Ulul Laily, Dosen Muda yang Pintar Cairkan Suasana Kelas, Posisikan Diri sebagai Teman

Harmoni284 views

KABAR MADURA | Humble, periang, dan asyik; itulah yang tergambar dalam diri Ulul Laily. Dosen muda yang mampu memikat para mahasiswanya untuk antusias belajar Bahasa Inggris. Usianya masih 25 tahun. Namun memiliki kemampuan mengajar yang baik. Dara cantik asal Kelurahan Kowel itu mengaku, menjadi dosen suatu hal yang tidak terpikirkan sebelumnya. Tetapi, dia cukup menikmati setiap proses yang dilaluinya.

SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN

Tahun 2024, yakni saat usianya 24 tahun, Dewi Fortuna berpihak pada Ulul. Ia mendapat kesempatan untuk menjadi dosen Bahasa Inggris di Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan. Ada kesan tersendiri dalam mengajar di kelas, yang notabene usia mahasiswanya tidak terpaut jauh dengannya. Bagi Ulul, hal itulah yang menjadi menarik setiap kali masuk kelas.

“Kebetulan saya mengajar di semester tiga. Tentu banyak guyonan-guyonan anak muda. Tapi, semua itu tergantung bagaimana cara kita bersikap dan menyikapi,” ujarnya, Rabu (29/1/2025).

Bagi lulusan cumlaude S2 (Universitas Negeri Surabaya (UNESA) tersebut, selama mahasiswanya menaruh respect, tidak ada yang perlu dipersoalkan. Ulul memiliki cara tersendiri untuk mendidik mahasiswanya tanpa ada rasa canggung. Kemampuannya yang mudah beradaptasi, membuat Ulul bisa dengan mudah mencairkan suasana dan membuat anak didiknya nyaman belajar.

“Cita-cita awal sebenarnya dokter. Tapi waktu itu daftar di beberapa kampus yang ada fakultas kedokterannya ditolak. Jadi banting setir ke pendidikan, khususnya pendidikan Bahasa Inggris. Kebetulan punya basic di bahasa Inggris juga,” jelas lulusan terbaik S1 IAIN Madura itu.

Kata Ulul, menjadi dosen tidak cukup hanya dengan memberikan mata kuliah sesuai jadwal. Perlu juga berperan sebagai teman bagi mahasiswa untuk sekadar mendengarkan ceritanya. Dengan begitu, alumnus S1 IAIN Madura tersebut bisa memberikan insight baik yang mudah diterima oleh para mahasiswanya.

Ulul mengaku, dengan memposisikan diri sebagai teman, cukup mempermudah dalam memberikan arahan kepada para mahasiswanya. Karirnya sebagai dosen muda, tak jarang  terkadang ia disangka seorang mahasiswa. Namun hal itu tidak membuatnya jenuh ataupun kesal.

“Mereka tidak hanya berkonsultasi soal mata kuliah saja. Tapi persoalan di luar pelajaran pun mereka konsultasikan,” tutup gadis berkacamata itu. (din)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *