidikan,” ucap politisi PKB itu.
Pewarta: Imam Mahdi
Redaktur: Wawan A. Husna





