Perjalanan Hidup Rektor Unira Dr. Gazali: Dari Anak Nelayan, Jadi Pimpinan Perguruan Tinggi

Harmoni250 views

KABAR MADURA | Terlahir dari keluarga sederhana, bukan alasan untuk tidak maju. Besar di lingkungan biasa—tidak di kalangan ‘atas’, bukan alasan untuk berhenti berkreativitas. Kehidupan yang biasa saja, masih bisa diubah menjadi luar biasa, asal ada kemauan, usaha, dan doa. Bersyukur dan rido orang tua menjadi penopang utama. Hal itu yang dilakukan Dr. Drs. Ec. GazaIi, M.M yang saat ini menjadi Rektor Universitas Madura (Unira) Pamekasan.

KHOYRUL UMAM SYARIF, PAMEKASAN

Di balik jabatan prestisius sebagai rektor Unira, Dr. Drs. Ec. Gazali, M.M menyimpan kisah hidup yang bukan hanya inspiratif, tetapi juga sarat pelajaran tentang kesederhanaan, perjuangan, dan keyakinan bahwa pendidikan mampu mengubah garis takdir.

Lahir dari keluarga sederhana di kawasan pesisir Candi Selatan, Desa Polagan, Kecamatan Galis, Pamekasan, Gazali kecil tumbuh bersama semangat orang tua yang meski tak mengenyam pendidikan, namun kaya akan nilai kehidupan. Ayahnya seorang nelayan dan petambak, ibunya tidak pernah sekolah. Namun dari tangan mereka lah nilai etos kerja dan keikhlasan hidup tertanam kuat dalam diri sang anak.

“Orang tua saya sering memberi contoh tentang giat bekerja, tentang etos kerja Madura, bekerja keras pantang menyerah, abental ombek asapok angen, dan orang tua baik bapak maupun ibu adalah sangat dermawan,” tuturnya mengenang.

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

Tak ada bayangan sedikit pun di benaknya akan menjadi pemimpin perguruan tinggi. Namun tekad untuk menjadi pribadi yang berguna dan bermanfaat, telah menyemai langkahnya sejak kecil.

Baca Juga:  BEM FIA Unira Gelar Seminar Nasional, Dorong Mahasiswa Jadi Pengawal Demokrasi

“Orang tua mengajarkan bahwa saya harus sekolah agar lebih baik dari orang tua, karena orang tua tidak sekolah. Bahkan Tidak pernah terbayang bahwa akan menjadi rektor, tapi alhamdulillah,” ucapnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan di SMEAN Pamekasan tahun 1986, ia melanjutkan ke Fakultas Ekonomi Unira pada 1987 hingga 1992. Di masa itu, ia aktif di berbagai organisasi, baik intra maupun ekstra kampus. Aktivitas tersebut membentuk karakter kepemimpinannya. Bahkan sebelum lulus, ia sudah dipercaya mengajar oleh almarhum Pak Farhan Tabrani, dosen Fakultas Ekonomi.

Namun, di tengah perjalanan, muncul kesadaran yang mengusik idealismenya. “Apakah pantas lulusan S1 mengajar S1?” pikirnya. Pertanyaan itulah yang kemudian menuntunnya untuk melanjutkan pendidikan S2 di Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang. Ia lulus pada 2001 dengan predikat wisudawan terbaik.

Langkahnya tak terhenti di situ. Pada 2008, Gazali kembali melanjutkan studi ke jenjang doktoral di Universitas Negeri Malang dan lulus tahun 2013. Di sela itu, ia menggagas pendirian Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan (MAKRO) di Fakultas Ekonomi Unira, yang masih eksis hingga kini.

Tanggung jawab akademik dan sosial terus diembannya. Ia aktif di Inkubator Bisnis dan Kewirausahaan FE Unira, menjabat Dekan Fakultas Ekonomi (2017–2021), kemudian Wakil Rektor II (2021–2024), Rektor definitif pengganti (2024–2025), hingga akhirnya resmi terpilih sebagai Rektor Unira periode 2025–2029.

“Tantangan terbesar adalah membangkitkan kesadaran kolektif akan budaya mutu, integritas dan etos kerja,” ungkapnya.

Baca Juga:  Halalbihalal Unira, Perkuat Silaturahmi Sekaligus Santuni Anak Yatim

Di balik ketegasan dan capaian akademik, Gazali menyimpan ketulusan dalam meneladani sosok paling berpengaruh dalam hidupnya: Sang Ibu. Meski tidak pernah sekolah, ibunya selalu mengingatkan agar hidup dijalani dengan kehati-hatian.

Tak hanya akademisi, ia juga pelaku usaha. Ia mengelola Basaraya, pusat ikan dan camilan lokal. Dalam kehidupan, ia berpegang pada nilai-nilai luhur Islam—empat sifat Nabi: sidiq, amanah, tabligh, dan fatonah. Ia juga memegang sabda Ibnu Abbas RA sebagai panduan hidup: “Ada empat perkara, dan jika seseorang memilikinya, maka ia akan menggapai keberuntungan: sidiq, rasa malu, akhlak yang baik, dan bersyukur.”

Dalam memimpin Unira, visinya terang dan menukik: mengembangkan growth mindset agar kampus ini terus tumbuh, maju, dan membawa berkah. Ia ingin seluruh sivitas akademika menanamkan nilai tanggung jawab, integritas, dan keunggulan berkelanjutan, menuju visi besar Unira sebagai perguruan tinggi bereputasi nasional di tahun 2036.

“Kepemimpinan Rektor adalah Amanah, yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab baik didunia maupun di akhirat,” ujarnya dengan penuh keyakinan.

Kepada generasi muda, ia titipkan pesan sederhana namun mendalam: belajar dengan semangat dan menjaga adab dalam menuntut ilmu. Karena dari situlah masa depan terbentuk.

“Saya ingin Unira ke depan menjadi Kampus yang unggul dan berdampak. Mutunya dirasakan masyarakat, pelayanan prima, fasilitas lengkap, kurikulum adaptif dan hasil atau output yang nyata,” pungkasnya. (ong)

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *