KABAR MADURA | Gelar guru besar bukanlah hadiah instan yang jatuh dari langit. Ia adalah buah dari napas panjang, konsistensi, dan daya juang tanpa batas. Realitas itulah yang baru saja dibuktikan oleh Prof. Dr. Sri Astutik, S.H., M.H., yang resmi mengukuhkan dirinya sebagai Profesor di bidang Ilmu Hukum Bisnis Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya.
Di usianya yang menginjak 59 tahun, perempuan kelahiran Blitar ini berhasil berdiri di podium tertinggi akademik. Pencapaian ini sekaligus mematahkan keraguan masa lalunya, mengingat menjadi seorang profesor awalnya sama sekali tidak pernah masuk dalam daftar cita-citanya.
Bangkit dari Zona Nyaman Akademik
Lama menyandang gelar doktor dan berada di posisi Lektor Kepala sempat membuat Astutik berada di fase stuck atau jalan di tempat. Angan-angannya dulu cukup berlabuh di tingkat doktoral saja. Namun, dorongan kuat dari lingkungan sekitar mengubah peta hidupnya.
“Saya sempat stuck lama. Lalu saya mendapat dorongan kuat untuk menjadi profesor dari rekan-rekan akademisi, termasuk dari Rektor Unitomo, Prof. Dr. Siti Marwiyah. Di sisi lain, muncul komitmen kuat dalam diri saya untuk memberi kontribusi lebih bagi dunia pendidikan, khususnya bagi sivitas akademika Unitomo,” kenang lulusan Doktoral Universitas Airlangga (Unair) tersebut saat ditemui pada Sabtu (27/6/2026).
Langkah itu jelas tidak mudah. Sebagai seorang istri dari Bambang Irawan, ibu dari tiga anak, sekaligus nenek dengan satu cucu, Astutik harus pintar-pintar membagi energi. Ia wajib menyeimbangkan dinamika rumit antara kewajiban domestik rumah tangga dan tuntutan ketat tri dharma perguruan tinggi.
Senjata Rahasia: Scopus dan Doa Ibu
Tantangan terberat yang menguras waktu, pikiran, dan tenaga Astutik adalah ketika ia harus menembus ketatnya revisi jurnal internasional bereputasi (Scopus). Alih-alih mundur saat drafnya berkali-kali dikembalikan untuk direvisi, tensi kesulitan itu justru membakar semangatnya untuk membuktikan diri.
Bagi anak kedua dari pasangan H. Edi Winarto dan Hj. Samsikah ini, ada tiga kunci utama yang membuatnya mampu bertahan hingga akhir: konsistensi, kerja keras, dan doa yang tak pernah putus.
“Gubes adalah jabatan akademis yang butuh perjuangan berat. Kita harus konsisten dan terus berdoa. Kuncinya ada pada rida keluarga, terutama ibu dan suami saya. Alhamdulillah, rida Allah dan orang tua serta dukungan penuh anak-anak yang memperlancar jalur karir ini,” ujar Astutik dengan senyum syukur.
Kini, dengan kepakarannya di bidang Hukum Bisnis, Prof. Astutik fokus menyoroti isu krusial yang dekat dengan masyarakat: perlindungan hukum bagi nasabah bank di tengah badai penipuan era digital.
Pesan untuk Generasi Z: Jangan Jadi Budak Digital
Sebagai pendidik yang sarat pengalaman, Prof. Astutik menitipkan pesan tajam namun sejuk bagi para mahasiswa generasi masa kini. Ia meminta anak muda untuk tidak malas dan tidak sekadar menjadi konsumen teknologi yang pasif.
“Mahasiswa harus siap membuka diri dengan perkembangan zaman. Jangan ketergantungan dengan teknologi, tapi harus cermat memanfaatkannya. Anda harus kreatif, memadukan ide pribadi dengan kecanggihan digital,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa kecerdasan intelektual di ruang kuliah tidak akan bermakna banyak jika tidak diimbangi dengan kematangan spiritual. “Harus pintar di akademik, dan harus kuat di luarnya (spiritual),” pungas Prof. Astutik. (rul)





