KABAR MADURA | Terkait anjloknya harga garam, Asosiasi Petambak Garam (APG) langsung merespon dengan bersurat ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) dan Dinas Kelautan Perikanan Jawa Timur
Namun yang surat yang dilayangkan beberapa minggu lalu itu tidak ada respon. Maka jalan terakhir yang akan dilakukan oleh oleh asosiasi garam adalah turun jalan.
Hal itu diungkapkan Ketua APG Abdul Hayat, merosotnya harga garam menjadi perhtian serius. Berbagai upaya telah dilakukan. Sayangnya, hingga saat ini tidak kunjung naik. Sehingga, opsi terakhir akan melakukan aksi demonstrasi yang melibatkan para petambak garam.
“Sudah satu bulan lebih perjuangan kami masih sia-sia, sehingga jalan terakhir adalah lakukan aksi nantinya, menganai waktunya akan kami rapatkan lagi,” katanya, Minggu (4/8/2024).
Dikatakan, turun ke jalan perlu dilakukan, demi kesejahteraan para petambak garam di Madura, khususnya di Sumenep. Sebab, para para petambak garam saat ini banyak yang mengeluh dan perlu adanya kenaikan harga.
Diketahui, berdasarkan pantauan APG, pada Januari dan Februari 2024, harga garam masih stabil, yakni Rp1.400 per kilogram. Namun, menjelang produksi pada saat ini terus turun tiap bulan, awalnya turun menjadi Rp1.200 per kilogram. Lalu pada April Rp1.000 per kilogram, namun kini turun jadi Rp700 per kilogram.
“Harga masih tetap, tidak ada perkembangan, padahal saat ini sudah memasuki masa panen,” ujarnya.
Sementara itu, anggota Komisi II DPRD Sumenep Juhari menegaskan, bahwa saat ini tidak ada regulasi khsusus mengenai harga garam, sehingga sulit dalam pengaturan harga garam. Oleh karena itu, dirinya akan memperjuangkan regulasi khusus, misalnya ada patokan harga dari pemerintah dan lainnya.
Supiyanto Hafid petambak asal Kalianget mengutraakan, merosotnya harga garam memang mengurangi penghasilan para petambak garam, yang biasanya untung sekitar Rp40 juta, saat ini masih nihil penghasilan.
Maka dari itu, dirinya berharap agar harga garam menajdi pulih kembali. “Kami juga butuh perhatian dari pemerintah,” tuturnya.
Pewarta: Imam Mahdi
Redaktur: Fathor Rahman





