Sintung, Tarian Asal Gujarat yang Ditradisikan di Pesantren Madura sejak Abad 18

News253 views

KABAR MADURA | Tari Sintung  dari Desa Tambaagung, Kecamatan Ambunten, Sumenep menjadi salah satu kesenian yang sarat dengan nilai-nilai spiritualitas. Meskipun dikenal dengan tari yang didatangkan dari bangsa luar, namun dalam perkembangannya, menjadi salah satu event dan penyambutan tamu-tamu istimewa pemerintah Sumenep.

MOH RAZIN, SUMENEP

Dalam sejarahnya,  Sintung ini berasal dari Asia Tengah, sekitar semenanjung Arabia. Seni tari itu dibawa oleh para pedagang Gujarat (India), bersamaan dengan misi mereka, yaitu menyebarkan agama Islam.

Awalnya masuk ke wilayah Sumatera, tepatnya Aceh. Kemudian terus berjalan menuju ke arah timur pulau Jawa, dan akhirnya sampai ke dataran Pulau Madura.

Ahmad Baidawi, salah seorang penggemar Tarian Sintung menyampaikan, kesenian ini diperkirakan setua pesantren di Kampung Parongpong, Kecamatan Rubaru, Sumenep. Pesantren ini diperkirakan berdiri sekitar abad XVIII. Sebab di pesantren tersebut, kesenian Sintung diajarkan kepada para santri.

Baca Juga:  Haji Her Buka-bukaan Uraikan Perputaran Dana Tembakau, Singgung Peran Pesantren Sejahterakan Petani

Di antara  santri yang mempelajari Sintung  ada yang berasal dari Desa Tambaagung Barat, yang secara kebetulan mempunyai hubungan kekerabatan.

“Itu sepintas yang kami ketahui, tetapi dalam perkembangannya sudah dijadikan penampilan-penambahan,” kata dia.

Menurutnya, kesenian ini cepat mendapat respon dari masyarakat, karena banyak membawa pesan-pesan yang Islami. Kosaata Sintung merupakan akronim dari rangkaian kata “wang-awang sintung”, “wang-awang” mempunyai arti “mengangkat kaki”, dan kata “sin” berasal dari bahasa Arab, berarti bergembira ria. Sedangkan tung, merupakan kepanjangan dari kata settung (satu).

Secara gamblang dapat diartikan bahwa Sintung adalah refleksi jiwa, ungkapan kegembiraan yang diekspresikan dengan cara mengangkat kaki, bergembira ria sambil melompat-lompat disertai pembacaan shalawat dan barzanji.

Baca Juga:  Manasik Haji IBS PKMKK Tanamkan Kesadaran Spiritual dan Nilai Tauhid pada Santri

“Nah itu juga sebagai pemujaan kepada baginda nabi, sebab musiknya merupakan shalawat,” imbuhnya.

Dilanjutkan, gerak tarian dan nyanyian (shalawat dan barzanji) tersebut, hanya ditujukan pada satu Dzat yang menguasai alam semesta, yaitu Sang Khaliq, Sang Maha Pencipta, dan Sang Maha Kuasa. Lirik dalam Syair Sintung ini sangat sulit diterjemahkan, karena hampir semua kata mengandung unsur bunyi.

Menurutnya, pesan dari kesenian itu untuk menunjukkan akan adanya zat yang agung yang mengatur segalanya. Sehingga dengan kesadaran adanya yang agung, maka tentu saja tidak ada zat lain yang perlu disembah.

“Itulah nilai-nilai spritualitas yang dapat diambil dari tarian tersebut,” pungkasnya.

Redaktur: Wawan A. Husna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *