Haji Her Buka-bukaan Uraikan Perputaran Dana Tembakau, Singgung Peran Pesantren Sejahterakan Petani

KABAR MADURA | Pengusaha tembakau Haji Khairul Umam atau yang akrab disapa Haji Her memaparkan secara terbuka pengelolaan keuangan dari usaha tembakau yang dijalankannya, termasuk keterlibatan dana dari kalangan pesantren dan pengusaha dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani di Madura.

Dalam pernyataannya, Haji Her menegaskan bahwa orientasi utama usahanya bukan semata keuntungan pribadi, melainkan mendorong kesejahteraan masyarakat. Ia mengaku memiliki cita-cita agar tidak ada lagi warga yang kesulitan menyekolahkan anak maupun tinggal di rumah tidak layak huni.

“Apa impian saya? Saya tidak ingin melihat ada di sekitar saya khususnya di Madura ini orang-orang yang tidak mampu lagi membiayai anaknya sekolah. Saya ingin melihat tidak ada lagi di sekitar saya rumah-rumah yang tidak layak. Saya ingin melihat kalian semua ini sejahtera,” ujarnya.

Haji Her kemudian merinci perputaran dana yang dikelolanya. Ia menyebut, pada awalnya dana yang dimiliki mencapai sekitar Rp3,1 miliar. Dana tersebut digunakan untuk membeli tembakau petani hingga mencapai sekitar 60 ton.

Setelah proses penjualan, nilai dana tersebut meningkat signifikan. “Saat ini setelah tembakaunya sudah kita jual, dana tiga miliar seratus itu menjadi empat miliar seratus tiga puluh tiga juta rupiah,” ungkapnya.

Menurutnya, perputaran modal tersebut tidak terlepas dari kontribusi ratusan pesantren. Ia menyebut sekitar 350 pesantren ikut mengumpulkan dana untuk membantu pembelian tembakau petani.

Dana tersebut, kata dia, tidak hanya berorientasi bisnis, tetapi juga memiliki tujuan sosial. Keuntungan yang diperoleh digunakan untuk mendukung lembaga pendidikan hingga membantu perbaikan rumah tidak layak huni.

“Keuntungannya untuk lembaga-lembaga pendidikan, untuk rumah-rumah yang tidak layak. Intinya kami ingin membantu pemerintah membangun perekonomian dan mengentaskan kemiskinan,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa seluruh dana yang dikelola merupakan dana murni dari pesantren dan pengusaha, bukan berasal dari praktik ilegal.

“Uang yang kita pakai ini murni modal dari kita. Bukan dari hasil mencuri, bukan merampok, bukan korupsi,” tegas CEO PT Bawang Mas H. Khairul Umam saat menghadiri salah satu kegiatan, Minggu (5/4/2026) lalu.

Lebih lanjut, Haji Her mengungkap latar belakang gerakan tersebut bermula dari pertemuannya pada 2022 dengan salah satu ulama, Kyai Muhammad Rofi’ Baidawi, pengasuh Pesantren Al-Hamidi Banyuanyar.

Dalam pertemuan itu, ia mendapat gambaran kondisi petani yang mengalami siklus kerugian akibat permainan harga oleh pabrikan.

“Ji Her, nikah oreng tani nikah ekamain. Ben pabrik-pabrik nikah ekamain (ini petani dipermainkan. Oleh pabrik-pabrik dipermainkan). Tiga tahun rugi, setahun untung. Setahun untung, tiga tahun rugi,” tuturnya menirukan pesan sang kiai.

Baca Juga:  Presiden! KEK Tembakau: Jalan Pulang Ekonomi Madura

Kondisi tersebut berdampak langsung pada kemampuan wali santri dalam membiayai pendidikan anak-anak mereka.

Menanggapi hal itu, Haji Her bersama para ulama kemudian menggagas pengumpulan modal besar untuk menyaingi pabrikan agar harga tembakau lebih terkendali.

Sobung laen kantoh kyai caranah (tidak ada cara lain lagi kiai) kita kumpulkan uang yang banyak. Kita saingi pabrikan-pabrikan itu biar mereka tidak sembarangan beli tembakau,” ujarnya.

Gerakan tersebut melibatkan banyak pihak, mulai dari yang menyetor modal jutaan hingga miliaran rupiah. Salah satu yang disebut berkontribusi besar adalah Al Falah Sumber Gayam.

Dia menyebut, langkah kolektif tersebut mulai menunjukkan hasil dalam empat tahun terakhir, di mana kondisi petani tembakau dinilai semakin membaik.

“Alhamdulillah langkah kita berhasil. Empat tahun ini petani sejahtera utuh terus,” katanya.

Haji Her menambahkan, keberhasilan ini tidak lepas dari peran besar para alim ulama dan pesantren dalam menjaga stabilitas ekonomi berbasis tembakau di Madura.

Menurutnya, sekitar 70 persen perekonomian Madura bergantung pada sektor tembakau, sementara sisanya berasal dari garam dan sektor lain.

“Kalau perekonomian tembakau tidak jalan, maka sebagian besar ekonomi tidak akan berjalan,” pungkasnya. (nur/waw)

IMG-20260612-WA0113
IMG-20260612-WA0121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *