Oleh: Achmad Muhlis
Ketua SENAT UIN Madura / Direktur IBS PKMKK
Tradisi tômang kôdûh ngôkôs kembali mencuat sebagai salah satu simbol kearifan lokal Madura yang sarat akan makna, terutama dalam konteks ketahanan pangan, etos kerja, dan dinamika sosial-politik masyarakat Madura. Praktik tradisional yang berkaitan dengan cara masyarakat bekerja keras agar tetap memiliki cadangan, tetap waspada, dan tidak menyia-nyiakan hasil panen, kini perlu di galakkan kembali sebagai salah model lokal yang sangat relevan di era global saat ini.
Ungkapan orang madura masa lampau ini, secara bebas dapat dimaknai sebagai“meski sedikit tetap disimpan; meski sempit tetap bekerja”, artinya menghemat hasil panen, memprioritaskan kebutuhan pokok, serta bekerja secara terukur dan taktis, tetap bekerja keras meski hasil sedikit, tetap menyimpan meski rezeki tipis.
Ungkapan ini, kini bisa di jadikan fondasi dasar etos kerja, strategi ketahanan pangan, dan budaya politik lokal masyarakat Madura. Dalam kajian sosial-politik kontemporer, ungkapan ini dapat dipahami bukan sekadar nasihat kultural, tetapi sebuah model ketahanan pangan berbasis etos kerja, yang sejatinya telah lama beroperasi dalam kehidupan agraris masyarakat Madura. Di samping itu, Tômang Kôdûh Ngôkôs selaras dengan gagasan kemandirian pangan (food sovereignty) atau bahkan sejalan dengan konsep food security modern yang kini semakin penting di tengah ancaman krisis global.
Tômang Kôdûh Ngôkôs, menurut Bourdieu dapat dipahami sebagai habitus agraris, yakni sekumpulan disposisi mental yang terinternalisasi melalui sejarah panjang masyarakat dalam menghadapi lahan kering dan ketidakpastian alam. Sehingga habitus ini membentuk pola tindakan untuk bekerja keras, hidup hemat, dan menata hasil panen demi jangka panjang.
Bagi Giddens Tômang Kôdûh Ngôkôs, merupakan teknologi sosial yang membuat petani tetap memiliki cadangan pangan meski negara belum sepenuhnya mampu menjamin stabilitas ekonomi, masyarakat Madura memiliki sistem manajemen risiko sendiri, berbeda dari sistem birokratis negara modern. Namun Scott, menyebutnya sebagai “senjata kaum lemah”, yakni sebuah strategi bertahan hidup dalam sistem ekonomi yang sering kali tidak berpihak pada petani kecil. Sehingga Tômang Kôdûh Ngôkôs bisa menjadi ekspresi kemandirian, artinya petani tidak membiarkan dirinya sepenuhnya bergantung pada pasar atau negara. Ungkapan Tômang Kôdûh Ngôkôs dapat juga dibaca sebagai politik pangan bawah, tempat masyarakat Madura mempertahankan otonomi atas produksi, distribusi, dan konsumsi pangan mereka.
Tômang Kôdûh Ngôkôs memperkuat solidaritas pedesaan, dan bagian dari bentuk ashabiyyah ekonomi yang menjaga masyarakat dari krisis pangan kolektif. Nilai ini tercermin dalam kebiasaan masyarakat Madura mengalokasikan hasil panen, menyimpan sedikit demi sedikit, serta menghindari konsumsi yang tidak perlu. Sementara Ibnu Miskawaih menekankan pada karakter manusia unggul itu, terbentuk dari pengendalian diri dan keuletan bekerja. Sehingga
Tômang Kôdûh Ngôkôs menjadi praktik nyata dari etika kerja orang Madura, yakni kerja dengan disiplin tinggi, hemat, dan berorientasi jangka panjang. Dengan demikian, tradisi ini bukan hanya budaya lokal Madura, tetapi praktik moral dan spiritual tentang amanah menjaga kehidupan keluarga dan komunitas.
Ketangguhan pagan nasional sering kali dimulai dari habitus lokal yang telah teruji oleh sejarah. Sehingga nilai Tômang Kôdûh Ngôkôs dapat diintegrasikan dalam program penyuluhan pangan, kurikulum sekolah berbasis budaya lokal, kebijakan cadangan pangan desa, serta model pemberdayaan petani. Ungkapan Tômang Kôdûh Ngôkôs menjadi bukti bahwa dari tanah yang keras pun, masyarakat Madura mampu membangun peradaban etos kerja dan ketahanan pangan, yang hari ini semakin relevan, bukan semakin usang.
Pada dimensi politik, Tômang Kôdûh Ngôkôs, akan membentuk karakter sosial yang mandiri secara ekonomi, tidak mudah dikendalikan oleh pihak luar, serta memiliki pola resistensi khas terhadap tekanan politik maupun ekonomi. Dengan demikian Masyarakat Madura memiliki kemandirian politik karena tidak terlalu bergantung pada bantuan ekonomi dari elite. Inilah kemudian, mengapa masyarakat Madura dikenal tegas dalam menentukan pilihan politik dan memiliki solidaritas yang tinggi di tingkat komunitas, dan menciptakan politik subsistensi, yaitu pola di mana masyarakat bertahan melalui cadangan sendiri sehingga tidak mudah dipengaruhi oleh dinamika kekuasaan yang berubah-ubah.
Tômang Kôdûh Ngôkôs bukan hanya kearifan masa lalu, melainkan modal budaya yang terus hidup dan membentuk identitas orang Madura. Melalui nilai kerja keras, hemat, dan mandiri, tradisi ini tetap menjadi fondasi ketahanan pangan sekaligus pilar politik yang memperkuat struktur sosial masyarakat Madura dalam menghadapi perubahan zaman, yang dapat menciptakan ekosistem pertanian yang lebih tangguh, masyarakat dengan etos kerja tinggi, serta stabilitas sosial-politik yang lebih kuat.





