Prof Achsanul Qosasi Kritik Ketimpangan yang Dialami Madura

Pemerintahan35 views

KABAR MADURA | Akademisi sekaligus tokoh Madura, Prof. Achsanul Qosasi (Prof AQ), melontarkan kritik keras terhadap ketimpangan perhatian negara terhadap Pulau Madura. Menurutnya, Madura kerap hanya “dicari” ketika kepentingan politik datang, namun diabaikan ketika rakyatnya memperjuangkan kesejahteraan ekonomi.

“Kalau soal politik, Madura selalu dibutuhkan. Tapi begitu bicara kesejahteraan masyarakat Madura, gubernur, wakil gubernur, bahkan pejabat negara seolah enggan datang dan peduli,” tegas Prof AQ, Rabu, (26/11/2025) saat FGD pada pelantikan pengurus PWI Sumenep.

Prof AQ menegaskan, pendekatan pembangunan ke Madura tidak bisa dilepaskan dari tembakau dan garam. Dua komoditas ini adalah urat nadi kehidupan rakyat Madura.

“Kalau pemimpin datang ke Madura dengan membawa solusi untuk tembakau dan garam, saya pastikan dia akan disambut dan dihormati oleh orang Madura. Karena itu yang menyangkut hidup mati rakyat,” ujarnya.

Baca Juga:  Jaringan Listrik Diduga Serobot Lahan Warga, PLN Sumenep Didemo dan Didesak Transparan

Namun ironisnya, kata Prof AQ, ketika petani tembakau menjerit akibat harga yang tidak stabil, negara justru seolah lepas tangan.

IMG-20260612-WA0052
IMG-20260612-WA0047
IMG-20260612-WA0050
IMG-20260612-WA0051
IMG-20260612-WA0049
IMG-20260612-WA0046

Prof AQ juga menyoroti fakta strategis bahwa lebih dari 50 persen produksi tembakau nasional berasal dari Madura, terutama dari Sumenep, Pamekasan, dan Sampang.

“Secara logika keadilan, Madura ini sangat layak diistimewakan oleh negara. Karena tembakau nasional itu lebih dari separuh disumbang oleh Madura,” tegasnya.

Dia menilai, negara seharusnya memberikan perlakuan khusus (special treatment) kepada Madura, salah satunya melalui kebijakan cukai tembakau dengan harga khusus yang lebih murah untuk petani Madura.

“Kalau negara serius berpihak kepada rakyat, cukai jangan hanya jadi sumber pendapatan negara, tapi juga alat perlindungan petani,” ujarnya lantang.

Baca Juga:  Kiai, Kades, dan Pengusaha Bangun Sinergi Lewat Macapat-Samman

Menurut Prof AQ, pemerintah tidak bisa terus berlindung di balik dalih regulasi dan pasar. Ia menegaskan bahwa negara punya tanggung jawab moral dan konstitusional terhadap rakyat, khususnya petani tembakau Madura.

“Madura bukan daerah penonton. Madura ini penyumbang besar industri tembakau nasional. Kalau Madura terus dizalimi, ini bukan hanya persoalan ekonomi, tapi persoalan keadilan sosial,” katanya.

Di akhir pernyataannya, Prof AQ memberikan peringatan keras agar Madura tidak terus dijadikan sekadar lumbung suara saat pemilu, namun diabaikan setelah kekuasaan diraih.

“Jangan datang ke Madura hanya saat butuh suara rakyat. Datanglah juga saat petani butuh keadilan. Kalau tidak, luka sejarah ini akan terus diingat,” pungkasnya. (ara/waw)

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *