Rudi Hartono, Pencetus Konservasi Lingkungan Desa Kedatim Sumenep, Kini Jadi Ekowisata Mangrove

Harmoni163 views

Rudi Hartono, pria kelahiran 13 Juni 1980 ini berhasil menyulap hutan mangrove di desanya menjadi destinasi wisata. Destinasi ekowisata mangrove itu berada di Dusun Ro’soro’ Desa Kebundadap Timur (Kedatim) Kecamatan Saronggi Sumenep.  

IMAM MAHDI, SUMENEP

Awal mula Rudi berkeliling desa hingga mendapati sebuah rimbun pohon mangrove di Dusun Ro’soro’. Dia pun berpikir bagaimana dirinya memberi dampak terhadap lingkungan dan masyarakat di desanya. Sebab, Rudi telah menyandang status sarjana. 

Pria itu pun berpikir keras. Hingga terbesit untuk memaksimalkan potensi hutan mangrove yang ada di desanya. Dia pun berdiskusi dengan masyarakat dan perangkat desa setempat.

“Semua ide saya tuangkan. Alhamdulillah masyarakat menyetujuinya. Kami pun membentuk sebuah rapat bersama termasuk dengan perangkat desa,” katanya, Minggu (16/2/2025).

Baca Juga:  Askab PSSI Sumenep Siapkan Turnamen Sepak Bola Antar Pelajar, Ajang Cari Bibit Atlet Muda

Rudi mengungkapkan, berawal dari keresahan bersama dan niat konservasi lingkungan yang mulai diseriusi, akhirnya terciptalah destinasi ekowisata mangrove.

Rudi mengatakan, saat ini sudah ada 20 orang pekerja yang mengelola ekowisata mangrove tersebut. Pengelolaan destinasi itu dikerjasamakan dengan pemerintah desa setempat. “Terwujudnya ekowisata mangrove ini 99 persen dimotori oleh saya dengan merekrut pekerja untuk menggarapanya,” paparnya. 

Atas hasil kerja keras dan kerjasamanya dengan masyarakat serta pemerintah desa setempat, objek wisata alam ini pun cukup disukai dan kerap disinggahi muda mudi.

“Karyawan yang ada di sana, kami ambil dari wilayah sendiri (warga setempat). Lumayan untuk pengembangan kemandirian perekonomian. Untuk tiketnya, kami patok Rp10 ribu sekali masuk. Sebagian hasilnya akan dibagikan kepada para pekerja,” ujar dia. 

Baca Juga:  KNMP Sumenep Diusulkan ke Tiga Wilayah Pesisir, Dorong Ekonomi Nelayan

Rudi menyebut, setiap harinya pengunjung tidak kurang 100 orang. Bahkan, saat ini semakin bertambah. “Berbuat untuk bermanfaat pada orang lain, itu jauh berharga daripada hanya mencari penghasilan untuk dirinya,” ucapnya.

Rudi mengaku bersyukur, ekowisata mangrove Kedatim yang digagasnya beberapa tahun lalu tidak hanya menjadi destinasi wisata, namun juga menjadi tempat observasi, penelitian. Bahkan, mendapatkan apresiasi dari Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) tahun 2022.

Saat ini, Rudi fokus menjadi abdi negara setelah dirinya dinyatakan lulus sebagai guru PPPK sejak 2022 lalu. Namun, dirinya mengaku tetap akan menjadi bagian dari ekowisata mangrove yang pernah digagasnya. (imd/din)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *